PubMed Media Kesehatan


Imunisasi - Jenis, Jadwal, dan Efek Samping

Imunisasi adalah proses untuk membuat seseorang menjadi kebal terhadap suatu penyakit. Proses ini dilakukan melalui pemberian vaksin , biasanya dalam bentuk suntikan. Imunisasi bisa diberikan pada bayi baru lahir, anak-anak, maupun orang dewasa dan lansia.

Imunisasi rutin lengkap merupakan salah satu cara yang efektif dalam mencegah penyebaran penyakit. Di Indonesia, imunisasi rutin lengkap terdiri dari imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan.

Imunisasi - PubMed

Selain imunisasi wajib, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengeluarkan izin pemberian vaksin COVID-19 untuk anak-anak usia 6–11 tahun.

Tujuan dan Indikasi Imunisasi

Imunisasi bertujuan untuk melindungi diri dari berbagai penyakit yang berbahaya atau berisiko menyebabkan kematian. Imunisasi juga bisa menjadi cara untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Hal tersebut penting untuk mencegah penyebaran penyakit pada orang yang tidak bisa menjalani imunisasi. Dengan kata lain, makin banyak orang yang mendapatkan imunisasi, makin sedikit pula orang yang terinfeksi penyakit.

Peringatan dan Larangan Imunisasi

Penting untuk diingat, orang yang pernah mengalami reaksi alergi parah pada imunisasi sebelumnya atau alergi terhadap bahan yang terkandung dalam vaksin tidak boleh menerima imunisasi. Penderita kanker atau penyakit autoimun yang memiliki daya tahan tubuh lemah juga umumnya tidak boleh menjalani imunisasi.

Sebelum Imunisasi

Tidak ada persiapan khusus yang perlu dilakukan oleh ibu dan anak sebelum imunisasi. Meski demikian, ibu dianjurkan untuk membawa buku kesehatan ibu dan anak (buku KIA), atau buku catatan imunisasi, serta identitas diri.

Ketika sampai di tempat imunisasi, beri tahu dokter tentang obat yang sedang dikonsumsi, termasuk produk herbal dan suplemen. Selanjutnya, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan fisik singkat sebelum memberikan imunisasi.

Jenis dan Efek Samping Imunisasi

Ada beberapa jenis vaksin yang diharuskan dalam program imunisasi wajib. Setiap jenis vaksin tersebut bisa menimbulkan efek samping atau kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI). Hal ini biasanya terjadi akibat reaksi alami dari sistem kekebalan tubuh ketika menerima imunisasi.

KIPI yang timbul akibat imunisasi bisa bersifat ringan, seperti rasa tidak enak badan, nyeri ringan, atau demam. Namun, terkadang KIPI bisa juga parah dan menimbulkan reaksi alergi berat, seperti syok anafilaktik. Meski demikian, reaksi berat ini jarang terjadi.

Berikut adalah jenis-jenis vaksin serta KIPI yang ditimbulkan:

1. Hepatitis B

Vaksin hepatitis B diberikan untuk mencegah penularan virus hepatitis B. KIPI yang dapat terjadi pada vaksin hepatitis B adalah:

  • Nyeri di area suntikan
  • Mudah lelah
  • Demam
  • Kulit gatal-gatal dan kemerahan
  • Wajah bengkak

2. Polio

Imunisasi polio diberikan untuk mencegah penyakit polio. Reaksi KIPI imunisasi polio antara lain:

  • Demam
  • Mudah lelah
  • Ruam merah dan gatal-gatal di kulit
  • Hilang nafsu makan

3. BCG

Vaksin BCG diberikan untuk melindungi tubuh dari penyakit tuberkulosis (TB). KIPI pada vaksin BCG adalah:

  • Ruam merah di area suntikan
  • Demam
  • Sakit ketika buang air kecil
  • Sakit perut
  • Muntah

4. DPT

Imunisasi DPT merupakan vaksin gabungan untuk mencegah penyakit difteri, batuk rejan (pertusis), dan tetanus. Pemberian imunisasi DPT dapat menyebabkan KIPI, seperti:

  • Lelah
  • Demam
  • Hilang nafsu makan
  • Muntah
  • Nyeri di area suntikan

5. Hib

Vaksin Hib bertujuan untuk mencegah infeksi bakteri Haemophilus influenza tipe B. Infeksi bakteri ini dapat memicu penyakit, seperti radang selaput otak (meningitis), radang paru-paru (pneumonia), radang sendi (septic arthritis), dan radang di lapisan pelindung jantung (perikarditis).

Reaksi KIPI vaksin Hib meliputi:

  • Bengkak atau kemerahan di area lengan yang disuntik
  • Hilang nafsu makan
  • Mengantuk
  • Demam

6. Campak

Imunisasi campak aman dan efektif untuk mencegah campak. Reaksi KIPI imunisasi campak di antaranya:

  • Nyeri atau bengkak di area lengan yang disuntik
  • Ruam kemerahan
  • Nyeri sendi
  • Demam

7. MMR

Vaksin MMR merupakan vaksin kombinasi untuk melindungi anak dari campak, gondongan, dan rubella. Ketiga kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi berbahaya, seperti meningitis, radang testis (orchitis), atau hilang pendengaran (tuli).

