PubMed Media Kesehatan


Susu Pasteurisasi vs Susu Segar, Ini Faktanya!

Susu pasteurisasi sering kali dianggap kurang baik dibandingkan dengan susu mentah atau segar. Padahal, jika ditinjau secara medis, mengonsumsi susu mentah justru membuat seseorang lebih berisiko terinfeksi kuman berbahaya daripada mengonsumsi susu pasteurisasi.

Sebagaimana susu pada umumnya, susu yang telah dipasteurisasi pun memiliki beragam nutrisi yang baik bagi kesehatan tubuh, seperti vitamin, mineral, dan protein. Sayangnya, mitos negatif yang berkembang di masyarakat tentang susu pasteurisasi maupun susu steril membuat sebagian orang enggan mengonsumsinya dan lebih memilih susu segar.

Mengenal Pasteurisasi pada Susu

Pasteurisasi merupakan metode sterilisasi yang berfungsi membunuh kuman penyebab penyakit yang dapat mengontaminasi susu. Prosesnya dilakukan dengan memanaskan susu dalam suhu dan durasi tertentu. Dari beberapa jenis pasteurisasi, salah satu teknik yang paling umum adalah ultra high temperature atau UHT.

Pada teknik UHT, susu dipanaskan pada suhu 137-150 derajat Celsius selama sekitar 2 detik. Setelah itu, susu disimpan dalam wadah kedap udara. Selama kemasannya tidak dibuka, susu yang telah diproses dengan pasteurisasi UHT bisa bertahan hingga 90 hari meski tidak disimpan dalam lemari pendingin atau kulkas.

Susu Pasteurisasi vs Susu Segar

Berikut beberapa mitos dan fakta tentang susu pasteurisasi yang perlu Anda ketahui:

1. Pasteurisasi membuat nilai nutrisi susu berkurang

Susu memiliki beragam nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan, di antaranya protein, lemak, mineral, dan vitamin. Mitos tentang pasteurisasi membuat nilai nutrisi pada susu berkurang tidaklah benar. Setelah proses pasteurisasi, kandungan nutrisi dan manfaat susu UHT masih tetap sama.

2. Hanya susu pasteurisasi yang perlu dihindari pada intoleransi laktosa

Intoleransi laktosa adalah kondisi di mana tubuh tidak dapat mencerna laktosa, yakni jenis gula yang terdapat pada susu dan produk-produk olahan susu, sehingga menimbulkan berbagai keluhan pencernaan. Pada kondisi ini, bukan hanya laktosa pada susu pasteurisasi yang tidak dapat dicerna, tapi juga laktosa pada susu segar.

3. Hanya susu pasteurisasi yang dapat menimbulkan alergi

Mitos ini tidaklah benar. Baik susu pasteurisasi atau susu segar sama-sama dapat menimbulkan alergi. Alergi susu lebih berisiko terjadi pada orang yang memiliki keluarga kandung dengan kondisi ini dan pada penderita kondisi tertentu, misalnya dermatitis atopik.

4. Pasteurisasi membuat kadar asam lemak berkurang

Penelitian menunjukkan tidak adanya perbedaan signifikan antara kadar asam lemak pada susu segar dengan susu pasteurisasi. Asam lemak yang memiliki aneka manfaat bagi kesehatan tubuh, termasuk sebagai cadangan energi, tetap bisa didapatkan pada susu pasteurisasi.

5. Kadar k alsium b erkurang a kibat p asteurisasi

Kalsium yang terkandung dalam susu berfungsi untuk menunjang pertumbuhan dan memelihara kesehatan tulang. Mitos atau anggapan bahwa pasteurisasi membuat kadar kalsium dalam susu berkurang adalah hal yang tidak benar. Kadar kalsium tetap terjaga meskipun susu diproses dengan pasteurisasi.

Secara garis besar, mengonsumsi susu yang telah dipasteurisasi lebih dianjurkan dibandingkan dengan susu mentah atau segar. Alasan utamanya adalah karena proses pasteurisasi terbukti efektif dalam membunuh kuman penyebab penyakit.

Maka dari itu, penting untuk memastikan bahwa susu dan produk olahan susu yang Anda beli sudah dipasteurisasi. Jika tidak, Anda akan lebih berisiko mengalami keracunan makanan akibat mengonsumsi susu mentah.

Jika masih ragu dalam memilih jenis susu yang baik untuk dikonsumsi, Anda bisa berkonsultasi langsung dengan dokter. Dokter akan menentukan asupan yang sesuai dengan kondisi Anda, termasuk jenis susu dan porsinya.




