PubMed Media Kesehatan


Cara Memilih Suplemen Herbal dengan Benar

Obat herbal atau suplemen herbal bukanlah hal yang asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Obat-obatan tersebut mudah ditemukan di mana-mana, bisa dibuat sendiri, dan mungkin sudah dikonsumsi secara turun-temurun sejak ratusan tahun lalu. Jika Anda ingin mengonsumsi suplemen herbal, teliti dulu sebelum membeli.

Suplemen herbal yang ada di Indonesia beragam jenisnya, mulai dari ramuan yang harus diperas, diseduh, atau direbus dan diminum airnya, ekstrak tanaman, pil, kapsul, tablet, bubuk, hingga suplemen herbal dalam bentuk cair, contohnya jus Tahitian noni. Selain itu, tanaman tertentu, seperti kayu secang, kumis kucing, ashwagandha, atau cordyceps, juga kerap dikonsumsi sebagai suplemen atau teh herbal. 

Berbagai pilihan obat atau suplemen herbal tersebut diyakini mampu menjaga atau meningkatkan kesehatan, dan bahkan mengobati banyak penyakit. Ramuan herbal tertentu juga diklaim dapat membantu proses pembuangan racun atau detoksifikasi tubuh.

Kini, banyak orang yang memadukan suplemen herbal tersebut dengan pengobatan medis modern untuk menyembuhkan penyakit yang diderita. Alasannya adalah karena obat atau suplemen herbal terbuat dari bahan alami, bukan campuran kimia.

Namun meski alami, obat atau suplemen herbal belum tentu cocok untuk semua orang dan berpotensi menyebabkan masalah lain, misalnya:

  • Semua ramuan herbal bisa memiliki efek samping. Apa pun yang cukup kuat untuk menghasilkan efek positif, seperti menurunkan kolesterol atau darah tinggi, juga cukup kuat untuk membawa risiko yang tidak diinginkan.
  • Obat dan suplemen herbal memiliki efek interaksi dengan pengobatan tertentu yang berpotensi mengurangi efek kerja obat, memperkuat risiko terjadi efek samping, hingga mengganggu metabolisme obat di dalam tubuh.
  • Tidak semua obat herbal terdaftar dan tersertifikasi.
  • Bukti keefektifan obat herbal secara medis (penelitian ilmiah/uji klinis) pada umumnya sangat terbatas.

Suplemen herbal secara umum dikategorikan sebagai jenis suplemen makanan tradisional. Karenanya, studi efektivitas, dosis, dan efek sampingnya pun melalui regulasi yang berbeda dengan studi pada obat secara umum. Oleh karena itu, sebelum membeli obat atau suplemen herbal disarankan untuk melakukan berbagai hal berikut:

  • Konsultasilah dengan dokter sebelum membeli atau mengonsumsi obat herbal.
  • Periksa apakah produk sudah terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) Republik Indonesia. Anda bisa melakukan pengecekan dengan membuka situs ini.
  • Teliti perusahaan yang membuat produk herbal
  • Teliti apakah produk tersebut membuat klaim yang aneh atau sulit dibuktikan.
  • Periksa apakah produk tersebut telah melalui uji klinis yang ditentukan oleh pemerintah. Teliti juga apakah penelitian tersebut dilakukan dengan benar.
  • Periksa apakah di label produk terdapat informasi tentang bahan baku obat, efek sampingnya, formula standar, petunjuk pengonsumsian, dan peringatan penggunaan. Cek juga apakah informasi pada label tersebut jelas dan mudah dibaca.
  • Cek apakah ada nomor telepon, alamat, atau situs yang terdaftar sehingga Anda sebagai konsumen dapat mengetahui lebih banyak informasi tentang produk tersebut.
  • Pelajari sebanyak mungkin tentang ramuan herbal yang dikonsumsi dengan berkonsultasi pada dokter dan menghubungi produsen suplemen herbal untuk mendapatkan informasi.
  • Jika Anda menggunakan suplemen herbal, ikuti petunjuk label secara hati-hati dan gunakan sesuai dosis yang dianjurkan.
  • Perhatikan efek samping dan temui dokter jika terjadi reaksi alergi.

Terakhir, perlu diingat penggunaan produk herbal sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter terlebih dahulu jika terdapat beberapa kondisi seperti:

  • Mengonsumsi obat lain. Meskipun suplemen ini diyakini lebih aman karena berbahan herbal dan alami, kandungan aktif dari suplemen herbal bisa jadi merupakan senyawa kimia aktif. Kandungan ini dapat berinteraksi dengan obat lain dan memengaruhi kinerja serta metabolisme obat di dalam tubuh.
  • Memiliki kondisi kesehatan serius, seperti penyakit hati atau ginjal.
  • Harus menjalani operasi.
  • Hamil atau menyusui.
  • Orang tua lanjut usia.
  • Anak-anak.
  • Riwayat alergi dengan produk herbal.

Keputusan untuk memilih produk herbal perlu disesuaikan dengan beberapa faktor seperti: efek klinis yang terbukti berkhasiat dan didukung oleh bukti dari penelitian yang sesuai standar, efek samping serta risiko penggunaan produk herbal, dan kesesuaian harga. So, sebelum Anda mengonsumsi obat atau suplemen herbal apa pun, sangat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Misalnya, tumbuhan herbal, seperti bunga daffodil yang dipercaya bisa mengobati banyak kondisi, ternyata bisa menyebabkan keracunan. Nah, jangan sampai karna terburu-buru ingin mengonsumsi bahan herbal, kamu justru mengalami efek samping yang buruk, ya.