Reaksi KIPI vaksin MMR adalah:

  • Demam selama 2–3 hari
  • Kulit gatal
  • Bengkak, merah, dan sakit di area suntikan

8. PCV

Vaksin PCV (pneumokokus) diberikan untuk mencegah pneumonia, meningitis, dan septikemia, yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Reaksi KIPI PCV antara lain:

  • Bengkak dan kemerahan di area yang disuntik
  • Demam

9. Rotavirus

Vaksinasi ini diberikan untuk mencegah diare akibat infeksi rotavirus. Sama seperti vaksin lain, vaksin rotavirus juga bisa menyebabkan KIPI, seperti:

  • Gatal-gatal
  • Muntah atau mual
  • Diare
  • Mengi atau bengek
  • Jantung berdebar

10. Influenza

Vaksin influenza diberikan untuk mencegah flu. Vaksin ini dapat menimbulkan reaksi KIPI, seperti:

  • Demam
  • Batuk
  • Sakit tenggorokan
  • Nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Sakit di telinga
  • Sesak di dada

11. Tipes

Vaksin ini diberikan untuk mencegah penyakit tipes, yaitu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Reaksi KIPI vaksin tipes antara lain:

  • Gatal-gatal
  • Demam
  • Bengkak di wajah, bibir, atau lidah
  • Lengan yang disuntik terasa nyeri ketika ditekan
  • Sakit kepala

12. Hepatitis A

Sesuai namanya, imunisasi ini bertujuan untuk mencegah hepatitis A yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A. KIPI vaksinasi hepatitis A yang bisa terjadi meliputi:

  • Demam
  • Mual
  • Hilang nafsu makan
  • Sakit kepala
  • Sulit bernapas
  • Bengkak di wajah, bibir, atau lidah
  • Ruam kemerahan atau bengkak di area suntikan

13. Varisela

Imunisasi varisela diberikan untuk mencegah penyakit cacar air, yaitu infeksi yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. KIPI yang bisa terjadi meliputi:

  • Sakit, kemerahan, dan bengkak di area suntikan
  • Benjolan di area yang disuntik
  • Demam

14. HPV

Vaksin HPV diberikan kepada remaja perempuan untuk mencegah kanker serviks. KIPI HPV dapat berupa:

  • Sakit kepala
  • Demam
  • Lengan yang disuntik kemerahan dan terasa nyeri
  • Pingsan

15. Japanese encephalitis

Japanese encephalitis (JE) adalah infeksi virus di otak yang menyebar melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi JE. Beberapa KIPI yang dapat muncul setelah vaksinasi tersebut adalah:

  • Area bekas suntikan kemerahan, bengkak, atau nyeri saat ditekan
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Demam

16. Dengue

Vaksinasi dengue dilakukan untuk mengurangi risiko terkena demam berdarah dan mencegah gejala DBD menjadi parah. KIPI yang dapat terjadi setelah menjalani vaksinasi ini antara lain:

  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Demam
  • Ruam kulit

17. COVID-19

Meski bukan termasuk dalam daftar imunisasi dasar untuk anak, vaksin COVID-19 juga direkomendasikan untuk anak-anak usia 6–11 tahun. Vaksin COVID-19 bisa menimbulkan beberapa reaksi KIPI berikut:

  • Demam
  • Mudah lelah
  • Pegal atau nyeri di sekitar area yang disuntik
  • Sakit kepala
  • Diare
  • Sendi atau otot pegal

Jadwal Imunisasi

Imunisasi rutin lengkap terdiri dari imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan. Berikut adalah rincian jadwal imunisasi rutin lengkap sesuai usia anak:

Imunisasi dasar

  • Bayi baru lahir: Hepatitis B dosis 1
  • Usia 1 bulan: BCG dosis 1
  • Usia 2 bulan: Hepatitis B dosis 2, polio dosis 1 , DTP dosis 1, Hib dosis 1, PCV dosis 1, rotavirus dosis 1
  • Usia 3 bulan: Hepatitis B dosis 2, polio dosis 2, DTP dosis 2, Hib dosis 2, rotavirus dosis 2
  • Usia 4 bulan: Hepatitis B dosis 3, polio dosis 3, DTP dosis 3, Hib dosis 3, rotavirus dosis 3
  • Usia 6 bulan: PCV dosis 2, rotavirus dosis 2, influenza
  • Usia 9 bulan: MR dan JE

Imunisasi lanjutan

  • Usia 12–24 bulan: PCV, varisela, hepatitis B, polio, DTP, Hib, MR/MMR, hepatitis A
  • Usia 2–3 tahun: JE
  • Usia 5–7 tahun: MR/MMR
  • Usia 9–14 tahun: HPV
  • Usia 9–16 tahun: Dengue

Kapan harus ke dokter

Sebelum anak Anda menerima imunisasi, beri tahu dokter jika ia memiliki riwayat alergi, penyakit autoimun, atau kanker. Selain itu, periksakan anak ke dokter apabila muncul gejala KIPI yang tidak kunjung mereda, memberat, atau terdapat keluhan berikut:

  • Bengkak parah atau luka terbuka di area bekas suntikan
  • Demam tinggi bersuhu lebih dari 39oC
  • Tidak mau menyusu atau makan
  • Sangat lemas
  • Kejang
  • Penurunan kesadaran

Setelah Imunisasi

Imunisasi sudah dipastikan aman. Akan tetapi, tidak tertutup kemungkinan akan muncul efek samping atau KIPI seperti yang telah disebutkan di atas. Namun, Anda tidak perlu khawatir, karena KIPI dapat ditangani secara mandiri sesuai gejalanya.

Beberapa cara mengatasi efek samping imunisasi pada anak adalah:

  • Memberikan kompres hangat dan obat penurun panas sesuai resep dokter
  • Memberikan minum lebih banyak
  • Mengganti baju anak dengan yang berbahan tipis dan jangan menyelimutinya
  • Memberikan ASI lebih sering
  • Memastikan anak mengonsumsi makanan bergizi

Segera cari pertolongan dokter di IGD jika muncul gejala-gejala berikut setelah imunisasi:

  • Reaksi anafilaksis, seperti sesak napas, keringat dingin, serta bengkak di mata, bibir maupun lidah, hingga pingsan
  • Perut membesar, rewel, tidak dapat menyusu atau makan, tidak bisa buang air besar dan buang angin
  • Memar yang meluas atau perdarahan di area yang disuntik
  • Bengkak dan timbul nanah pada bagian yang disuntik
  • Kejang



Makanan Penyebab Maag yang Penting untuk Diketahui

Bila Anda sering sakit maag, ada beberapa jenis makanan penyebab maag yang perlu Anda ketahui dan hindari. Jenis makanan tersebut dapat memicu munculnya berbagai gejala maag, seperti nyeri ulu hati, kembung, mual, dan muntah.

