PubMed Media Kesehatan


Gagal Jantung - Gejala, penyebab dan mengobati

Gagal jantung adalah kondisi ketika jantung melemah sehingga tidak mampu memompa darah yang cukup ke seluruh tubuh. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada orang berusia di atas 65 tahun.

Gagal jantung atau heart failure juga dikenal dengan gagal jantung kongestif. Terlepas dari namanya, kondisi ini bukan berarti jantung benar-benar berhenti berfungsi, melainkan jantung tidak bisa berfungsi dengan baik.

gagal-jantung-alodokter

Penyebab dan Gejala Gagal Jantung

Penyebab gagal jantung adalah kondisi atau penyakit yang membuat jantung melemah atau mengalami kerusakan. Beberapa kondisi atau penyakit yang dapat menyebabkan gagal jantung antara lain penyakit jantung koroner, hipertensi, dan anemia.

Gejala utama gagal jantung adalah sesak napas, mudah lelah, serta pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki. Gejala ini dapat berkembang secara bertahap atau muncul secara tiba-tiba.

Pengobatan dan Pencegahan Gagal Jantung

Pengobatan gagal jantung bertujuan untuk meredakan gejala dan meningkatkan kekuatan jantung. Metode pengobatannya dapat dilakukan dalam berbagai cara, yaitu dengan obat-obatan, operasi, hingga pemasangan alat pada jantung. Untuk kasus yang parah, operasi transplantasi jantung bisa menjadi pertimbangan.

Pencegahan utama gagal jantung adalah dengan menjalani gaya hidup sehat, yaitu dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, membatasi asupan garam, gula, dan lemak jenuh, serta berolahraga secara rutin.

Selain itu, pemeriksaan kesehatan secara rutin, terutama tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, juga perlu dilakukan untuk mendeteksi gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan gagal jantung.




Radioterapi, Ini Yang Harus Anda Ketahui

Radioterapi atau terapi radiasi adalah prosedur medis untuk menangani penyakit kanker. Tujuan radioterapi adalah untuk membunuh sel-sel kanker, menghentikan pertumbuhan dan penyebaran sel kanker, serta mencegah kambuhnya penyakit kanker.

Radioterapi bisa diberikan melalui pemaparan sinar-X, penanaman implan di dalam tubuh, serta melalui obat minum dan suntik. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, radioterapi sering digunakan bersamaan dengan kemoterapi dan operasi pengangkatan kanker.

Perlu diketahui, meski dapat membasmi dan menghambat pertumbuhan sel kanker, radioterapi juga bisa merusak sel-sel yang sehat. Akan tetapi, efek samping ini umumnya tidak permanen. Untuk meminimalkan efek samping tersebut, radioterapi perlu dilakukan dengan hati-hati dan hanya pada area tubuh yang terserang kanker.

Radioterapi umumnya dilakukan untuk menangani kanker di bagian kepala dan leher, payudara, serviks, prostat, tiroid, atau mata.

Indikasi R adioterapi

Dokter akan mempertimbangkan tindakan radioterapi dengan tujuan sebagai berikut:

  • Meredakan gejala kanker stadium lanjut
  • Menyusutkan ukuran tumor sebelum prosedur operasi
  • Mengobati kanker, baik sebagai pengobatan tunggal maupun dikombinasikan dengan pengobatan lain, seperti kemoterapi
  • Membunuh dan membersihkan sel-sel kanker setelah operasi pengangkatan kanker, agar kanker tidak kembali menyerang

Peringatan R adioterapi

Radioterapi tidak bisa dilakukan pada semua kondisi, terutama pada masa kehamilan. Ibu hamil tidak boleh menjalani radioterapi, karena terapi ini dapat berakibat fatal dan menyebabkan komplikasi kehamilan, seperti keguguran, bayi lahir prematur, atau kelainan plasenta.

Oleh sebab itu, pasien wanita yang berencana menjalani terapi radiasi dianjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi ketika berhubungan seksual. Hal ini untuk mencegah terjadinya kehamilan, baik sebelum maupun selama terapi radiasi.

Sama seperti pasien wanita, pasien pria juga dianjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi ketika berhubungan intim selama menjalani radioterapi. Pada kasus tertentu, pasien pria disarankan untuk tetap menggunakan alat kontrasepsi saat berhubungan intim sampai beberapa bulan setelah radioterapi selesai.

Persiapan R adioterapi

Sebelum memulai radioterapi, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan apakah prosedur ini aman dan tepat dilakukan, sesuai dengan kondisi pasien. Setelah itu, dokter akan menentukan dosis dan frekuensi terapi radiasi, sesuai dengan jenis dan stadium kanker yang dialami pasien.

Dokter juga akan melakukan simulasi radiasi yang terdiri dari beberapa tahap, seperti dijelaskan di bawah ini:

  • Meminta pasien berbaring dan menentukan posisi yang nyaman agar prosedur radioterapi bisa berjalan dengan lancar
  • Memberikan bantal dan mengikat tubuh pasien agar tidak berubah posisi selama radioterapi berlangsung
  • Melakukan pemindaian dengan CT scan untuk menentukan bagian tubuh yang menerima paparan radiasi
  • Menentukan jenis radioterapi dan berapa kali terapi akan dilakukan, sesuai hasil pemeriksaan.
  • Menandai bagian tubuh pasien yang diterapi dengan gelombang radiasi.
  • Menjalankan prosedur radioterapi setelah semua tahapan di atas selesai

Prosedur R adioterapi

Ada tiga jenis radioterapi yang sering digunakan untuk menangani penyakit kanker. Penerapannya pun berbeda-beda, tergantung kondisi pasien serta ukuran dan jenis kankernya. Berikut adalah jenis-jenis radioterapi yang dimaksud dan penjelasannya:

Radioterapi eksternal

Radioterapi eksternal adalah terapi yang dilakukan dengan mengarahkan sinar-X atau sinar proton ke bagian tubuh yang terserang kanker. Terapi ini tidak menimbulkan rasa sakit sehingga pasien umumnya bisa langsung pulang setelah pengobatan selesai dilakukan.