Diabetes - Gejala, penyebab dan mengobati

Diabetes adalah penyakit kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Glukosa merupakan sumber energi utama bagi sel tubuh manusia. Akan tetapi, pada penderita diabetes, glukosa tersebut tidak dapat digunakan oleh tubuh.

Kadar gula (glukosa) dalam darah dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi pankreas. Namun, pada penderita diabetes, pankreas tidak mampu memproduksi insulin sesuai kebutuhan tubuh. Tanpa insulin, sel-sel tubuh tidak dapat menyerap dan mengolah glukosa menjadi energi.

PubMed-diabetes

Glukosa yang tidak diserap sel tubuh dengan baik akan menumpuk dalam darah. Kondisi tersebut dapat menimbulkan berbagai gangguan pada organ tubuh. Jika tidak terkontrol dengan baik, diabetes dapat menimbulkan komplikasi yang berisiko mengancam nyawa penderitanya.

Penyebab Diabetes

Secara umum, diabetes dibedakan menjadi dua, yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2. Berikut adalah penjelasannya:

Diabetes tipe 1

Diabetes tipe 1 terjadi ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang dan menghancurkan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Hal ini menyebabkan kadar glukosa darah meningkat sehingga memicu kerusakan pada organ-organ tubuh.

Diabetes tipe 1 dikenal juga dengan diabetes autoimun. Penyebab diabetes tipe 1 masih belum diketahui secara pasti. Namun, ada dugaan penyakit ini terkait dengan faktor genetik dan faktor lingkungan.

Diabetes tipe 2

Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang paling banyak terjadi, yakni sekitar 90–95%. Diabetes tipe 2 terjadi ketika sel-sel tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin sehingga insulin yang dihasilkan tidak bisa digunakan dengan baik. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah resistensi insulin.

Selain kedua jenis diabetes tersebut, ada jenis diabetes yang biasa terjadi pada ibu hamil, yakni diabetes gestasional. Diabetes jenis ini disebabkan oleh perubahan hormon pada masa kehamilan, tetapi biasanya gula darah penderita akan kembali normal setelah masa persalinan.

Faktor r isiko d iabetes

Seseorang akan lebih berisiko terkena diabetes tipe 1 jika memiliki faktor risiko berikut:

  • Berusia 4–7 tahun atau 10–14 tahun
  • Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1
  • Menderita penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus
  • Menderita penyakit autoimun, seperti penyakit Grave, penyakit Hashimoto, dan penyakit Addison
  • Mengalami cedera pada pankreas akibat infeksi, tumor, cedera, kecelakaan, atau efek samping setelah operasi besar

Sementara itu, diabetes tipe 2 lebih berisiko terjadi pada seseorang dengan faktor-faktor berikut:

  • Berusia lebih dari 45 tahun
  • Memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 2
  • Jarang beraktivitas fisik atau berolahraga
  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas
  • Menderita prediabetes
  • Menderita kolesterol tinggi
  • Menderita tekanan darah tinggi (hipertensi)

Khusus pada wanita, ibu hamil yang menderita diabetes gestasional dapat lebih mudah mengalami diabetes tipe 2. Selain itu, wanita yang memiliki riwayat penyakit polycystic ovarian syndrome (PCOS) juga lebih mudah mengalami diabetes tipe 2.

Gejala Diabetes

Diabetes tipe 1 dapat berkembang dengan cepat dalam beberapa minggu atau bahkan beberapa hari saja. Sedangkan pada diabetes tipe 2, banyak penderitanya yang tidak menyadari bahwa mereka telah menderita diabetes selama bertahun-tahun, karena gejalanya cenderung tidak spesifik.

Beberapa ciri-ciri penyakit gula atau diabetes tipe 1 dan tipe 2 meliputi:

  • Sering merasa haus atau sangat lapar
  • Sering buang air kecil, terutama pada malam hari
  • Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Penurunan massa otot
  • Pandangan kabur
  • Urine mengandung keton
  • Tubuh mudah lelah dan lemas
  • Luka menjadi lebih sulit sembuh
  • Mudah mengalami infeksi, seperti di gusi, kulit, vagina, atau saluran kemih

Selain itu, ada beberapa gejala lain yang juga bisa dialami penderita diabetes, antara lain:

  • Mulut kering
  • Gatal-gatal di kulit atau timbul prurigo
  • Disfungsi ereksi atau impotensi
  • Rasa terbakar, kaku, dan nyeri pada kaki
  • Hipoglikemia reaktif, yaitu hipoglikemia yang terjadi beberapa jam setelah makan akibat produksi insulin yang berlebihan
  • Bercak-bercak hitam di sekitar leher, ketiak, dan selangkangan, (akantosis nigrikans) yang menjadi tanda resistensi insulin

Sementara itu, ada juga beberapa orang yang mengalami prediabetes, yaitu kondisi ketika glukosa dalam darah berada di atas rentang normal tetapi tidak cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes. Meski demikian, seorang penderita prediabetes juga dapat menderita diabetes tipe 2 jika tidak ditangani dengan baik.

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala utama diabetes, yaitu:

  • Sering merasa haus
  • Mudah lelah
  • Lebih sering buang air kecil daripada biasanya, terutama pada malam hari
  • Penurunan berat badan dan kehilangan massa otot
  • Gatal di sekitar penis atau vagina
  • Penyembuhan luka terasa lambat
  • Sering mengalami sariawan
  • Penglihatan kabur

Jika Anda memiliki faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena diabetes, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan gula darah rutin. Tujuannya adalah agar penyakit ini dapat terdeteksi dan ditangani sejak dini.