Maag atau gastritis adalah kondisi ketika dinding lambung mengalami peradangan. Maag dapat bersifat menahun dan kambuhan (kronis), tetapi bisa juga bersifat sementara dan sembuh dengan sendirinya (akut).

Selain karena makanan tertentu, radang lambung atau sakit maag juga bisa disebabkan oleh infeksi bakteri, gangguan autoimun, serta efek samping obat-obatan, seperti ibuprofen dan aspirin.

Maag pun bisa disebabkan oleh penyakit tertentu, seperti penyakit Crohn, sarkoidosis, dan gastritis granulomatosis. Gejala maag terkadang juga bisa muncul akibat faktor lain, seperti stres, merokok, dan konsumsi minuman beralkohol.

Ketika gejala maag kambuh, penderita maag bisa merasakan beberapa gejala berikut ini:

  • Mual, baik sebelum maupun setelah makan
  • Muntah
  • Sakit perut, khususnya di bagian perut atas atau nyeri ulu hati
  • Kembung dan sering kentut
  • Perut terasa perih
  • Hilang nafsu makan

Berbagai Jenis Makanan Penyebab Maag

Gejala maag sering kali dipicu oleh konsumsi makanan tertentu. Ada banyak jenis makanan dan minuman yang kerap membuat gejala maag kambuh, antara lain:

  • Makanan tinggi lemak trans atau lemak jenuh, misalnya margarin dan gorengan
  • Buah-buahan yang asam, misalnya anggur, jeruk, dan nanas
  • Makanan pedas
  • Makanan olahan atau makanan instan, misalnya sosis, mi, dan pasta
  • Minuman beralkohol
  • Minuman tinggi kafein, seperti kopi atau minuman bersoda
  • Cokelat

Berbagai jenis minuman dan makanan di atas memang dapat memicu gejala maag kambuh. Namun, tidak semua penderita maag akan mengalami kambuhnya gejala ketika mengonsumsi makanan atau minuman tersebut.

Namun, sebagai langkah pencegahan, ada baiknya bila Anda membatasi atau menghindari makanan penyebab maag guna menurunkan risiko kambuhnya gejala.

Jika muncul gejala setelah mengonsumsi makanan penyebab maag, Anda bisa meredakannya dengan mengonsumsi obat pereda asam lambung, seperti antasida.

Apabila obat tersebut tidak berhasil meredakan gejala maag, Anda mungkin perlu mendapatkan obat maag sesuai resep dokter, seperti obat golongan penghambat pompa proton dan antagonis H-2.

Untuk mengobati maag yang disebabkan oleh infeksi bakteri pylori, dokter juga akan meresepkan obat antibiotik.

Makanan Pedas Penyebab Maag

Makanan pedas sering kali dianggap sebagai salah satu makanan penyebab maag. Hal ini karena orang yang mengonsumsi makanan pedas sering kali mengalami sakit perut. Rasa nyeri ini bisa serupa dengan nyeri ketika sakit maag sedang kambuh.

Namun, rasa nyeri pada lambung akibat makanan pedas bukanlah disebabkan oleh gangguan pada tingkat keasaman lambung seperti yang terjadi pada sakit maag, melainkan kandungan capsaicin di dalam makanan pedas.

Capsaicin dapat memicu reaksi iritasi pada dinding lambung, sehingga bisa muncul sensasi yang serupa dengan gejala maag ketika seseorang mengonsumsi makanan pedas.

Secara umum, konsumsi makanan pedas dalam jumlah yang tidak berlebihan, masih dianggap aman untuk lambung. Namun, guna mencegah kambuhnya gejala maag, Anda sebaiknya menjauhi makanan pedas, terutama jika sering mengalami maag setelah mengonsumsi makanan tersebut.

Agar gejala maag tidak kambuh, Anda disarankan untuk makan secara teratur dan menjauhi beberapa jenis minuman dan makanan penyebab maag.

Jika masih sering mengalami gejala maag meski telah menjauhi makanan penyebab maag, sebaiknya konsultasikan hal tersebut dengan dokter agar kondisi yang Anda alami bisa ditangani dengan tepat.




Sindrom Iritasi Usus Besar - Gejala, penyebab dan mengobati

Sindrom iritasi usus besar adalah kumpulan gejala akibat iritasi pada saluran pencernaan. Beberapa gejala yang bisa timbul akibat kondisi ini adalah sakit atau kram perut yang berulang, kembung, diare, atau sembelit. Sindrom iritasi usus besar merupakan kondisi jangka panjang yang bersifat kambuhan.

Sindrom iritasi usus besar atau irritable bowel syndrome (IBS) lebih sering dialami oleh wanita dan biasanya terjadi pada orang berusia di bawah 50 tahun. Munculnya gejala IBS bisa dipicu oleh beragam hal, termasuk stres, konsumsi makanan dan minuman tertentu, sampai perubahan hormonal, misalnya saat menstruasi.

PubMed-irritable-bowel-syndrome

Umumnya, sindrom iritasi usus besar tidak menimbulkan efek berbahaya bagi kesehatan fisik atau sampai mengancam nyawa penderitanya. Namun, seseorang yang mengalami IBS dapat merasa sangat terganggu sehingga berdampak pada kehidupan sehari-harinya.

Penyebab Sindrom Iritasi Usus Besar

Belum diketahui apa yang menyebabkan sindrom iritasi usus besar. Namun, gejala kondisi ini diduga terkait dengan gangguan di saluran pencernaan, termasuk gangguan pergerakan dan kontraksi otot, gangguan pada sistem saraf, peradangan, infeksi, dan perubahan keseimbangan bakteri di dalam usus.