Radioterapi eksternal biasanya berlangsung selama 10–30 menit setiap sesinya. Terapi ini dapat dilakukan dua kali dalam seminggu.

Radioterapi internal

Radioterapi internal atau brachytherapy dilakukan dengan cara memasukkan implan radioaktif ke dalam tubuh pasien, tepatnya di dekat lokasi tumbuhnya sel-sel kanker. Implan ini bisa dibiarkan di dalam tubuh selama beberapa hari atau permanen, tergantung pada jenis kanker yang diderita pasien.

Perlu diketahui bahwa implan yang dibiarkan permanen di dalam tubuh tidak perlu dikhawatirkan, karena kadar radiasi dari implan akan menurun seiring waktu.

Radioterapi sistemik

Radioterapi sistemik adalah terapi radiasi yang dilakukan dengan memasukkan obat ke dalam tubuh pasien. Obat ini dapat ditelan oleh pasien atau disuntikkan melalui pembuluh darah.

Radioterapi sistemik atau terapi radioisotop sering digunakan pada pasien kanker tiroid dan kanker prostat. Radioterapi ini mengharuskan pasien untuk dirawat di rumah sakit dalam waktu yang lebih lama.

Setelah R adioterapi

Dokter akan memonitor kondisi pasien selama menjalani terapi radiasi. Dokter juga akan menjalankan serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui respons tubuh pasien terhadap terapi. Jika muncul efek samping, dokter akan memberikan obat-obatan untuk meredakan efek samping tersebut.

Perlu diketahui, efektivitas radioterapi bisa berbeda-beda pada setiap pasien. Beberapa pasien harus menjalani radioterapi sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan agar hasilnya bisa terlihat.

Kapan harus ke dokter

Pasien dianjurkan untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika setelah menjalani radioterapi muncul salah satu atau beberapa keluhan berikut:

  • Demam tinggi yang mencapai 38ยบ C
  • Menggigil
  • Sakit kepala parah dan leher kaku
  • Nyeri dada atau sesak napas
  • Linglung
  • Kencing berdarah

Efek S amping R adioterapi

Seperti jenis pengobatan lainnya, radioterapi juga berisiko menimbulkan sejumlah efek samping. Namun, efek samping tersebut biasanya dapat dicegah atau akan hilang setelah terapi radiasi berakhir.

Beberapa efek samping radioterapi tersebut adalah:

  • Kulit gatal, kering dan kemerahan yang umumnya muncul 1–2 minggu setelah terapi
  • Rambut rontok di bagian tubuh yang diterapi, umumnya 2–3 minggu setelah terapi
  • Diare, yang biasanya muncul beberapa hari setelah radioterapi dilakukan
  • Limfedema, yang bisa menyebabkan nyeri dan pembengkakan di tungkai
  • Mudah lelah, yang bisa berlangsung sampai berbulan-bulan setelah terapi
  • Kaku, nyeri, serta pembengkakan pada otot dan sendi di area yang diterapi
  • Hilang nafsu makan sehingga menyebabkan berat badan menurun
  • Gangguan psikologis, seperti cemas, stres, frustrasi, atau depresi
  • Luka di mulut atau sariawan, yang dapat disertai mulut kering, bau mulut, dan rasa tidak nyaman di mulut saat makan, minum atau berbicara
  • Gangguan seksual dan kesuburan, antara lain penurunan gairah seks, disfungsi ereksi pada pria, dan vagina kering pada wanita
  • Daya tahan tubuh lemah karena berkurangnya jumlah sel darah putih sehingga mudah terserang infeksi



Pemeriksaan TORCH, Ini yang Harus Anda Ketahui

Pemeriksaan TORCH adalah pemeriksaan pada calon ibu atau ibu hamil trimester pertama untuk mendeteksi penyakit infeksi TORCH, yaitu toksoplas mosis , rubella, cytomegalovirus, herpes simplex , dan infeksi lain, seperti sifilis . Penyakit tersebut perlu dideteksi sejak dini agar penularannya kepada janin bisa dicegah.

Pemeriksaan TORCH dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap penyakit TORCH. Antibodi sendiri adalah senyawa yang diproduksi oleh sistem kekebalan saat tubuh terserang mikroorganisme asing, seperti virus atau bakteri.

Berikut ini adalah penjelasan dari beberapa penyakit infeksi yang tergolong ke dalam TORCH:

1. Toksoplasmosis

Toksoplasmosis adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii. Parasit ini dapat ditemukan dalam kotoran kucing yang terinfeksi dan makanan yang belum matang.

Jika terjadi pada ibu hamil, parasit dapat menular ke janin dan menyebabkan janin terlahir cacat atau mengalami kelainan pada mata atau otak (mikrosefalus).

2. Other infection

Other infection atau infeksi lain terdiri dari beberapa penyakit infeksi, yaitu HIV/AIDS, sifilis, virus Zika, fifth disease, serta cacar air.

Jika terjadi pada ibu hamil, infeksi tersebut dapat menular ke janin dan menyebabkan janin terlahir dengan masalah kesehatan tertentu, seperti tuli, kebutaan, pembengkakan di perut, pneumonia, hingga keguguran.