Osteoporosis - Gejala, penyebab dan mengobati

Osteoporosis adalah kondisi ketika kepadatan tulang berkurang sehingga tulang menjadi keropos dan mudah patah. Osteoporosis jarang menimbulkan gejala dan biasanya baru diketahui ketika penderitanya jatuh atau mengalami cedera yang menyebabkan patah tulang.

Osteoporosis bisa dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak dan orang dewasa. Namun, osteoporosis lebih sering terjadi pada wanita yang telah memasuki masa menopause.  Kondisi ini disebabkan oleh berkurangnya kadar hormon estrogen yang berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang.

Osteoporosis - PubMed

Penyebab dan Gejala Osteoporosis

Osteoporosis disebabkan oleh menurunnya kemampuan tubuh dalam meregenerasi tulang sehingga kepadatan tulang berkurang. Penurunan kemampuan regenerasi ini biasanya akan dimulai saat seseorang memasuki usia 35 tahun.

Selain faktor usia, ada beberapa faktor lain yang bisa meningkatkan risiko terjadinya osteoporosis, seperti kekurangan vitamin D, hipokalsemia, gangguan hormon, jarang berolahraga, konsumsi obat-obatan tertentu, serta kebiasaan merokok.

Osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun. Kondisi ini biasanya baru diketahui saat seseorang mengalami cedera yang menyebabkan patah tulang.  Seiring berkurangnya kepadatan tulang, penderita bisa mengalami gejala berikut:

  • Mudah mengalami patah tulang walau hanya karena benturan yang ringan
  • Nyeri punggung yang biasanya disebabkan oleh patah tulang belakang
  • Postur badan membungkuk
  • Tinggi badan berkurang

Pengobatan dan Pencegahan Osteoporosis

Pengobatan osteoporosis bertujuan untuk mencegah terjadinya patah tulang atau tulang retak. Jika penderita osteoporosis sangat berisiko untuk mengalami patah tulang, dokter dapat memberikan obat-obatan untuk meningkatkan kepadatan tulang, seperti:

  • Bifosfonat
  • Antibodi monoklonal
  • Terapi hormon

Jika diperlukan, penderita dapat diberikan obat untuk meningkatkan pembentukan tulang, seperti teriparatide dan abaloparatide. Pasien juga akan dianjurkan untuk mengurangi aktivitas yang dapat menyebabkannya terjatuh atau cedera.

Pada beberapa keadaan, osteoporosis sulit untuk dicegah. Akan tetapi, Anda bisa mengurangi risiko terkena osteoporosis dengan berhenti merokok, melakukan pemeriksaan tulang berkala jika sudah menopause, berolahraga secara teratur, dan mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin D dan kalsium, misalnya susu sapi dan susu kedelai, atau suplemen kalsium sesuai dengan arahan dokter.




9 Cara Berhenti Merokok yang Ampuh

Bagi para perokok, terutama perokok berat, berhenti merokok bukanlah hal yang mudah. Namun, ada beberapa cara berhenti merokok yang dapat dilakukan agar terlepas dari kebiasaan buruk ini. Dengan begitu, tubuh bisa kembali sehat dan risiko munculnya beragam penyakit pun akan menurun. 

Berhenti merokok merupakan tantangan tersendiri bagi para perokok. Pasalnya, beberapa kandungan dalam rokok dapat menimbulkan efek kecanduan sehingga dapat memicu munculnya gejala putus nikotin saat seseorang berusaha berhenti merokok.

Namun, bukan berarti Anda tidak dapat berhenti merokok. Dengan kesabaran dan tekad yang kuat, Anda bisa terbebas dari belenggu rokok dan bahaya yang menyertainya.

Berbagai Cara Berhenti Merokok

Bila Anda seorang perokok aktif dan berniat untuk menghentikan kebiasaan buruk ini, ada beberapa cara berhenti merokok yang dapat Anda lakukan, yakni:

1. Mengelola stres

Stres bisa menjadi salah satu alasan seseorang memilih untuk merokok karena kandungan nikotin di dalamnya dapat memberikan efek relaksasi dengan cepat. Meski demikian, beberapa penelitian membuktikan bahwa kebiasaan merokok justru dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami stres.

Untuk meredakan stres, ubah kebiasaan merokok secara perlahan dengan melakukan beberapa aktivitas yang disenangi, seperti berolahraga, mendapatkan terapi pijat, atau meditasi. Selain itu, sebisa mungkin hindari pula situasi yang bisa mendatangkan stres.

2. Menghindari pemicu kebiasaan merokok

Saat sedang berusaha berhenti merokok, sebisa mungkin hindari faktor atau kebiasaan yang dapat membuat Anda kembali merokok, seperti minum kopi atau alkohol, maupun berkumpul dengan sesama perokok.