Faktor risiko sindrom iritasi usus besar

Beberapa faktor yang diduga bisa meningkatkan risiko terjadinya sindrom iritasi usus besar atau irritable bowel syndrome (IBS) adalah:

  • Berjenis kelamin perempuan
  • Berusia kurang dari 50 tahun
  • Memiliki riwayat IBS di keluarga
  • Mengalami infeksi bakteri atau virus pada saluran pencernaan
  • Mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, seperti gandum, susu dan produk susu, buah yang asam, serta makanan yang mengandung gas
  • Memiliki kebiasaan makan atau minum dalam jumlah yang besar sekaligus
  • Mengalami stres atau gangguan mental, seperti gangguan panik, kecemasan berlebih, atau depresi
  • Mengalami perubahan hormonal, termasuk menstruasi
  • Menggunakan obat-obatan tertentu, seperti antibiotik atau antidepresan

Gejala Sindrom Iritasi Usus Besar

Sindrom iritasi usus besar dapat menimbulkan keluhan dan gejala berupa:

Gejala ini bisa hilang timbul, mereda dengan sendirinya, memburuk, atau berangsur-angsur membaik. Kondisi ini dapat berlangsung selama beberapa hari, minggu, atau bulan, dan dapat kambuh.

Gejala lain yang bisa muncul pada penderita irritable bowel syndrome adalah:

Irritable bowel syndrome bisa menimbulkan gejala yang berbeda-beda pada tiap penderitanya. Namun, secara umum IBS akan menimbulkan empat pola gangguan saluran pencernaan, yaitu:

  • IBS-D, dengan gejala yang paling menonjol adalah diare
  • IBS-C, dengan gejala yang paling menonjol adalah konstipasi
  • IBS-M, dengan gejala campuran diare dan konstipasi
  • IBS-U, dengan gejala tidak khas dan tidak bisa diklasifikasikan

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami keluhan yang telah disebutkan di atas. Anda juga perlu segera melakukan pemeriksaan ke dokter jika mengalami beberapa tanda bahaya berikut ini:

  • Muntah yang makin sering
  • Kesulitan menelan
  • Berat badan yang turun tanpa penyebab yang pasti
  • Diare di malam hari
  • BAB berdarah
  • Kulit tampak pucat
  • Sesak napas dan jantung berdebar-debar
  • Benjolan pada perut atau perut membengkak
  • Rasa sakit perut yang tidak membaik setelah kentut atau buang air besar

Diagnosis Sindrom Iritasi Usus Besar

Untuk mendiagnosis sindrom iritasi usus besar, dokter menanyakan keluhan yang dialami, riwayat kesehatan, pola makan, dan obat-obatan yang pernah digunakan pasien. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan pada perut pasien.

Beberapa teknik pemeriksaan yang bisa dilakukan adalah melihat atau mengamati apakah ada pembesaran pada perut, melakukan perabaan dan penekanan pada perut untuk mendeteksi nyeri tekan dan benjolan, menepuk perut secara perlahan, serta mendengarkan suara bising usus dengan bantuan stetoskop.

Tidak ada pemeriksaan khusus untuk mendiagnosis IBS, tetapi dokter perlu melakukan pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan penyebab yang lain. Beberapa di antaranya adalah:

  • Tes darah, untuk mendeteksi penyakit celiac dan anemia, melihat kadar elektrolit di dalam darah, dan mendeteksi infeksi serta peradangan yang bisa menyebabkan munculnya gejala
  • Tes feses dengan mengambil sampel tinja, untuk mendeteksi jenis bakteri atau parasit yang bisa menyebabkan peradangan atau infeksi pada saluran pencernaan
  • Pemeriksaan endoskopi, untuk melihat kondisi saluran pencernaan dan mendeteksi kemungkinan infeksi atau kelainan struktur pada saluran pencernaan
  • Tes intoleransi laktosa, untuk mengetahui apakah intoleransi laktosa merupakan penyebab yang mendasari terjadinya keluhan dan gejala

Pengobatan Sindrom Iritasi Usus Besar

Belum ada obat atau penanganan yang bisa menyembuhkan sindrom iritasi usus besar. Namun, pengaturan pola makan dan pemberian obat akan dilakukan untuk meredakan keluhan dan mencegah munculnya gejala.

Selain itu, beberapa metode penanganan irritable bowel syndrome yang akan diberikan oleh dokter adalah:

Obat-obatan

Untuk meredakan gejala pada pasien sindrom iritasi usus besar, dokter dapat memberikan obat-obatan berupa:

Modifikasi pola makan

Pasien juga perlu melakukan modifikasi pola makan, yaitu dengan menghindari, mengurangi, atau justru meningkatkan konsumsi jenis makanan tertentu secara bertahap sesuai dengan gejala yang dialami. Beberapa contoh modifikasi pola makan untuk pasien adalah:

  • Menghindari makanan yang mengandung gas, seperti kacang-kacangan, kol, brokoli, atau permen karet, maupun sparkling water atau minuman bersoda, untuk pasien yang mengalami perut kembung
  • Mengurangi makanan tinggi serat, seperti gandum, dan menghindari makanan yang mengandung pemanis buatan, jika pasien mengalami diare
  • Meningkatkan konsumsi makanan kaya serat, seperti buah tin, oatmeal, wortel, atau apel, jika pasien mengalami sembelit

Perubahan gaya hidup

Selain itu, perubahan gaya hidup juga perlu dilakukan untuk mencegah kambuhnya sindrom iritasi usus besar dan meredakan gejala yang muncul, termasuk perut kembung. Perubahan gaya hidup yang dimaksud meliputi:

  • Beristirahat dan tidur yang cukup, makan tepat waktu, dan tidak merokok
  • Mengonsumsi makanan dengan porsi kecil dan teratur
  • Mengurangi konsumsi minuman beralkohol, berkafein, dan bersoda
  • Tidak mengonsumsi makanan berlemak dan makanan kaleng
  • Minum air putih minimal delapan gelas dalam sehari
  • Mengonsumsi buah dengan porsi yang cukup
  • Mengunyah makanan dengan perlahan dan tidak terburu-buru
  • Menjalani psikoterapi, termasuk terapi perubahan perilaku atau hipnoterapi
  • Berolahraga secara rutin, seperti senam aerobik, jalan cepat, atau bersepeda
  • Mengelola stres dengan cara yang positif, misalnya dengan meditasi atau yoga

Durasi pengobatan sindrom iritasi usus besar tergantung pada kondisi pasien dan tingkat keparahan gejala yang dialami. Pasien perlu melakukan kontrol rutin ke dokter sehingga kondisinya dapat terus dipantau dan dokter dapat mengetahui repons tubuh pasien terhadap terapi yang diberikan.