3. Rubella

Rubella dikenal juga sebagai campak Jerman. Bila terjadi pada ibu hamil, infeksi ini dapat menular ke janin dan menyebabkan bayi terlahir dengan kelainan jantung, tuli, gangguan penglihatan, infeksi paru, kelainan darah, atau keterlambatan pertumbuhan.

Selain itu, seiring bertumbuhnya bayi, infeksi rubella juga bisa menyebabkan gangguan saraf pusat, kelainan sistem imun, atau gangguan tiroid.

4. Cytomegalovirus (CMV)

Cytomegalovirus (CMV) adalah jenis virus yang umumnya menyerang orang dewasa dan jarang menyebabkan gangguan kesehatan serius. Namun, pada janin, virus ini dapat menyebabkan gangguan sehingga bayi bisa terlahir tuli, mengalami gangguan penglihatan, pneumonia, kejang, dan keterlambatan pertumbuhan.

5. Herpes simplex virus (HSV)

HSV adalah virus yang dapat menyebabkan herpes, baik di mulut (oral) maupun kelamin (genital), pada orang dewasa. Bayi dapat tertular virus herpes dari ibunya selama proses persalinan, terutama jika ibunya menderita herpes genital.

Pada bayi, infeksi virus herpes dapat menyebabkan gejala seperti ruam yang berisi cairan di mulut, mata, dan kulit, lemas, sesak napas, hingga kejang.

Tujuan dan Indikasi Pemeriksaan TORCH

Pemeriksaan TORCH umumnya akan dianjurkan oleh dokter sebelum merencanakan kehamilan atau pada trimester pertama kehamilan. Hal ini bertujuan untuk mendeteksi sedini mungkin infeksi TORCH pada ibu hamil yang bisa menular ke janin.

Selain sebagai deteksi dini, pemeriksaan ini juga dapat dilakukan pada ibu hamil yang menunjukkan gejala-gejala penyakit infeksi yang tergolong ke dalam TORCH.

Pemeriksaan TORCH juga dapat dilakukan pada bayi baru lahir yang menunjukkan gejala-gejala penyakit infeksi TORCH, seperti:

  • Berat dan panjang badan yang lebih kecil dari bayi seusianya
  • Katarak kongenital
  • Jumlah trombosit di bawah normal (trombositopenia)
  • Kejang
  • Kelainan jantung
  • Tuli
  • Pembesaran hati dan limpa
  • Penyakit kuning (jaundice)

Peringatan dan Kontraindikasi Pemeriksaan TORCH

Pemeriksaan TORCH dilakukan untuk mendeteksi antibodi yang baru atau pernah diproduksi oleh tubuh. Oleh karena itu, hasil positif dalam pemeriksaan TORCH tidak selalu berarti bahwa pasien sedang menderita infeksi dari penyakit yang tergolong ke dalam TORCH.

Perlu diketahui, antibodi pada TORCH terdiri dari IgM dan IgG. Jika hasil IgM positif, berarti pasien sedang menderita infeksi. Namun, jika hasil IgG positif, pasien bisa saja memang terkena infeksi, atau pernah mendapatkan vaksin untuk TORCH.

Jika kedua antibodi positif, dokter akan melakukan pemeriksaan lain untuk memastikan ada atau tidaknya infeksi. Dengan mendeteksi adanya infeksi, dokter dapat melakukan penanganan untuk mencegah terjadinya komplikasi sejak dini.

Sebelum Pemeriksaan TORCH

Pemeriksaan TORCH merupakan pemeriksaan sederhana sehingga umumnya tidak memerlukan persiapan khusus. Meski demikian, pasien perlu memberi tahu dokter jika sedang menderita suatu penyakit, walaupun bukan penyakit yang tergolong ke dalam infeksi TORCH.

Pasien juga harus memberi tahu dokter jika sedang menjalani pengobatan tertentu. Jika diperlukan, dokter akan meminta pasien untuk berpuasa dan menghentikan konsumsi obat-obatan untuk sementara waktu.

Pada hari pemeriksaan, sebaiknya pasien mengenakan pakaian berlengan pendek agar proses pengambilan darah lebih mudah dilakukan.

Prosedur Pemeriksaan TORCH

Prosedur pemeriksaan TORCH cukup sederhana, yaitu dengan mengambil sampel darah. Pemeriksaan ini dapat dilakukan di klinik atau rumah sakit terdekat. Tahapan-tahapan yang akan dilakukan dokter adalah sebagai berikut:

  • Mensterilkan bagian tubuh yang akan diambil sampel darahnya dengan kapas beralkohol, biasanya di area lengan
  • Mengikat lengan atas pasien dengan menggunakan alat khusus agar vena di lengan menggembung dan terlihat jelas
  • Menusukkan jarum ke dalam vena dan memasang tabung steril untuk mengumpulkan sampel darah
  • Melepas ikatan di lengan agar darah dapat mengalir dengan sendirinya ke dalam tabung sampel
  • Mencabut jarum dan memasang plester pada titik tusukan jarum jika darah yang diambil sudah cukup

Sampel darah yang telah diambil akan dibawa ke laboratorium untuk memeriksa IgM dan IgG TORCH. Melalui hasil pemeriksaan, dokter dapat menilai apakah pasien pernah, sedang, atau tidak mengalami infeksi.

Setelah Pemeriksaan TORCH

Jika pasien diduga positif menderita penyakit yang tergolong ke dalam TORCH, dokter akan menganjurkan pasien untuk menjalani pemeriksaan lain guna memastikan diagnosis. Beberapa pemeriksaan lanjutan yang dapat dijalani setelah pemeriksaan TORCH adalah:

  • Tes pungsi lumbal , untuk mendeteksi infeksi toksoplasmosis, rubella, atau herpes simplex di sistem saraf pusat
  • Tes biopsi kulit, untuk mendeteksi infeksi herpes simplex virus
  • Tes kultur urine, untuk mendeteksi infeksi cytomegalovirus

Jika diagnosis sudah dipastikan, dokter akan menentukan metode pengobatan yang sesuai dengan kondisi pasien.