Diagnosis Diabetes

Gejala diabetes biasanya berkembang secara bertahap, kecuali diabetes tipe 1 yang gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba. Namun, karena diabetes umumnya tidak terdiagnosis pada awal kemunculannya, orang-orang yang berisiko terkena penyakit ini dianjurkan menjalani pemeriksaan rutin, terutama pada kelompok berikut:

  • Orang yang berusia di atas 45 tahun
  • Wanita yang pernah mengalami diabetes gestasional saat hamil
  • Orang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) di atas 25
  • Orang yang sudah didiagnosis menderita prediabetes

Tes gula darah merupakan pemeriksaan yang mutlak dilakukan untuk mendiagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2. Hasil pengukuran gula darah akan menunjukkan apakah seseorang menderita diabetes atau tidak. Dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani tes gula darah pada waktu dan dengan metode tertentu.

Beberapa metode tes gula darah yang dapat dijalani oleh pasien, antara lain:

1. Tes gula darah sewaktu

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada jam tertentu secara acak. Tes ini tidak mengharuskan pasien untuk berpuasa terlebih dahulu.

Jika hasil tes gula darah sewaktu menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih, pasien dapat didiagnosis menderita diabetes.

2. Tes gula darah puasa

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa darah pada saat pasien berpuasa. Pasien akan diminta berpuasa terlebih dahulu selama 8 jam sebelum menjalani tes.

Hasil tes gula darah puasa dapat dikatakan normal bila kadar gula darah pasien kurang dari 100 mg/dL. Sedangkan hasil tes gula darah puasa di antara 100–125 mg/dL menunjukkan pasien menderita prediabetes.

Sementara itu, hasil tes gula darah puasa 126 mg/dL atau lebih menunjukkan bahwa pasien menderita diabetes.

3. Tes toleransi glukosa

Pasien akan terlebih dahulu diminta untuk berpuasa selama semalam, kemudian menjalani tes gula darah puasa. Selanjutnya, pasien akan diminta meminum larutan gula khusus. Sampel gula darah pasien akan diambil kembali 2 jam setelah minum larutan gula.

Hasil tes toleransi glukosa di bawah 140 mg/dL menunjukkan kadar gula darah normal. Sementara hasil tes tes dengan kadar gula 140–199 mg/dL menandakan kondisi prediabetes.

Pasien dapat dikatakan menderita diabetes jika tes toleransi glukosa menunjukkan kadar gula 200 mg/dL atau lebih.

4. Tes HbA1C (glycated haemoglobin test)

Tes ini bertujuan untuk mengukur kadar glukosa rata-rata pasien selama 2–3 bulan terakhir. Tes ini mengukur kadar gula darah yang terikat pada hemoglobin, yaitu protein yang berfungsi membawa oksigen dalam darah. Dalam tes HbA1C, pasien tidak perlu menjalani puasa terlebih dahulu.

Hasil tes HbA1C di bawah 5,7 % merupakan kondisi normal, sedangkan hasil tes 5,7–6,4% menunjukkan kondisi prediabetes. Sementara hasil tes HbA1C di atas 6,5% menandakan bahwa pasien menderita diabetes.

Di samping tes HbA1C, pemeriksaan estimasi glukosa rata-rata (eAG) juga bisa dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah dengan lebih akurat. Jika pasien didiagnosis menderita diabetes, dokter akan merencanakan metode pengobatan yang akan dijalani.

Khusus pada pasien yang dicurigai menderita diabetes tipe 1, dokter akan menyarankan tes autoantibodi untuk mendeteksi antibodi yang merusak organ dan jaringan tubuh, termasuk pankreas.

Pengobatan Diabetes

Pengobatan diabetes tergantung pada jenis diabetes yang dialami oleh pasien. Berikut ini adalah beberapa metode pengobatan diabetes yang dapat dilakukan:

Obat-obatan

Pada diabetes tipe 1, pasien akan membutuhkan terapi insulin untuk mengatur gula darah sehari-hari. Beberapa pasien diabetes tipe 2 juga disarankan untuk menjalani terapi insulin untuk mengatur gula darah.

Insulin tambahan biasanya akan diberikan melalui suntikan, bukan dalam bentuk obat oral. Dokter akan mengatur jenis dan dosis insulin yang digunakan, serta memberitahu cara menyuntiknya.

Pada kasus diabetes tipe 1 yang berat, dokter akan merekomendasikan prosedur transplantasi pankreas untuk mengganti pankreas yang rusak. Pasien diabetes tipe 1 yang berhasil menjalani transplantasi tersebut tidak memerlukan lagi terapi insulin, tetapi harus mengonsumsi obat imunosupresif secara rutin.

Pada pasien diabetes tipe 2, dokter akan meresepkan obat-obatan, salah satunya adalah metformin. Metformin berfungsi menurunkan produksi glukosa dari hati dan membantu tubuh dalam mengolah insulin secara efektif.

Dokter juga dapat memberikan suplemen atau vitamin guna mengurangi risiko terjadinya komplikasi. Misalnya, pasien diabetes yang sering mengalami gejala kesemutan akan diberikan vitamin neurotropik.

Vitamin neurotropik umumnya terdiri dari vitamin B1, B6, dan B12. Vitamin-vitamin ini bermanfaat untuk menjaga fungsi dan struktur saraf tepi. Hal ini sangat penting untuk pasien diabetes tipe 2 agar terhindar dari komplikasi neuropati diabetik yang cukup sering terjadi.

Perubahan pola hidup

Pasien dianjurkan untuk mengatur pola makan dengan memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein dari biji-bijian, serta makanan rendah kalori dan lemak. Pilihan makanan untuk penderita diabetes juga sebaiknya benar-benar diperhatikan.