Komplikasi Sindrom Iritasi Usus Besar

Irritable bowel syndrome merupakan penyakit kronis. Kondisi ini bisa meningkatkan risiko terjadinya beberapa kompikasi, seperti:

  • Hemoroid (wasir)
  • Dehidrasi
  • Kekurangan nutrisi (malnutrisi)
  • Penurunan produktivitas kerja
  • Penurunan kualitas hidup
  • Gangguan mental, seperti cemas atau depresi

Pencegahan Sindrom Iritasi Usus Besar

Karena penyebab pastinya belum diketahui, belum ada pula cara yang benar-benar bisa mencegah sindrom iritasi usus besar. Namun, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan risiko terjadinya irritable bowel syndrome (IBS) atau mencegah kambuhnya kondisi ini, yaitu:

  • Menghindari konsumsi makanan dan minuman penyebab IBS
  • Makan secara perlahan dan tidak terburu-buru
  • Makan dengan porsi yang tidak berlebihan
  • Mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang
  • Mengonsumsi makanan yang mengandung prebiotik dan probiotik
  • Tidur dengan waktu yang cukup dan tidak begadang
  • Berolahraga secara teratur setidaknya 30 menit sehari
  • Menjalani terapi dan pengobatan yang diberikan oleh dokter secara teratur
  • Mengelola stres dengan cara yang positif, seperti dengan membaca buku atau mendengarkan musik
  • Menghindari konsumsi minuman berkafein, bersoda, dan beralkohol



Penting Diketahui, Ini Cara Mencegah Hepatitis Akut yang Tepat

Hepatitis akut misterius yang diketahui banyak menginfeksi anak dan sudah menyebar di berbagai negara, termasuk Indonesia, memicu kekhawatiran baru di tengah masyarakat. Oleh karena itu, untuk melindungi anak serta saudara dari kondisi ini, penting mengetahui cara mencegah hepatitis akut yang tepat.

Hepatitis akut adalah peradangan pada organ hati atau liver yang berlangsung kurang dari 6 bulan. Hepatitis akut paling sering disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A, B, C, D, dan E. Namun, beberapa waktu lalu, ditemukan kasus hepatitis akut misterius yang banyak menyerang anak-anak.

Belum diketahui penyebab pasti dari kondisi ini. Meski begitu, dari hasil pemeriksaan laboratorium, ditemukan beberapa jenis virus yang diduga berkaitan dengan kondisi ini, yaitu Adenovirus, termasuk tipe 41, SARS-CoV-2, dan virus ABV, yang pada umumnya menyerang saluran pencernaan dan saluran pernapasan.

Anak-anak yang terinfeksi hepatitis akut tersebut dilaporkan mengalami beberapa gejala, yaitu mual, muntah, diare berat, demam, mata kuning, kejang, dan penurunan kesadaran. Di Indonesia, hepatitis akut misterius ini diduga sudah menyebabkan 7 kematian pada anak.

Cara Mencegah Hepatitis Akut

Hingga saat ini, anak-anak usia 1–16 tahun merupakan kelompok yang paling berisiko mengalami hepatitis akut misterius. Akan tetapi, belum bisa dipastikan apakah orang dewasa sepenuhnya terbebas dari kemungkinan terkena penyakit ini atau tidak.

Untuk menurunkan risiko terjadinya hepatitis akut misterius, setiap orang perlu melakukan langkah pencegahan dengan cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan, seperti:

  • Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun atau gunakan hand sanitizer secara berkala.
  • Pastikan setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi sudah dimasak hingga benar-benar matang.
  • Hindari penggunaan alat-alat makan bersama dan bawalah peralatan makan sendiri supaya lebih aman.
  • Hindari kontak erat dengan orang yang sedang sakit dan sebaiknya batasi kegiatan di luar rumah jika sedang sakit.

Selain itu, jangan lupa juga untuk tetap menerapkan protokol kesehatan COVID-19, seperti memakai masker, menjaga jarak fisik dengan orang lain, dan mengurangi mobilitas.

Prokes COVID-19 kini tidak hanya bermanfaat untuk mencegah infeksi virus Corona, tetapi juga bisa mencegah penularan hepatitis akut misterius. Ini karena adanya dugaan bahwa virus penyebab hepatitis misterius dapat ditularkan melalui bersin, batuk, ataupun makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Bagi para orang tua, upaya lain yang dapat dilakukan untuk menghadapi hepatitis akut misterius adalah mengenali dan mewaspadai gejala awal penyakit ini pada anak, yaitu mual, muntah, sakit perut, diare, demam ringan, perubahan warna air kencing menjadi gelap, dan BAB berwarna putih pucat.

Jika Si Kecil mengalami gejala-gejala tersebut, segera bawa ia ke rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, agar bisa mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Jangan menunda atau menunggu hingga muncul penyakit kuning dan menurunnya kesadaran. Pasalnya, kondisi tersebut menandakan bahwa hepatitis akut sudah berat dan dapat berakibat fatal bagi Si Kecil.

Nah, itulah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah hepatitis akut. Apabila masih memiliki pertanyaan atau kekhawatiran akan penyakit hepatitis akut misterius ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter.