Komplikasi dan Efek Samping Pemeriksaan TORCH

Pemeriksaan TORCH adalah prosedur yang sederhana dan umumnya aman untuk dilakukan. Akan tetapi, pengambilan sampel darah dalam pemeriksaan TORCH dapat menimbulkan sejumlah komplikasi, seperti kemerahan, nyeri, atau lebam, di bagian tubuh yang diambil sampel darahnya.




Selulitis - Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Selulitis adalah infeksi bakteri di kulit dan jaringan di bawahnya. Kondisi ini dapat menyebabkan kulit kemerahan, bengkak, melepuh, dan nyeri saat ditekan. Umumnya, selulitis terjadi di kulit tungkai bawah, tetapi juga bisa muncul di kulit wajah, lengan, mata, dan perut.

Selulitis bisa menyerang semua kelompok usia, termasuk anak-anak dan lansia. Kondisi ini juga lebih berisiko dialami oleh seseorang yang memiliki luka, seperti luka sayatan atau luka operasi. Hal ini karena luka di kulit dapat memudahkan bakteri untuk berkembang biak.

Selulitis

Selulitis tidak menular, tetapi infeksinya bisa menyebar sampai kelenjar getah bening dan aliran darah sehingga berisiko mengancam jiwa penderitanya. Selain itu, infeksi selulitis menyerang lapisan kulit yang lebih dalam dibandingkan erisipelas.

Penyebab Selulitis

Selulitis umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri dari kelompok Streptococcus dan Staphylococcus. Kedua jenis bakteri tersebut dapat tumbuh dan berkembang di kulit yang terluka, termasuk luka operasi, luka gores, atau gigitan serangga. Salah satu jenis bakteri Staphylococcus penyebab selulitis adalah Staphylococcus aureus.

Selain kedua bakteri di atas, jenis bakteri lain yang bisa menyebabkan selulitis adalah Hemophilus influenzae, Pasteurella multocida, Aeromonas hydrophillia, Vibrio vulnificus, atau Pseudomonas aeruginosa.

Terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita selulitis, yaitu:

  • Memiliki riwayat selulitis sebelumnya
  • Memiliki berat badan berlebih atau obesitas
  • Memiliki sirkulasi yang buruk di lengan, tangan, tungkai, dan kaki
  • Menderita diabetes
  • Memiliki daya tahan tubuh yang lemah akibat penyakit HIV/AIDS atau leukimia
  • Mengonsumsi obat-obatan immunosuppressan
  • Menjalani kemoterapi untuk pengobatan kanker
  • Mengalami limfedema
  • Menderita penyakit kulit lain, seperti tinea pedis, eksim, atau psoriasis

Gejala Selulitis

Infeksi dan peradangan pada selulitis bisa menyebabkan beragam keluhan pada kulit antara lain:

  • Kulit berwarna kemerahan
  • Bengkak
  • Terasa lunak dan hangat jika disentuh
  • Kulit melepuh
  • Kulit bernanah atau berair
  • Nyeri saat ditekan
  • Demam dan menggigil

Selulitis juga bisa ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar kulit yang terinfeksi atau munculnya bintik-bintik kemerahan di kulit.

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami keluhan seperti yang telah disebutkan di atas. Pengobatan sejak dini perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi.

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika muncul kemerahan yang meluas dengan cepat, disertai dengan mati rasa dan demam, atau muncul kemerahan dan bengkak pada kulit di sekitar mata atau telinga.

Diagnosis Selulitis

Dokter akan melakukan tanya jawab seputar keluhan, riwayat kesehatan pasien, disertai pemeriksaan fisik pada kulit. Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Tes darah, untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi
  • Tes kultur, untuk mengetahui jenis bakteri penyebab infeksi
  • Pemindaian dengan CT scan, USG, Rontgen, atau MRI, untuk mendeteksi apakah infeksi telah menyebar ke bagian tubuh lain

Pengobatan Selulitis

Pengobatan selulitis bertujuan untuk mengatasi infeksi, meredakan gejala, dan mencegah terjadinya komplikasi. Metode yang dilakukan dokter akan disesuaikan dengan tingkat keparahan infeksi serta kondisi pasien, antara lain:

Pemberian o bat antibiotik

Dokter akan memberikan obat antibiotik golongan penisilin, clindamycin, makrolid, atau sefalosporin. Obat-obatan tersebut umumnya diminum selama 5–14 hari.

Selain itu, dokter juga dapat meresepkan obat-obatan untuk mengatasi nyeri dan demam, seperti paracetamol atau ibuprofen.

Jika kondisi pasien tidak kunjung membaik setelah 10 hari pengobatan atau gejala justru memburuk, pasien akan disarankan untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Dokter akan memberikan antibiotik, misalnya ceftaroline fosamil atau cefotaxim, dan obat-obat lainnya melalui suntik atau infus.

Operasi

Dokter akan merekomendasikan pasien untuk menjalani operasi jika ditemukan nanah atau abses. Operasi dilakukan untuk mengeluarkan nanah atau abses dan membersihkan jaringan yang mati guna mempercepat proses pemulihan.