Bila perlu, pasien juga dapat mengganti asupan gula dengan pemanis yang lebih aman, seperti sorbitol atau stevia. Pasien dan keluarganya juga dapat melakukan konsultasi gizi dan pola makan dengan dokter guna mengatur pola makan sehari-hari.

Untuk membantu mengubah gula darah menjadi energi dan meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin, pasien dianjurkan untuk berolahraga secara rutin, setidaknya 150 menit dalam seminggu. Pasien juga dapat berkonsultasi dengan dokter mengenai pilihan olahraga dan aktivitas fisik yang sesuai.

Pasien harus mengontrol gula darahnya secara disiplin melalui pola makan sehat agar gula darah tidak meningkat hingga di atas normal. Selain itu, pasien juga akan diberikan jadwal untuk menjalani tes HbA1C secara mandiri guna memantau kadar gula darah selama 2–3 bulan terakhir.

Tes gula darah mandiri

Tes gula darah mandiri dilakukan sebanyak minimal 4 kali dalam sehari, yaitu pada setiap sebelum makan dan sebelum tidur, terutama bagi yang menjalani terapi insulin. Frekuensi tes yang dilakukan tergantung pada anjuran dari dokter. Setelah itu, hasil tes akan dicatat dan catatan tersebut perlu dibawa ketika kontrol ke dokter.

Komplikasi Diabetes

Diabetes menimbulkan berbagai komplikasi, baik yang terjadi mendadak (akut) maupun dalam jangka panjang (kronis). Komplikasi akut yang dapat terjadi pada penderita diabetes adalah ketoasidosis diabetik dan hyperosmolar hyperglycemic syndrome (HHS).

Sejumlah komplikasi yang dapat muncul akibat diabetes tipe 1 dan 2 adalah:

Diabetes akibat kehamilan juga dapat menimbulkan komplikasi pada ibu hamil dan bayi, contohnya adalah preeklamsia. Sementara itu, beberapa komplikasi yang dapat muncul pada bayi adalah:

Pencegahan Diabetes

Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah karena pemicunya belum diketahui. Sementara itu, diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional dapat dicegah, yaitu dengan pola hidup sehat. Beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah diabetes di antaranya:

  • Mengatur frekuensi dan menu makanan menjadi lebih sehat
  • Rutin berolahraga dan melakukan aktivitas fisik
  • Menjaga berat badan ideal
  • Beristirahat dan tidur yang cukup
  • Berhenti merokok
  • Menghindari konsumsi minuman beralkohol
  • Mengelola stres dengan baik
  • Rutin menjalani pengecekan gula darah, setidaknya sekali dalam 1 tahun



Fisioterapi, Jenis dan Kondisi yang Memerlukannya

Fisioterapi adalah tindakan rehabilitasi untuk memulihkan keterbatasan fisik akibat cedera atau penyakit. Fisioterapi bisa dilakukan pada pasien dari semua rentang usia dengan berbagai macam tujuan, misalnya untuk meredakan sakit punggung, persiapan olahraga, dan persalinan.

Tujuan fisioterapi adalah mengembalikan fungsi tubuh yang normal setelah terkena penyakit atau cedera. Jika tubuh menderita penyakit atau cedera permanen, fisioterapi dapat dilakukan untuk mengurangi dampaknya. Tindakan fisioterapi bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik itu penanganan secara manual maupun menggunakan alat.

Berbagai Kondisi yang Membutuhkan Fisioterapi

Berikut ini adalah berapa kondisi pasien yang bisa dibantu dengan perawatan fisioterapi berdasarkan sistem tubuh:

Gangguan sistem saraf

Beberapa kondisi terkait sistem saraf, seperti stroke, multiple sclerosis, dan penyakit Parkinson memerlukan fisioterapi. Hal ini karena gangguan saraf akibat penyakit-penyakit tersebut biasanya menyebabkan gangguan fungsi tubuh, seperti susah bicara dan susah bergerak.

Gangguan pada otot kerangka tubuh

Kondisi yang diakibatkan oleh gangguan pada otot, tulang, dan sendi, misalnya nyeri punggung, kram kaki, cedera karena olahraga, serta arthritis, membutuhkan fisioterapi agar bisa pilih lebih cepat. Pemulihan pascaoperasi pada tulang dan otot juga sering kali memerlukan fisioterapi.

Penyakit kardiovaskular

Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (sistem kardiovaskular) yang bisa dibantu dengan fisioterapi adalah penyakit jantung kronis dan rehabilitasi setelah serangan jantung. Dengan fisioterapi, hidup pasien setelah operasi akan lebih berkualitas karena adanya dukungan fisik dan emosi.

Gangguan pernapasan

Asma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan fibrosis kistik adalah beberapa penyakit terkait sistem pernapasan yang gejalanya bisa diringankan melalui fisioterapi.

Seorang fisioterapis dapat memberikan serangkaian metode mengenai bagaimana cara tubuh bernapas lebih baik dan bagaimana cara mengontrol gejala asma, seperti batuk-batuk dan kesulitan bernapas.

Mengenal Bentuk Perawatan Fisioterapi

Anda mungkin penasaran bagaimana cara seorang fisioterapis melakukan perawatan kepada para pasien yang memiliki gangguan kesehatan di atas. Tentunya, terapi ini akan direkomendasikan melalui serangkaian pemeriksaan, diagnosis, dan penanganan masalah kesehatan yang muncul di tubuh pasien.