Pap Smear, Ini yang Harus Anda Ketahui

Pap smear adalah prosedur untuk mendeteksi kanker leher rahim (serviks) pada wanita. Pap smear juga dapat menemukan sel-sel abnormal (sel prakanker) di leher rahim yang dapat berkembang menjadi kanker.

Pap smear dilakukan dengan mengambil sampel sel di serviks. Setelah itu, sampel sel tadi akan diteliti di laboratorium agar diketahui apakah di dalam sampel tersebut terdapat sel prakanker atau sel kanker. Pap smear juga bisa digunakan untuk mendeteksi infeksi atau peradangan pada serviks.

Di Indonesia, angka kejadian dan kematian akibat kanker leher rahim menduduki peringkat kedua setelah kanker payudara. Oleh sebab itu, penting untuk menjalani pemeriksaan pap smear secara berkala.

Dengan menjalani pap smear atau pap test secara rutin, kondisi leher rahim dapat dipantau dan kanker serviks dapat terdeteksi secara dini. Dokter juga dapat memperkirakan apakah ada risiko terjadinya kanker melalui hasil pemeriksaan pap smear.

Tujuan dan Indikasi Pap S mear

Pap smear bertujuan untuk mendeteksi kanker leher rahim (kanker serviks) sejak dini. Pemeriksaan ini dianjurkan dilakukan setiap 3 tahun sekali pada wanita usia 21 tahun ke atas. Bagi wanita usia 30ꟷ65 tahun, pap smear bisa dilakukan tiap 5 tahun sekali, tetapi perlu dikombinasikan dengan pemeriksaan HPV.

Pap smear juga dianjurkan bagi wanita yang berisiko tinggi terserang kanker leher rahim tanpa memandang usia. Wanita dengan risiko tinggi tersebut adalah mereka yang memiliki faktor berikut:

  • Memiliki riwayat keluarga dengan kanker serviks
  • Mendapatkan hasil abnormal (lesi prakanker) pada pap smear sebelumnya
  • Menderita HIV
  • Memiliki daya tahan tubuh lemah, misalnya akibat menjalani transplantasi organ, kemoterapi, atau menggunakan kortikosteroid dalam jangka panjang
  • Menderita penyakit menular seksual, seperti herpes genital atau chlamydia
  • Memiliki lebih dari satu pasangan seksual
  • Memiliki kebiasaan merokok
  • Terpapar atau menggunakan obat dietilstilbestrol (DES)

Pemeriksaan pap smear secara berkala dapat dihentikan pada wanita yang telah menjalani operasi pengangkatan seluruh rahim dan serviks (histerektomi total), tetapi dengan catatan bahwa prosedur tersebut tidak dilakukan karena adanya kanker atau lesi prakanker.

Jika histerektomi total dilakukan karena kanker atau prakanker, pap smear harus tetap dijalani secara rutin.

Pap smear rutin juga dapat dihentikan pada wanita usia 65 tahun ke atas yang 3 kali hasil pap smear sebelumnya normal dalam rentang waktu 10 tahun.

Peringatan Pap S mear

Pap smear sebaiknya tidak dilakukan pada saat menstruasi, karena hasilnya bisa jadi kurang akurat. Jika ingin melakukan pap smear, disarankan untuk menunggu setidaknya 5 hari setelah menstruasi selesai.

Pap smear juga sebaiknya tidak dilakukan pada usia kehamilan 25 minggu ke atas, karena bisa menimbulkan nyeri hebat saat pemeriksaan. Sebaiknya, tunggu sampai 12 minggu setelah melahirkan jika ingin menjalani pap smear.

Sebelum Pap S mear

Selama 2 hari sebelum prosedur pap smear, dokter akan menyarankan pasien untuk tidak melakukan beberapa hal berikut:

  • Berhubungan seks
  • Membersihkan bagian dalam vagina (douching) dengan air, cuka, atau cairan lainnya
  • Memasukkan apa pun ke dalam vagina, termasuk tampon, krim vagina, atau obat-obatan untuk vagina

Prosedur Pap S mear

Pap smear dilakukan oleh dokter spesialis kebidanan dan kandungan. Prosesnya hanya berlangsung sekitar 10–20 menit. Berikut ini adalah tahapan yang dilakukan dokter dalam pap smear:

  • Pasien akan diminta untuk melepaskan pakaian bagian bawah. Setelah itu, dokter akan meminta pasien berbaring di meja dengan posisi lutut menekuk dan paha terbuka.
  • Dokter akan memasukkan spekulum (cocor bebek) ke dalam vagina. Alat ini berfungsi untuk membuka dinding vagina sehingga bagian leher rahim dapat terlihat. Pada proses ini, pasien mungkin akan merasa tidak nyaman.
  • Dokter akan mengambil sampel jaringan di leher rahim menggunakan spatula, sikat halus khusus, atau keduanya. Setelah selesai, dokter akan menyimpan sampel tadi di dalam wadah khusus dan memeriksanya di laboratorium.

Terkadang ketika melakukan prosedur ini, dokter akan menemukan benjolan kecil-kecil pada leher rahim, yang bisa merupakan kista nabothi. Kista ini bukanlah kondisi yang berbahaya dan bukan kanker.

Setelah Pap S mear

Setelah prosedur selesai dilaksanakan, pasien dapat beristirahat selama beberapa menit sebelum diperbolehkan untuk pulang. Pasien mungkin akan merasakan nyeri atau mengalami sedikit perdarahan pascatindakan.

Jika pasien tidak mengalami gejala perburukan, pasien dapat langsung pulang setelah prosedur pap smear selesai. Dokter akan membuat janji dengan pasien untuk mendiskusikan hasil pap smear pada hari yang lain.

Jika dari hasil pemeriksaan pap smear tidak ditemukan sel abnormal atau hasil pemeriksaannya negatif, pasien dapat dikatakan tidak menderita kanker serviks. Pasien yang mendapatkan hasil negatif tidak perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut sampai jadwal pap smear berikutnya.