Selain menjalani perawatan dari dokter, pasien juga disarankan untuk melakukan beberapa cara berikut guna mempercepat proses pemulihan:

  • Menggerakkan anggota tubuh yang terinfeksi secara rutin agar tidak kaku
  • Minum air putih yang cukup untuk mencegah dehidrasi
  • Meninggikan bagian tubuh yang mengalami selulitis saat duduk atau berbaring, untuk mengurangi pembengkakan
  • Tidak menggunakan stoking kompresi untuk sementara waktu sampai selulitis benar-benar sembuh

Komplikasi Selulitis

Jika tidak ditangani, selulitis dapat menyebabkan komplikasi kesehatan berupa:

Pencegahan Selulitis

Anda dapat menurunkan risiko terjadinya selulitis dengan melakukan beberapa upaya berikut:

  • Menjaga kebersihan dengan rutin mencuci tangan dengan sabun dan air
  • Menjaga kelembapan kulit dengan menggunakan losion
  • Membersihkan luka dengan menggunakan air mengalir dan sabun
  • Menggunakan alas kaki saat berada di luar rumah
  • Memotong kuku kaki dan tangan dengan berhati-hati untuk menghindari luka
  • Menjaga berat badan ideal dan rutin berolahraga, untuk mengurangi risiko terjadinya limfedema dan obesitas
  • Melakukan pemeriksaan rutin ke dokter jika menderita penyakit yang bisa melemahkan sistem imun, seperti diabetes, leukemia, atau HIV/AIDS

Penderita diabetes atau gangguan aliran darah perlu lebih berhati-hati untuk mencegah terjadinya luka pada kulit. Upaya yang bisa dilakukan adalah menjaga kelembapan kulit, menggunakan alas kaki yang lembut dan nyaman, serta memeriksa kaki secara rutin.

Jika menemukan luka atau tanda-tanda infeksi, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan.




Berbagai Penyakit Keturunan yang Perlu Anda Waspadai

Punya tubuh sehat dan terbebas dari penyakit sudah pasti menjadi keinginan semua orang. Namun sayangnya , ada beberapa jenis penyakit yang memang sulit dihindari, salah satunya adalah penyakit keturunan.

Penyakit keturunan berasal dari mutasi atau perubahan sifat genetik yang diwariskan dari salah satu atau kedua orang tua kepada anak. Penyakit keturunan umumnya sulit atau bahkan tidak dapat dicegah. Orang yang tampaknya sehat bisa saja memiliki penyakit keturunan atau berisiko menurunkan kelainan genetik pada keturunannya.

Untuk mengindentifikasi penyakit keturunan serta risiko diturunkannya penyakit ini pada anak, dapat dilakukan pemeriksaan genetik pada orang tua sebelum merencanakan kehamilan, atau pada janin di dalam kandungan.

Pada beberapa kasus, anak yang memiliki thalasemia dapat hidup, namun sangat rentan terserang anemia, sehingga sering kali membutuhkan transfusi darah.

Kenali Berbagai Penyakit Keturunan

Berikut ini adalah beberapa macam penyakit keturunan yang umum terjadi:

1. Diabetes tipe 1

Penyakit diabetes tipe 1 menyebabkan penderitanya kekurangan hormon insulin. Penyakit ini umumnya bersifat keturunan, dan sering terjadi sejak masa kanak-kanak. Namun, ada juga diabetes tipe 1 yang terjadi pada usia dewasa.

Risiko seorang anak terkena penyakit keturunan ini akan lebih tinggi jika kedua orang tua kandungnya menderita diabetes tipe 1.

2. Hemofilia

Hemofilia merupakan penyakit keturunan yang menyebabkan gangguan pembekuan  darah. Kondisi ini lebih banyak terjadi pada pria. Pada kondisi normal, faktor-faktor pembekuan darah akan bekerja untuk membuat darah membeku saat terjadi luka atau perdarahan.

Namun pada penderita hemofilia, tubuhnya kekurangan faktor pembekuan darah, sehingga dibutuhkan waktu lebih lama untuk menghentikan perdarahan.

3. Thalasemia

Penyakit keturunan ini adalah penyakit yang menyerang sel darah merah penderitanya. Kondisi ini membuat hemoglobin dalam sel darah merah penderitanya berkurang, sehingga oksigen sulit diedarkan ke seluruh tubuh. Anak yang lahir dengan thalasemia berat kebanyakan meninggal saat dilahirkan.

4. Alzheimer

Penyakit Alzheimer merupakan gangguan otak serius yang membuat seseorang pikun parah, serta memengaruhi kemampuannya untuk melaksanakan kegiatan sehari-hari.

Penyakit keturunan ini biasanya mengenai orang tua berusia di atas 60 tahun, tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk terjadi pada orang yang usianya lebih muda. Risiko seseorang untuk terkena penyakit Alzheimer akan meningkat jika ia memiliki anggota keluarga yang juga menderita penyakit ini.

5. Kanker

Kanker bisa terjadi bukan hanya karena kebiasaan hidup yang kurang sehat saja, tetapi faktor genetik juga ikut meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit ini. Hanya saja, kanker yang murni diwarisi oleh faktor genetik tergolong kecil, yaitu sekitar 5%-10% dari penyebab kanker secara umum.

6. Penyakit jantung

Faktor genetik berperan cukup besar dalam munculnya penyakit jantung. Namun, memang ada beberapa faktor yang dapat makin memperbesar risiko terjadinya penyakit ini, seperti pola makan yang tidak sehat, merokok, memiliki berat badan berlebih, menderita kolesterol tinggi, dan jarang berolahraga.

7. Gangguan mental

Orang yang menderita gangguan mental, seperti depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, autisme, ADHD, gangguan cemas, sindrom Down, dan gangguan obsesif kompulsif (OCD) kemungkinan besar memiliki orang tua atau saudara yang juga menderita gangguan serupa.