Berikut ini adalah beberapa metode atau bentuk perawatan fisioterapi yang biasanya diterapkan ke pasien:

1. Program latihan

Terapi ini melibatkan pasien untuk aktif melakukan gerakan sehingga ia kembali terbiasa dengan fungsi normal tubuhnya. Fisioterapi juga bisa membantu pasien dengan mengoreksi teknik berolahraga yang salah hingga menyebabkan cedera.

Beberapa terapi yang termasuk dalam program ini antara lain teknik memperbaiki postur tubuh, gerakan memperkuat otot, senam atau olahraga, dan peregangan otot.

2. Teknik elektroterapi

Terapi ini menggunakan alat dengan daya listrik atau disebut juga dengan terapi listrik. Beberapa terapi jenis ini antara lain terapi saraf dengan stimulasi elektrik (TEN), terapi stimulasi listrik melalui jaringan lemak (PENS), serta metode PENS dengan memadukan teknik akupuntur dan terapi listrik.

Teknik elektroterapi umumnya direkomendasikan untuk pemulihan pascaoperasi, nyeri radang sendi, nyeri tulang belakang, nyeri saraf wajah, dan nyeri pascapersalinan.

3. Fisioterapi manual

Yang termasuk fisioterapi jenis ini adalah pijat, peregangan, mobilisasi, dan manipulasi sendi. Fisioterapi manual digunakan untuk membantu relaksasi, mengurangi nyeri, dan meningkatkan fleksibilitas anggota gerak tubuh yang terganggu.

4. Terapi okupasi

Terapi okupasi adalah bentuk terapi yang membantu pasien dengan keterbatasan atau ketidakmampuan fisik, sensorik, atau kognitif (pikiran) agar dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik. Terapi ini juga akan mengajarkan cara menggunakan alat bantu dengan tepat.

Selain yang sudah disebut di atas, ada metode fisioterapi lain yang dilakukan menggunakan alat bantu atau teknik khusus. Beberapa metode yang biasa dipakai antara lain hidroterapi, terapi ultrasound, terapi suhu (panas atau dingin), dan akupuntur.

Selain metodenya yang lengkap dan spesifik, fisioterapi juga bisa dilakukan dengan fleksibel. Artinya, pasien bisa melakukan fisioterapi di mana saja sesuai dengan kemampuannya, apakah di rumah atau di rumah sakit dengan layanan fisioterapi.

Anda bahkan bisa melakukan fisioterapi sendiri, tetapi jangan lupa untuk meminta anjuran dan arahan dari dokter rehabilitasi medis terlebih dahulu. Dokter nantinya akan menentukan jenis, cara, intensitas, dan frekuensi fisioterapi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan Anda.




Tamoxifen - Manfaat, dosis dan efek samping

Tamoxifen adalah obat untuk mengobati kanker payudara. Obat ini juga digunakan untuk menurunkan risiko terjadinya kanker payudara pada wanita yang memiliki risiko tinggi, misalnya karena adanya riwayat kanker payudara di dalam keluarga.

Tamoxifen bekerja dengan cara menghambat efek dari estrogen di payudara. Beberapa jenis kanker payudara membutuhkan hormon estrogen untuk berkembang. Cara kerja ini bisa digunakan dalam pengobatan kanker payudara dan pencegahan terjadinya kanker payudara pada perempuan yang berisiko tinggi.

Tamoxifen - alodokter

Selain itu, tamoxifen juga dapat merangsang ovulasi, sehingga bisa digunakan dalam pengobatan infertilitas pada perempuan.

Merek dagang tamoxifen: Tamofen

Apa Itu Tamoxifen

Golongan Obat resep
Kategori Antiestrogen
Manfaat Menangani dan menurunkan risiko terjadinya kanker payudara
Dikonsumsi oleh Dewasa
Tamoxifen untuk ibu hamil dan menyusui Kategori D: Ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa.

Belum diketahui apakah tamoxifen dapat terserap ke dalam ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa memberi tahu dokter.

Bentuk obat Tablet salut selaput

Peringatan Sebelum Mengonsumsi Tamoxifen

Ikuti anjuran dan saran dokter selama menjalani pengobatan dengan tamoxifen. Sebelum mengonsumsi obat ini, Anda perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki. Tamoxifen tidak boleh digunakan oleh seseorang yang alergi terhadap obat ini.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang menderita penyakit hati, gangguan pembekuan darah, stroke, emboli paru, trombosis vena dalam, kolesterol tinggi, trigliserida tinggi, diabetes, tekanan darah tinggi, atau katarak.
  • Beri tahu dokter jika Anda diharuskan untuk tidak banyak bergerak untuk sementara atau imobilisasi, sedang menjalani pengobatan dengan obat pengencer darah, atau memiliki kebiasaan merokok.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan. Tamoxifen tidak boleh digunakan oleh perempuan yang sedang hamil. Konsultasikan jenis alat kontrasepsi yang efektif dengan dokter untuk mencegah kehamilan.
  • Beri tahu dokter bahwa Anda sedang mengonsumsi tamoxifen jika akan menjalani tindakan operasi, termasuk operasi gigi.
  • Konsultasikan dengan dokter jika Anda atau keluarga memiliki riwayat kanker, karena tamoxifen bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker endometrium, kanker hati, atau kanker rahim.
  • Beri tahu dokter jika Anda mengalami gangguan menstruasi atau mengalami perdarahan dari vagina di luar siklus menstruasi.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat, suplemen, atau produk herbal.
  • Segera temui dokter jika terjadi reaksi alergi obat, efek samping yang serius, atau overdosis setelah mengonsumsi tamoxifen.