Jika terbiasa merokok setelah makan, Anda bisa mencari cara lain sebagai pengganti, misalnya dengan mengunyah permen karet atau menggosok gigi.

3. Mengonsumsi makanan sehat

Sebagian perokok aktif sering merasa kurang berselera untuk makan. Hal ini karena nikotin di dalam rokok dapat mengurangi sensitivitas indra perasa dan penciuman.

Penelitian menunjukkan bahwa makanan sehat, seperti sayur dan buah-buahan, dapat mengurangi hasrat untuk kembali merokok. Tak hanya itu, makanan sehat juga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh sekaligus mengembalikan selera makan yang berkurang akibat merokok.

4. Berolahraga secara rutin

Tak hanya membuat tubuh lebih sehat dan bugar, olahraga juga dapat mengurangi kecanduan akan nikotin. Saat keinginan untuk merokok datang, Anda dapat mengalihkan keinginan ini dengan melakukan olahraga, seperti jalan santai, berenang, atau bersepeda.

5. Membersihkan rumah secara berkala

Kebersihan rumah juga dapat menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung Anda berhenti merokok. Anda bisa mencuci pakaian, sprei, karpet, atau tirai yang mengandung aroma rokok.

Anda juga bisa menggunakan pengharum ruangan untuk menghilangkan bau asap rokok dan mengalihkan pikiran dari berbagai hal yang bisa mengingatkan Anda pada rokok, termasuk baunya.

6. Melibatkan keluarga dan teman terdekat

Beri tahu keluarga dan kerabat dekat bahwa Anda sedang dalam proses berhenti merokok. Dengan demikian, mereka dapat membantu dan memberikan dukungan agar Anda selalu ingat akan tujuan berhenti merokok yang ingin dicapai.

7. Mencoba terapi pengganti nikotin (nicotine-replacement therapy)

Terapi pengganti nikotin umumnya bertujuan untuk mengatasi rasa frustrasi dan meredakan gejala putus obat yang sering dirasakan saat berusaha berhenti merokok. Media terapi pengganti rokok ada beragam, seperti permen karet, tablet hisap, dan koyo nikotin.

Meski dianggap aman dan dapat mengurangi kecanduan akan rokok, Anda tetap disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum melakukan NRT.

8. Menjalani terapi perilaku

Konseling dengan psikolog atau konselor dapat membantu Anda mengidentifikasi faktor pemicu kebiasaan merokok dan menemukan strategi berhenti merokok yang sesuai dengan kondisi Anda.

Untuk memaksimalkan keberhasilannya, terapi perilaku dapat dipadukan dengan terapi pengganti nikotin dan pemberian obat-obatan oleh dokter.

9. Mencoba hipnoterapi

Cara berhenti merokok juga dapat berupa terapi alternatif berupa hipnoterapi. Efektivitas hipnoterapi untuk menghentikan kebiasaan merokok memang belum diketahui secara pasti. Namun, sebagian orang mengaku telah merasakan manfaatnya.

Beberapa jenis obat, seperti bupropion dan varenicline, juga dapat membantu Anda berhenti merokok. Namun, obat ini hanya boleh dikonsumsi sesuai anjuran dan di bawah pengawasan dokter.

Berhenti merokok memang bukan hal yang mudah dilakukan. Tidak sedikit pula orang yang gagal melakukannya. Namun, komitmen Anda sebagai upaya untuk berhenti merokok akan sangat membantu dalam menyingkirkan kebiasaan tersebut.

Saat merasa kesulitan berhenti merokok, coba ingat kembali alasan mengapa Anda ingin berhenti merokok, misalnya agar tubuh terbebas dari berbagai macam penyakit atau keluarga Anda terhindar dari bahaya menjadi perokok pasif.

Namun, jika Anda masih merasa kesulitan berhenti merokok meski telah melakukan berbagai cara berhenti merokok di atas, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Dengan begitu, dokter dapat menyarankan cara berhenti merokok yang efektif dan sesuai dengan kondisi Anda.




Rahasia Ahli Kulit Sehat dalam Menjaga Kesehatan Kulit

Menjaga kesehatan kulit merupakan kunci kulit cantik alami. Kenali rahasia ahli kulit sehat dalam mendapatkan kulit cantik, bersih, dan sehat. 

Tahukah Anda? Kulit kita memiliki siklus regenerasi setiap 27 hari dan menyebabkan penumpukan sel kulit mati yang perlu dibersihkan secara teratur dan dijaga kesehatannya. Pasalnya, jika tidak dibersihkan, sel kulit mati yang bercampur dengan keringat, debu, polusi, paparan ac, paparan sinar matahari, dan kotoran dapat memperburuk kondisi kulit Anda. Hasilnya, kulit dapat terlihat kusam dan tidak sehat.