Meski demikian, gangguan mental ini juga bisa terjadi pada orang tanpa riwayat penyakit serupa di dalam keluarganya. Hal ini diduga karena selain faktor genetik, munculnya gangguan mental juga dipengaruhi oleh faktor lain, seperti stres atau tekanan psikologis yang berat.

Orang-orang yang memiliki riwayat penyakit keturunan di dalam keluarga perlu lebih waspada. Walaupun kebanyakan penyakit keturunan tidak dapat dicegah, namun risikonya dapat dikurangi. Oleh karena itu, lakukanlah pemeriksaan kesehatan rutin ke dokter

Anda juga dapat melakukan pemeriksaan genetik atau tes DNA sebelum menikah dan merencanakan kehamilan, untuk mendeteksi secara dini kemungkinan adanya penyakit keturunan yang bisa diwariskan kepada anak.




Jenis-Jenis Vaksin Pneumonia yang Perlu Anda Ketahui

Vaksin pneumonia merupakan salah satu vaksin yang penting untuk diberikan kepada bayi, anak-anak, dan orang dewasa. Hal ini dikarenakan seseorang yang belum mendapatkan vaksin tersebut akan rentan terkena berbagai penyakit yang dapat menyebabkan komplikasi berbahaya, bahkan kematian.

Vaksin pneumonia adalah vaksin yang diberikan untuk melindungi tubuh dari penyakit pneumonia dan penyakit infeksi lain yang disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae atau bakteri pneumokokus.

Pemberian vaksin ini berfungsi untuk merangsang sistem kekebalan tubuh dalam menghasilkan antibodi atau daya tahan tubuh yang dapat melawan penyakit akibat infeksi bakteri pneumokokus.

Selain pneumonia, vaksin pneumonia juga dapat melindungi tubuh dari bronkopneumonia, meningitis dan infeksi berat lain, seperti bakteremia dan sepsis. Penyakit-penyakit tersebut dapat menyebabkan komplikasi berbahaya, mulai dari gagal napas, kelumpuhan, kerusakan otak, dan bahkan kematian.

Siapa Saja yang Perlu Menerima Vaksin Pneumonia?

Vaksin pneumonia ditujukan bagi mereka yang memiliki risiko tinggi terserang bakteri pneumokokus, yaitu anak berusia di bawah 5 tahun dan para lansia. Selain anak-anak dan lansia, vaksin pneumonia juga perlu diberikan kepada orang-orang yang memiliki penyakit atau kondisi medis tertentu, seperti:

  • Daya tahan tubuh lemah, misalnya karena infeksi HIV dan efek samping kemoterapi
  • Kelainan bawaan lahir (kelainan kongenital), seperti penyakit jantung bawaan
  • Penyakit kronis, seperti asma, diabetes, dan gagal ginjal kronis
  • Kelainan darah, seperti thalasemia dan anemia sel sabit
  • Riwayat operasi, seperti operasi implan koklea, transplantasi organ, atau pengangkatan limpa
  • Kebiasaan merokok

Meski berperan penting untuk mencegah penyakit pneumonia dan beragam infeksi, pemberian vaksin pneumonia sebaiknya ditunda atau tidak diberikan pada ibu hamil dan menyusui, orang yang sedang sakit atau demam, serta orang yang memiliki riwayat alergi terhadap vaksin.

Jenis-Jenis Vaksin Pneumonia

Terdapat 2 jenis vaksin pneumonia dan pemberian vaksin tersebut disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatan secara menyeluruh. Kedua jenis vaksin pneumonia tersebut meliputi:

Pneumococcal conjugate vaccine (PCV) atau PCV13

PCV 15 atau Pneumococcal conjugate vaccine 15. PCV 15 merupakan varian baru dari vaksin pneumonia yang diketahui bisa memberikan perlindungan terhadap 15 jenis Streptococccus pneumonia yang bisa menyebabkan pneumonia. Dosis dan frekuensi pemberiannya tidak jauh berbeda dengan varian sebelumnya.

Vaksin PCV adalah jenis vaksin pneumonia yang biasanya diberikan pada anak-anak yang berusia kurang dari 2 tahun. Vaksin ini juga dapat diberikan pada anak di atas 2 tahun dan orang dewasa yang berisiko terkena infeksi pneumokokus. Vaksin PVC mampu melindungi anak-anak dan orang dewasa dari 13 jenis bakteri penyebab pneumonia.

Pneumococcal polysaccharide vaccine (PPV) atau PPSV23

PPV atau PPSV23 mengandung molekul polisakarida yang menyerupai bagian dari dinding sel bakteri pneumokokus. PPV adalah jenis vaksin yang diberikan pada lansia, orang dewasa, dan anak berusia lebih dari 2 tahun yang dianggap berisiko tinggi terkena infeksi pneumokokus.

Vaksin pneumonia jenis PPV memiliki efektivitas sekitar 50–70% dalam mencegah infeksi pneumokokus dan mampu melindungi penerimanya dari 23 jenis bakteri pneumokokus.

Jenis Vaksin Lain Sebagai Vaksin Pneumonia

Selain bakteri pneumokokus, pneumonia dan meningitis juga bisa disebabkan oleh infeksi bakteri Haemophilus influenzae type B (Hib). Bahkan di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, bakteri ini adalah salah satu penyebab utama penyakit pneumonia dan meningitis.

Di Indonesia, vaksin Hib (dalam bentuk vaksin kombinasi DPT-HB-Hib) ini tergolong sebagai vaksin pneumonia yang termasuk dalam jenis vaksin yang perlu diberikan pada bayi dan anak-anak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan pemberian vaksin Hib pada anak secara bertahap mulai usia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, dan dosis pengulangan diberikan antara usia 15–18 bulan.