Dosis dan Aturan Pakai Tamoxifen

Dosis tomoxifen yang diresepkan dokter dapat berbeda pada tiap pasien. Berikut ini adalah dosis tamoxifen berdasarkan tujuan pengobatan:

Tujuan: Menangani kanker payudara

  • Dosisnya 20–40 mg per hari. Dosis di atas 20 mg biasanya dibagi menjadi 2 kali sehari

Tujuan: Mengurangi risiko kanker payudara pada wanita berisiko tinggi

  • Dosisnya 20 mg per hari, selama 5 tahun.

Tujuan: Mengatasi infertilitas akibat kegagalan ovulasi pada wanita dengan menstruasi teratur

  • Dosis awal 20 mg per hari, diberikan pada hari ke 2­–5 siklus haid. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 40–80 mg per hari pada siklus berikutnya.

Tujuan: Mengatasi infertilitas akibat kegagalan ovulasi pada wanita dengan menstruasi yang tidak teratur

  • Dosis awal 20 mg per hari. Bila diperlukan, dosis bisa dinaikkan jadi 40–80 mg per hari. Jika terjadi menstruasi, pengobatan selanjutnya dilakukan pada hari ke-2 siklus haid.

Cara Mengonsumsi Tamoxifen dengan Benar

Ikuti anjuran dokter dan baca informasi yang tertera pada pada label kemasan obat sebelum mengonsumsi tamoxifen. Jangan mengurangi atau menambah dosis tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter.

Tamoxifen dapat dikonsumsi sebelum atau setelah makan. Telan tablet secara utuh dengan bantuan segelas air putih. Jangan menghancurkan atau mengunyah tablet.

Gunakan tamoxifen secara rutin agar pengobatan maksimal. Jangan menghentikan penggunaan obat tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Jika lupa mengonsumsi tamoxifen, disarankan untuk segera meminumnya bila jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya belum terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Simpan tamoxifen di dalam suhu ruangan dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Jauhkan obat ini dari jangkauan anak-anak.

Interaksi Tamoxifen dengan Obat Lain

Berikut ini adalah efek interaksi antarobat yang dapat terjadi jika tamoxifen digunakan bersama obat lain:

  • Peningkatan risiko terjadinya perdarahan jika digunakan dengan obat pengencer darah, seperti warfarin
  • Peningkatan risiko terjadinya penggumpalan darah jika digunakan dengan obat antikanker lain, seperti doxorubicin, daunorubicin, atau vincristine
  • Peningkatan kadar tamoxifen dalam darah jika digunakan dengan bromocriptine
  • Penurunan kadar tamoxifen dalam darah jika digunakan dengan penginduksi CYP3A4, seperti rifampicin, atau aminoglutethimide
  • Penurunan efek terapeutik tamofixen jika digunakan dengan inhibitor CYP2D6, seperti paroxetine, fluoxetine, cinacalcet, bupropion, atau quinidine
  • Penurunan efektivitas tamoxifen jika digunakan dengan pil KB atau obat terapi penggantian hormon
  • Penurunan kadar letrozole dalam darah

Efek Samping dan Bahaya Tamoxifen

Beberapa efek samping yang dapat timbul setelah menggunakan tamoxifen adalah:

Konsultasikan dengan dokter jika efek samping di atas tidak segera mereda atau justru semakin berat. Segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi obat atau efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Gangguan penglihatan, seperti pandangan kabur, tunnel vision, atau nyeri mata
  • Munculnya benjolan baru pada payudara
  • Munculnya perdarahan di luar siklus menstruasi atau gangguan siklus menstruasi
  • Penyakit liver yang bisa ditandai dengan gejala, seperti penyakit kuning, sakit perut, lelah yang berlebihan, atau hilang nafsu makan
  • Tingginya kadar kalsium di dalam darah yang bisa ditandai dengan gejala, seperti konstipasi, otot lemah, nyeri tulang, rasa lelah, bingung, atau lemas

Selain itu, penggunaan tamoxifen juga bisa meningkatkan risiko terjadinya gumpalan darah yang bisa menyumbat pembuluh darah dan menyebabkan terjadinya stroke atau emboli paru.




Batu Empedu - Gejala, penyebab dan mengobati

Penyakit batu empedu atau cholelithiasis adalah kondisi yang ditandai dengan sakit perut mendadak akibat terbentuknya batu di dalam kantung empedu. Penyakit batu empedu juga bisa terjadi di saluran empedu.

Kantung empedu berfungsi memproduksi dan menyimpan cairan empedu, yang berperan penting dalam proses pencernaan, termasuk mencerna kolesterol dari makanan yang dikonsumsi. Sebagian besar batu empedu berasal dari endapan kolesterol yang mengeras dan membentuk batu.

PubMed-batu-empedu

Cholelithiasis (kolelitiasis) umumnya ringan dan tidak membutuhkan penanganan di rumah sakit. Namun, jika batu empedu sampai menyumbat saluran empedu, upaya penanganan perlu segera dilakukan untuk mencegah komplikasi.

Penyebab dan Gejala Penyakit Batu Empedu

Batu empedu diduga muncul akibat endapan kolesterol dan bilirubin di dalam kantung empedu. Endapan tersebut terjadi akibat cairan empedu tidak mampu melarutkan kolesterol dan bilirubin berlebih yang dihasilkan hati.

Gejala utama batu empedu adalah nyeri di bagian kanan atas atau tengah perut yang muncul secara tiba-tiba. Sakit perut juga dapat disertai dengan gejala lain, seperti mual, muntah, hilang nafsu makan, urine berwarna gelap, sakit maag, dan diare.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala di atas, terutama bila disertai demam, menggigil, penyakit kuning, atau sakit perut yang berlangsung lebih dari 8 jam.

Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Batu Empedu

Metode pengobatan batu empedu meliputi operasi pengangkatan kantung empedu (kolesistektomi) atau obat-obatan. Pemberian obat, misalnya asam ursodeoksikolat, biasanya hanya dilakukan jika ukuran batu empedu kecil.

Kolelitiasis dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan tinggi serat dan menghindari makanan bersantan atau berminyak. Upaya pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah membatasi konsumsi minuman beralkohol, berolahraga teratur, memperbanyak konsumsi cairan, dan menghindari diet terlalu ketat.




Cuci Tangan: Pakai Air dan Sabun atau Hand Sanitizer?

Hand sanitizer memang bisa membantu membasmi kuman pada tangan. Namun, bukan berarti kehadirannya dapat menggantikan peran mencuci tangan dengan air dan sabun. Ada aturan penggunaan hand sanitizer yang harus diperhatikan, agar manfaatnya bisa diperoleh secara maksimal.

Kebiasaan mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer selama ini gencar digaungkan, khususnya sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Namun, semenjak hadirnya wabah COVID-19, peran cuci tangan semakin penting dan termasuk salah satu protokol kesehatan untuk mencegah penularan penyakit tersebut.

Ini bukanlah hal yang mengherankan. Pasalnya, tangan bisa menjadi media tempat penyebaran kuman dan virus penyebab ragam penyakit, jika kebersihannya tidak dijaga.

Kapan Harus Menggunakan Air dan Sabun serta Hand sanitizer

Pada dasarnya, membersihkan tangan dengan air dan sabun maupun hand sanitizer sama-sama penting dan bermanfaat untuk menjaga kebersihan tangan. Namun, keduanya memiliki efektivitas yang berbeda.

Efektivitas hand sanitizer dalam membunuh kuman tidak sebaik mencuci tangan menggunakan sabun dan air. Oleh karana itu, penggunaannya lebih dianjurkan ketika Anda sulit mencari sarana untuk mencuci tangan dengan air dan sabun.

Efektivitas handsanitizer dalam membunuh kuman akan lebih efektif, jika tangan Anda dalam keadaan kering dan tidak terlalu kotor. Jika kondisi tangan Anda sangat kotor dan berminyak, seperti usai makan, berkebun, atau berolahraga, hand sanitizer tidak dapat bekerja secara maksimal.

Karena hand sanitizer tidak bisa menggantikan peran dari mencuci tangan dengan air dan sabun, lebih baik Anda membiasakan diri untuk mencuci tangan dengan cara yang konvensional, ya. Selain itu, jangan lupa juga untuk menerapkan cara mencuci tangan yang benar.

Cara Menggunakan Hand sanitizer dengan Benar

Agar efektif membasmi kuman dan virus serta menjaga tangan Anda tetap bersih, Anda perlu menggunakan hand sanitizer dengan benar. Berikut adalah beberapa tipsnya:

  • Pilih hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%.
  • Lepaskan perhiasan dari tangan sebelum menggunakan hand sanitizer.
  • Tuangkan cairan hand sanitizer secukupnya pada satu telapak tangan, lalu gosok ke telapak tangan Anda yang lain.
  • Usap seluruh permukaan tangan, termasuk jari dan sela-selanya, secara merata hingga hand sanitizer
  • Jika tangan Anda sangat kotor, bersihkan dulu dengan air dan sabun, sebelum memakai hand sanitizer.
  • Pilih hand sanitizer yang mengandung pelembap atau gunakan pelembap setelah memakai hand sanitizer untuk mencegah iritasi pada tangan.

Anda dapat membersihkan tangan dengan hand sanitizer sebelum dan setelah mempersiapkan makanan, makan, membersihkan luka, atau menyentuh orang sakit. Anda juga dianjurkan untuk menggunakannya setelah memakai toilet, bersin, batuk, mengganti popok, memegang sampah, atau memegang benda kotor lainnya.

Hati-hati terhadap penggunaan hand sanitizer pada anak-anak. Jangan biarkan mereka memakai hand sanitizer sendiri untuk mencegah cairan ini tertelan.

Jika hand sanitizer tertelan, hal ini berisiko menyebabkan keracunan yang ditandai dengan pusing, mual, muntah, diare, dan sakit perut. Jika hand sanitizer yang tertelan jumlahnya sangat banyak, gejala keracunan yang timbul bisa lebih parah, seperti sesak napas, kejang-kejang, dan koma.

Sebagai kesimpulan, mencuci tangan dengan air dan sabun tetap lebih diutamakan. Ketika Anda sulit mencuci tangan dengan air dan sabun, barulah hand sanitizer bisa menjadi pilihan.




Ketahui Manfaat Humidifier untuk Kesehatan

Penggunaan humidifier mampu menjaga kelempan udara. Meski demikian , Anda harus mem p erhatikan aturan penggunaan humidifier agar manfaat nya bagi kesehatan dapat diperoleh.

Humidifier merupakan alat pelembap udara yang bekerja dengan cara menyemprotkan uap air ke udara. Penggunaan humidifier tidak hanya membuat kelembapan udara terjaga, tapi juga dapat membantu mengatasi iritasi yang dipicu oleh udara kering, seperti kulit kering, bibir pecah-pecah, pilek, hingga sakit tenggorokan.

Namun, perlu diingat bahwa pemakaian humidifier yang berlebihan justru dapat memperburuk gangguan pernapasan.

Memahami Manfaat Humidifier

Penggunaan humidifier mampu menjaga kelembapan udara sehingga membawa ragam manfaat bagi kesehatan, seperti:

1. Mencegah sakit tenggorokan

Sakit tenggorokan bisa terjadi ketika kadar kelembapan di ruangan sangat rendah. Humidifier dapat meringankan kondisi ini dengan cara meningkatkan kelembapan udara dalam ruangan sehingga mempercepat penyembuhan sakit tenggorokan dan mencegahnya terulang kembali.