Hasil pap smear dikatakan positif jika pasien memiliki sel-sel abnormal, baik kanker maupun lesi prakanker. Beberapa jenis sel serviks abnormal tersebut adalah:

  • Sel skuamosa atipikal
    Sel skuamosa atipikal adalah sel abnormal yang tumbuh di jaringan yang melapisi dinding luar leher rahim. Kondisi ini bisa menandakan infeksi HPV, infeksi jamur, atau tumor jinak, seperti kista atau polip.
  • Lesi skuamosa intrarepitel
    Lesi skuamosa intrarepitel adalah sel-sel epitel abnormal yang cepat atau lambat dapat berubah menjadi sel kanker, tergantung pada derajat yang ditunjukkan.
  • Sel glandular atipikal
    Sel glandular atipikal adalah sel abnormal yang menghasilkan lendir. Sel ini tumbuh di pembukaan serviks dan di dalam rahim. Namun, sel ini belum bisa dipastikan apakah akan berubah menjadi kanker atau bukan.
  • Kanker sel skuamosa dan adenokarsinoma
    Jika pada hasil pemeriksaan pap smear ditemukan sel-sel abnormal ini, maka besar kemungkinan pasien menderita kanker.

Pasien yang memperoleh hasil pap smear positif akan disarankan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan dengan kolposkopi. Kolposkopi adalah pemeriksaan jaringan leher rahim, vagina, dan vulva dengan menggunakan kaca pembesar khusus (kolposkop).

Bila diperlukan, dokter akan mengambil sampel jaringan yang terlihat abnormal pada saat kolposkopi. Sampel jaringan ini selanjutnya akan diperiksa di laboratorium guna memastikan diagnosis.

Perlu diketahui, hasil pap smear tidak selalu akurat. Pada beberapa kasus, hasil pap smear dapat berupa negatif palsu. Hasil negatif palsu berarti pasien memiliki sel-sel abnormal di serviks, tetapi tidak terlihat pada pemeriksaan pap smear. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa kondisi berikut:

  • Sampel sel serviks yang diambil tidak cukup
  • Sel-sel yang abnormal berjumlah sedikit
  • Sel-sel abnormal tertutup oleh darah atau sel-sel yang mengalami peradangan

Kapan Harus ke Dokter

Segera beri tahu dokter jika pasien mengalami gejala perburukan setelah prosedur pap smear dilakukan, seperti:

  • Perdarahan hebat
  • Keluar cairan berbau busuk dari vagina
  • Demam atau menggigil
  • Sakit perut yang tidak tertahankan

Komplikasi Pap S mear

Pap smear adalah metode yang aman bagi wanita untuk mendeteksi kanker serviks. Pasien mungkin hanya merasa sedikit tidak nyaman saat prosedur dilakukan, tetapi hal tersebut merupakan sesuatu yang normal.

Pada kasus yang jarang terjadi, pasien dapat mengalami perdarahan ringan atau infeksi. Apabila komplikasi tersebut terjadi, segera ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.




Berbagai Penyebab Tangan Gemetar yang Perlu Diwaspadai

Set iap orang, mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia , dapat mengalami tangan gemetar. Kondisi ini umumnya terjadi karena kelelahan, kedinginan, maupun karena sedang merasa marah atau ketakutan . Namun, keluhan ini tidak boleh dianggap remeh jika sering terjadi atau diserta i gejala lain karena bisa menjadi tanda adanya penyakit tertentu .

Orang lanjut usia kerap mengalami tangan gemetar, misalnya saat menuang minuman atau hendak meraih benda tertentu. Tangan gemetar memang bisa menjadi tanda penuaan alami yang merupakan hal normal.

Namun, di sisi lain, tangan gemetar berisiko menjadi gejala awal dari penyakit yang lebih berbahaya. Pada kasus yang parah, tangan gemetar juga dapat menjadi tanda gangguan saraf terkait penyakit degeneratif, seperti penyakit Parkinson.

Tangan gemetar umumnya disebabkan oleh adanya gangguan pada otak yang mengontrol pergerakan tubuh. Gerakan yang tidak disadari serta tidak diinginkan ini dapat bersifat ringan atau berat dan juga sementara atau kronis, tergantung pada penyebab yang mendasarinya.

Penyebab Tangan Gemetar

Tangan gemetar yang menetap, atau sering dirasakan bisa jadi menandakan penyakit atau kondisi tertentu, seperti:

  • Tremor esensial, yaitu gemetaran yang umum terjadi pada bagian tangan yang sering digunakan atau bahkan keduanya, saat hendak digerakkan
  • Penyakit Parkinson, yaitu penyakit kronis yang mengganggu fungsi otak dan koordinasi gerakan tubuh, serta dapat menyebabkan tremor saat penderita sedang diam atau saat otot tidak digunakan dan justru mereda ketika bergerak
  • Kejang
  • Dystonia
  • Kadar gula darah rendah
  • Kelenjar tiroid yang terlalu aktif
  • Multiple sclerosis , yaitu gangguan pada sistem saraf, otak, dan tulang belakang, yang berdampak kepada gerakan tubuh
  • Stroke
  • Neuropati perifer , yaitu kerusakan pada sistem saraf tepi
  • Tumor otak
  • Penyakit Huntington
  • Keracunan zat tertentu, seperti merkuri, karbon monoksida, dan mangan
  • Kelebihan konsumsi kafein dan alkohol
  • Efek samping konsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat antipsikotik, obat asma, amfetamin, dan kortikosteroid

Meski tangan gemetar pada penyakit Parkinson memiliki sifat khas yang dapat dibedakan dengan tremor esensial, gejala kedua penyakit ini dapat memburuk seiring waktu jika tidak segera ditangani.

Selain tangan, penderita tremor esensial dapat mengalami tremor pada anggota tubuh lain, seperti pada kelopak mata, bibir, kepala, lengan, atau pita suara. Tremor esensial dapat bersifat genetik. Kondisi ini juga belum diketahui penyebab dan pengobatannya.