Selain vaksin Hib, vaksin Campak juga termasuk dalam vaksin untuk mencegah pneumonia. Pasalnya, pneumonia merupakan salah satu komplikasi dari penyakit campak.

Pneumonia juga bisa disebabkan oleh komplikasi penyakit lain seperti influenza, pertusis, dan cacar air. Oleh karena itu, vaksin lain, seperti vaksin influenza, vaksin DPT, dan vaksin varicella dapat digunakan sebagai vaksin pneumonia.

Jadwal Pemberian Vaksin Pneumonia

Pemberian vaksinasi pneumokokus pada tiap orang berbeda-beda tergantung usia. Pada anak-anak, vaksin pneumonia diberikan pada anak berusia di bawah 1 tahun dengan jadwal pemberian sebanyak 3 kali, yaitu saat anak berusia usia 2 bulan, 4 bulan, dan 6 bulan. Dosis pengulangan diberikan pada usia 12–15 bulan.

Pada orang dewasa, pemberian vaksin dibagi menjadi 2 tahap. Vaksin pneumonia yang pertama diberikan adalah vaksin jenis PCV, sedangkan vaksin pneumonia jenis PPV diberikan dengan jeda waktu 1 tahun setelah pemberian vaksin PCV.

Efek Samping Vaksin Pneumonia

Seperti vaksin pada umumnya, pemberian vaksin pneumonia juga dapat menimbulkan efek samping, seperti demam ringan serta nyeri dan bengkak di area penyuntikan vaksin. Namun, efek samping tersebut umumnya hanya bersifat ringan dan biasanya dapat membaik dengan sendirinya dalam waktu sekitar 2–3 hari.

Terkadang, vaksin penumonia bisa menimbulkan efek samping berupa reaksi alergi atau bahkan alergi berat (anafilaksis). Namun, efek samping serius ini sangat jarang terjadi.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pemberian vaksin pneumonia merupakan langkah yang aman dan efektif untuk mencegah infeksi bakteri pneumokokus yang berbahaya.

Anda disarankan untuk berkonsultasi ke dokter jika efek samping vaksin pneumonia tidak kunjung membaik dalam waktu lebih dari 2 hari atau jika muncul reaksi alergi berat, seperti sesak napas, lemas, atau pingsan setelah mendapatkan vaksin pneumokokus.

Di Indonesia, vaksin pneumonia masih merupakan imunisasi pilihan dan Anda bisa mendapatkannya di klinik atau rumah sakit terdekat yang menyediakannya.




Vincristine - Manfaat, dosis dan efek samping

Vincristine adalah obat kemoterapi yang digunakan dalam pengobatan beberapa jenis kanker. Obat ini umumnya dikombinasikan dengan obat kemoterapi lain untuk mengatasi kanker darah pada orang dewasa dan beberapa jenis kanker pada anak-anak.

Vincristine bekerja dengan menghambat pembelahan sel sehingga pertumbuhan sel kanker dalam tubuh dapat diperlambat atau dihentikan. Pada orang dewasa, obat ini dapat digunakan untuk mengatasi kanker getah bening (limfoma), tumor otak, kanker paru-paru, atau kanker darah, seperti leukemia mieloblastik akut.

Vincristine

Sementara pada anak-anak, vincristine dapat digunakan untuk mengatasi tumor Wilms (kanker pada ginjal), neuroblastoma (kanker pada sel saraf), atau rhabdomyosarcoma (kanker pada otot).

Merek dagang vincristine: Rasteo, Vincristine, Vincristine Sulfate, DBL Vincristine Sulfate, dan Vistin.

Apa Itu Vincristine

Golongan Obat kemoterapi
Kategori Obat resep
Manfaat Mengobati beberapa jenis kanker
Digunakan oleh Anak hingga dewasa
Vincristine untuk ibu hamil dan menyusui Kategori D: Ada bukti bahwa kandungan obat berisiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar daripada risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam nyawa.

Belum diketahui apakah vincristine dapat terserap ke dalam ASI atau tidak. Namun, semua obat kemoterapi diduga dapat mengubah struktur kimia dari ASI sehingga tidak boleh digunakan pada ibu menyusui.

Bentuk obat Cairan suntik

Peringatan Sebelum Menggunakan Vincristine

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menjalani pengobatan dengan vincristine, yaitu:

  • Beri tahu dokter jika Anda alergi terhadap vincristine atau obat kemoterapi yang lain. Vincristine tidak boleh digunakan pada pasien yang alergi terhadap obat ini.
  • Informasikan kepada dokter jika Anda menderita penyakit Charcot-Marie-Tooth, atau sedang menjalani radioterapi.
  • Beri tahu dokter jika Anda memiliki riwayat gangguan pada saraf atau otot, seperti lemah otot, nyeri yang menyengat atau seperti tersetrum, kesemutan, atau mati rasa.
  • Beri tahu dokter jika sedang atau pernah menderita asam urat tinggi, batu ginjal, penyakit liver, obstruksi usus, penyakit jantung, hipertensi, kelainan darah, gangguan pernapasan, atau penyakit infeksi, seperti cacar air atau herpes zoster.
  • Jangan melakukan vaksinasi selama menjalani pengobatan dengan vincristine tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Hindari berada dekat dengan orang yang baru saja menjalani vaksinasi dengan vaksin hidup, seperti vaksin influenza atau vaksin MMR.
  • Sebisa mungkin hindari kontak dengan orang yang sedang menderita penyakit infeksi, seperti flu, cacar air, atau campak. Penggunaan vincristine berisiko membuat Anda rentan terhadap penyakit infeksi.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah mengalami sembelit parah akibat penggunaan vincristine sebelumnya.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, merencanakan kehamilan, atau sedang menyusui. Konsultasikan dengan dokter mengenai alat kontrasepsi yang paling efektif untuk Anda selama menjalani kemoterapi dengan vincristine.
  • Jangan mengemudikan kendaraan atau melakukan aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan setelah menggunakan vincristine jika Anda mengalami pusing, kelelahan, atau mati rasa di tangan atau kaki.
  • Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat lain, termasuk suplemen dan produk herbal, untuk mengantisipasi interaksi obat.
  • Segera ke dokter bila mengalami reaksi alergi obat atau overdosis setelah menggunakan vincristine.