2. Melembapkan kulit dan bibir pecah-pecah

Penggunaan humidifier dapat membantu mencegah kulit kering dan bibir pecah-pecah, terutama jika Anda sering menghabiskan waktu di ruangan ber-AC. Pasalnya, penggunaan AC dalam waktu yang lama dapat membuat udara menjadi kering sehingga menurunkan kelembapan kulit dan bibir.

3. Mencegah atau mengurangi risiko iritasi mata

Debu dan partikel asing dapat bertebaran dengan sangat cepat saat udara kering sehingga mudah mengiritasi permukaan mata. Dengan menggunakan humidifier, kelembapan udara dapat lebih terjaga sehingga mampu mengurangi penyebaran partikel debu di udara yang memicu iritasi mata.

4. Meredakan flu dan batuk

Flu dan batuk dapat semakin parah jika Anda berada di lingkungan udara yang kering, sehingga penggunaan humidifier dapat membantu meredakan flu dan batuk yang diderita. Bahkan tak hanya itu saja, humidifier juga bermanfaat menghilangkan ketidaknyamanan termasuk hidung mampet, maupun mengatasi hidung tersumbat saat tidur akibat gejala alergi yang sering menyerang saluran pernapasan juga dapat menjadi solusi untuk mengeluarkan dahak secara alami.

5. Mencegah mimisan dan radang tenggorokan

Udara yang terlalu kering juga dapat memicu mimisan, sehingga penggunaan humidifier dapat membantu mencegah sekaligus mengatasi kondisi ini. Selain itu, penggunaan pelembap udara ini juga bisa mencegah Anda dari penyakit radang tenggorokan serta mengobati suara serak yang disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri.

6. Mencegah penularan COVID -19

Penggunaan humidifier diyakini dapat membantu mencegah penularan virus Corana karena penularan COVID-19 akan lebih mudah terjadi pada cuaca yang dingin dan kering. Namun, efektivitas humidifier terkail hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

Idealnya, kelembapan udara dalam ruangan berkisar antara 30 hingga 50 persen. Kelembapan udara yang terlalu rendah bisa menyebabkan kulit menjadi kering dan mengiritasi saluran pernapasan.

Namun, kelembapan yang terlalu tinggi juga tidak baik, karena dapat menyebabkan udara ruangan menjadi pengap dan memicu pertumbuhan jamur, bakteri, serta tungau.

Kekurangan Humidifier

Beberapa tipe humidifier tidak dilengkapi dengan alat pengukur kelembapan, seperti humidistat atau hygrometer. Hal ini membuat Anda perlu untuk mengecek kelembapan udara di ruangan secara manual agar kelembapan udara tetap terjaga.

Jika udara di ruangan terlalu lembap, pertumbuhan bakteri dan jamur yang bisa meningkat dan merusak struktur bangunan.

Selain itu, beberapa tipe humidifier menghasilkan suara yang bising ketika mulai bekerja. Namun, Anda bisa menggantinya dengan model ultrasonik yang lebih tenang.

Di balik kelebihan yang dimiliki humidifier, terdapat pula dampak negatif yang perlu Anda waspadai jika alat ini tidak dijaga kebersihannya, yaitu:

Memicu p ertumbuhan bakteri dan jamur

Humidifier harus dibersihkan secara rutin. Jika Anda malas membersihkannya, Anda berisiko terkena infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh bakteri dan jamur.

Memicu kekambuhan alergi

Humidifier yang kotor justru dapat mengotori udara di dalam ruangan, sehingga dapat menyebabkan kambuhnya gejala alergi dan asma. Oleh karena itu, bersihkanlah humidifier secara rutin dengan cara yang benar.

Tips Membersihkan Humidifier

Dalam membersihkan humidifier, berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan:

1. Bersihkan humidifier setiap 3 hari sekali

Bersihkan bagian tangki humidifier dari endapan mineral dengan menggunakan larutan hidrogen peroksida. Anda disarankan rutin membersihkan tangki humidifier setiap 3 hari sekali agar pertumbuhan jamur dan bakteri terhambat.

2. Selalu bilas tangki setelah dibersihkan

Biasakan untuk membilas tangki dengan air bersih setelah dibersihkan. Ini dilakukan agar tidak ada bahan kimia berbahaya yang masuk ke dalam tangki.

3. Ganti air humidifier secara rutin

Sebelum Anda mengganti air humidifier, hendaknya kosongkan tangki humidifier terlebih dahulu. Kemudian keringkan bagian dalam tangki dan isi kembali dengan air bersih. Sebaiknya ganti air humidifier setiap hari.

4. Gunakan air sulingan atau demineralisasi

Anda disarankan untuk mengganti air humidifier dengan air sulingan (demineralisasi). Hal ini bertujuan untuk mengurangi debu mineral yang ikut dilepaskan ke udara. Selain itu, membersihkan tangki menggunakan air sulingan juga bermanfaat mengurangi endapan mineral yang memicu pertumbuhan bakteri.

Penggunaan humidifier di ruangan yang memiliki tingkat kelembapan rendah memang sangat bermanfaat. Namun, jika Anda memiliki riwayat penyakit pernapasan tertentu, seperti asma, disarankan untuk berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu sebelum memasang humidifier di ruangan rumah Anda.


Search This Blog

Menu Halaman Statis

Contact Form

Name Email * Message *

Category

Popular Posts