Diagnosis dan Penanganan Tangan Gemetar

Gejala tangan gemetar yang ringan atau bukan disebabkan oleh penyakit, umumnya dapat membaik dengan sendirinya. Hal ini berlaku untuk tangan gemetar akibat stres, kedinginan, kelelahan, atau konsumsi kafein dan alkohol.

Namun, keluhan tangan gemetar perlu diwaspadai dan segera diperiksakan ke dokter bila mengalami hal-hal berikut:

  • Semakin memburuk, bahkan saat sedang beristirahat
  • Terjadi berkepanjangan, parah, atau sudah sangat mengganggu aktivitas sehari-hari
  • Diiringi dengan gejala lain, seperti lemas, sakit kepala, gerakan lidah tidak normal, otot menjadi kaku, atau muncul gerakan yang tidak bisa dikendalikan

Untuk memastikan diagnosis dan mencari penyebabnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang, seperti tes darah dan urine, CT scan, MRI, elektromiografi atau EMG (pemeriksaan saraf otot), dan EEG (pemeriksaan listrik otak).

Setelah diagnosis tangan gemetar ditentukan, dokter akan memberikan penanganan yang sesuai dengan penyebabnya. Sementara itu, untuk meringankan keluhan gemetar atau tremor pada tangan, dokter dapat memberikan obat golongan beta-blockers propanolol, obat antikejang, obat penenang, atau suntikan botox. Jika keluhan tidak membaik dengan pengobatan, dokter mungkin akan menyarankan operasi.




4 Pilihan Obat Pilek yang Aman untuk Dewasa

Berbagai pilihan obat pilek yang tersedia di apotik dapat membantu meringankan keluhan penyakit ini. Namun, sebelum membeli obat pilek, ketahui dulu masing-masing kandungan di dalam obat tersebut dan cara kerjanya.

Pilek umumnya disebabkan oleh infeksi virus yang bersifat self limiting atau bisa sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7–10 hari. Kendati demikian, gejala pilek seperti bersin-bersin, hidung tersumbat, batuk, sakit kepala, hingga demam dapat mengganggu aktivitas.

Untuk meringankan gejala pilek yang mengganggu, ada beberapa pilihan obat pilek yang bisa Anda konsumsi.

Berbagai Pilihan Obat Pilek

Berikut ini adalah pilihan obat pilek yang bisa Anda konsumsi untuk meringankan gejala pilek:

1. Dekongestan

Jika pilek yang Anda alami disertai dengan hidung tersumbat, dekongestan merupakan pilihan tepat untuk meringankan kondisi tersebut. Obat pilek ini membantu melegakan hidung tersumbat dan mengurangi dahak, sehingga Anda bisa bernapas dengan lebih lega.

Dekongestan bekerja dengan cara mengurangi produksi lendir di hidung serta meredakan saluran sinus yang bengkak. Dekongestan tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari pil, sirup, hingga semprotan hidung.

2. Ekspektoran

Pilek tidak hanya disertai dengan hidung tersumbat, tetapi juga batuk berdahak. Jika Anda mengalami kondisi tersebut, ekspektoran bisa menjadi pilihan obat pilek yang tepat. Obat ini bekerja dengan cara mengencerkan dahak yang menumpuk di saluran pernapasan sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan.

Setelah mengonsumsi obat pilek ini, Anda disarankan untuk minum banyak air putih agar membantu mengencerkan dahak dan melegakan saluran pernapasan. Ekspektoran tersedia dalam bentuk sirup, tablet, dan pil.

3. Ibuprofen

Ibuprofen biasanya dikonsumsi untuk meringankan pilek yang disertai dengan demam, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Obat pilek ini bersifat antiinflamasi yang dapat menghambat produksi senyawa kimia yang menjadi penyebab peradangan dan nyeri di tubuh.

Meski efektif untuk mengurangi gejala pilek seperti demam, sakit kepala, dan sakit tenggorokan, ibuprofen tidak boleh diberikan kepada anak berusia di bawah 6 bulan maupun anak yang sedang mengalami dehidrasi.

4. Antihistamin

Pilihan obat pilek lainnya adalah antihistamin. Antihistamin cocok dikonsumsi untuk mengatasi pilek yang disebabkan oleh alergi.

Ini karena antihistamin bekerja dengan menghambat atau menghentikan aktivitas histamin di dalam tubuh. Histamin adalah zat kimia yang akan dilepaskan oleh tubuh ketika mengalami reaksi alergi.

Kendati demikian, obat pilek ini tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Beberapa jenis antihistamin, seperti chlorpheniramine dan diphendydramine, dapat menyebabkan kantuk yang bisa mengganggu aktivitas, terutama jika Anda mengoperasikan alat berat atau mengendarai kendaraan.

Tips Mencegah Pilek

Agar Anda terhindar dari pilek, berikut ini adalah beberapa langkah pencegahan yang bisa Anda lakukan:

  • Rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir
  • Melakukan disinfeksi pada barang-barang yang sering disentuh, seperti gagang pintu, saklar lampu, dan benda-benda elektronik
  • Menerapkan etika batuk dan bersin dengan benar, yaitu menutup mulut dan hidung dengan tisu, membuang tisu tersebut, lalu mencuci tangan
  • Menghindari kontak erat dengan orang yang sedang mengalami pilek
  • Menghindari penggunaan alat makan, termasuk gelas, sendok, dan piring, secara bergantian dengan anggota keluarga lain

Selain itu, Anda juga harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan berolahraga secara rutin agar terhindar dari pilek.

Meskipun mampu meredakan keluhan, konsumsi obat pilek tidak akan mengatasi kondisi tersebut. Oleh karena itu, jika pilek yang Anda alami tidak kunjung membaik selama lebih dari 10 hari, disertai dengan nyeri dada, sakit telinga, maupun demam tinggi, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter guna mendapatkan penanganan.


Search This Blog

Menu Halaman Statis

Contact Form

Name Email * Message *

Category

Popular Posts