Dosis dan Aturan Pakai Vincristine

Dosis vincristine yang diberikan dokter akan disesuaikan dengan kondisi dan respons pasien terhadap pengobatan, serta protokol kemoterapi berdasarkan jenis kanker. Berikut ini adalah dosis vincristine yang biasa diberikan kepada orang dewasa dan anak-anak:

Anak-anak

Dosis anak dengan berat badan ≤10 kg adalah 0,05 mg/kgBB, 1 kali seminggu. Dosis selanjutnya disesuaikan dengan tingkat toleransi pasien terhadap obat. Selain dengan berat badan, dosis anak-anak juga bisa disesuaikan menurut luas permukaan tubuh dengan dosis 1,5–2 mg/m2, 1 kali seminggu.

Dewasa

Untuk pasien dewasa, dosisnya adalah 1.4–1.5 mg/m2 luas permukaan tubuh, 1 kali seminggu. Dosis maksimal adalah 2 mg per minggu.

Cara Menggunakan Vincristine dengan Benar

Vincristine hanya boleh diberikan oleh dokter atau petugas medis dalam pengawasan dokter. Obat ini diberikan melalui infus pada pembuluh darah vena di tangan atau lengan.

Segera laporkan ke dokter atau petugas medis jika muncul nyeri, rasa terbakar, atau benjolan pada area yang dipasang infus.

Perbanyak minum air putih selama menjalani pengobatan dengan vincristine guna mencegah terjadinya gangguan fungsi ginjal. Hindari benturan dan jauhi segala kegiatan yang berisiko menimbulkan cedera guna mencegah terjadinya perdarahan.

Konsumsi cukup sayuran dan buah-buahan untuk mencegah konstipasi selama menjalani terapi dengan vincristine. Konsultasikan dengan dokter jika Anda tidak bisa buang air besar selama lebih dari 3 hari setelah penggunaan obat vincristine.

Lakukan pemeriksaan kesehatan ke dokter secara berkala selama menggunakan vincristine. Pemeriksaan rutin perlu dilakukan agar perkembangan kondisi dan efektivitas obat dapat selalu terpantau.

Interaksi Vincristine dengan Obat Lain

Penggunaan vincristine bisa meningkatkan risiko terjadinya efek interaksi berikut jika digunakan bersama obat-obatan tertentu, antara lain:

  • Penggumpalan darah jika digunakan bersama tamoxifen
  • Efek samping berbahaya dari vincristine jika digunakan bersama L-asparaginase atau ganciclovir
  • Efek samping berupa gangguan pada pendengaran dan sel saraf jika digunakan bersama obat kemoterapi berbasis platinum, seperti cisplatin
  • Kerusakan saraf jika digunakan dengan isoniazid, itraconazole, voriconazole, atau nifedipine
  • Penurunan produksi sel darah pada sumsum tulang (efek myelotoxicity) jika digunakan bersama zidovudine
  • Efek samping berat jika digunakan bersama antibiotik jenis makrolida, seperti azithromycin dan erythromycin
  • Peningkatan kadar etoposide di dalam tubuh
  • Penurunan efektivitas obat antiepilepsi, serta tablet digoxin dan verapamil
  • Perlambatan proses penguraian vincristine sehingga berisiko menimbulkan efek samping jika digunakan bersama miconazole
  • Serangan penyakit infeksi dan penurunan efektivitas vaksin hidup, seperti vaksin BCG, vaksin influenza, vaksin campak, atau vaksin tifoid

Efek Samping dan Bahaya Vincristine

Efek samping yang dapat timbul setelah menggunakan vincristine antara lain:

Beri tahu dokter jika efek samping tersebut tidak kunjung membaik dan bertambah parah. Segera ke dokter bila Anda mengalami reaksi alergi obat atau efek samping serius berikut:

  • Gejala infeksi, seperti demam, menggigil, batuk, atau sakit tenggorokan yang tidak kunjung sembuh
  • Gejala gangguan hati, seperti urine berwarna pekat, warna kulit dan bagian putih pada mata menjadi kekuningan (penyakit kuning)
  • Gangguan mental dan mood, seperti linglung, depresi, atau halusinasi
  • Nyeri saat buang air kecil, sulit berkemih, urine yang keluar sedikit
  • Gangguan keseimbangan atau gangguan kordinasi gerak tubuh
  • Kesulitan menggerakkan otot, termasuk otot wajah
  • Nyeri, kesemutan, atau mati rasa pada tangan dan kaki
  • Suara serak dan sulit berbicara
  • Gangguan penglihatan, misalnya tidak bisa melihat tiba-tiba
  • Gangguan pendengaran, termasuk tidak bisa mendengar
  • Memar atau perdarahan yang tidak wajar
  • Dada nyeri atau seperti tertekan, yang bisa menjalar ke lengan dan rahang
  • Kejang

Search This Blog

Menu Halaman Statis

Contact Form

Name Email * Message *

Category

Popular Posts