Kenali Cara Tepat Menjaga Kesehatan Kulit

Jangan biarkan aktivitas sehari-hari merusak kesehatan kulit Anda. Di bawah ini adalah beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk menjaga kesehatan kulit.

Bersihkan wajah dua kali sehari

Membersihkan kulit wajah merupakan hal yang sangat penting guna menghilangkan bakteri dan kotoran, serta menjaga kesehatan kulit. Terlebih lagi setelah aktivitas seharian dan menggunakan kosmetik.

Jaga kelembapan kulit Anda

Menjaga kelembapan kulit tidak kalah penting dengan membersihkan wajah. Pelembap dapat membantu dalam menjaga kulit agar tidak kering dan melindunginya dari cuaca atau faktor lingkungan yang dapat merusak kulit Anda. Selain itu, ahli kulit sehat juga menyatakan bahwa memberikan pelembap pada wajah juga dapat membantu kulit mempertahankan tingkat kelembapan alaminya.

Berikan kulit Anda perlindungan terhadap matahari

Melindungi kulit dari sinar matahari merupakan hal yang sangat penting, sekalipun Anda tidak beraktivitas di bawah matahari terik. Penting diketahui, sinar matahari dapat merusak lapisan kulit Anda dan dapat membuatnya terlihat kusam, keriput, dan masalah kulit lainnya.

Supaya kulit sehat tanpa takut matahari, Anda dapat menggunakan krim pelindung sinar matahari atau tabir surya meski saat cuaca mendung, setidaknya dengan SPF 15. Gunakan tabir surya 15-20 menit sebelum Anda keluar ruangan, juga dua jam sesudahnya bila Anda masih terekspos di bawah sinar matahari.

Rahasia Ahli Kulit Sehat Ada Pada Kandungan Perawatan Kulit Anda

Guna menjaga kesehatan kulit, Anda tidak hanya perlu membersihkan kulit secara teratur. Anda juga perlu memerhatikan kandungan yang ada pada produk perawatan kulit Anda. Ahli kulit sehat menyatakan bahwa pembersih dan perawatan kulit yang baik adalah yang tidak merusak kondisi kulit Anda dan dapat mengembalikan kelembapan alami kulit.

Pembersih

Pembersih yang baik adalah yang tidak merusak lapisan kulit. Gunakanlah pembersih wajah dengan bahan ringan, mengandung stearyl alcohol sehingga busa tidak berlebih, tidak berwarna, dan tidak berbau atau mengandung parfum. Hal ini dimaksudkan agar dapat menjaga kesehatan kulit dengan baik dan tidak menimbulkan iritasi.

Pelembap kulit

Bagi Anda yang memiliki kulit kering, gunakanlah pelembap kulit yang mengandung dimethicone, sodium PCA, shea butter, panthenol, ceramide, dan cyclopentasiloxane. Bahan-bahan ini memiliki kandungan yang sangat baik untuk mengatasi masalah kulit kering, anti radang, pelindung kulit terhadap sinar matahari, dan tidak mengiritasi kulit.

Sementara, untuk Anda yang memiliki  kulit normal, Anda dapat menggunakan pelembap dengan kandungan cylomethicone. Dan bagi Anda yang memiliki kulit berminyak, bisa menggunakan pelembap kulit dengan berbahan dasar air.

Tabir surya

Untuk tabir surya, gunakanlah krim pelindung yang bertuliskan broad-spectrum. Tabir surya seperti ini biasanya memberikan pelindungan kulit terhadap sinar UVA dan UVB. Ingatlah untuk menggunakan tabir surya setidaknya dengan SPF 15.

Menjaga kesehatan kulit bukanlah hal yang sulit, asalkan kita melakukannya dengan teratur dan tahu kandungan produk perawatan kulit yang kita butuhkan. Kini, Anda sudah tahu apa saja rahasia ahli kulit sehat dalam menjaga kulit tetap sehat, cantik, dan bebas kusam, bukan? Yuk, praktikkan beberapa cara di atas dan dapatkan kulit segar dan sehat idaman kita semua.




Kanker Mata Melanoma - Gejala, penyebab dan mengobati

Kanker mata melanoma adalah kanker yang menyerang sel melanosit di mata. Sel melanosit ber fungsi memproduksi melanin, ya itu pigmen yang menghasilkan warna pada kulit, rambut, dan mata.

Kanker mata melanoma merupakan jenis kanker yang sangat langka. Akan tetapi, kanker ini merupakan jenis kanker mata primer yang paling sering terjadi. Kanker mata primer adalah kanker mata yang berasal dari sel-sel di mata itu sendiri, bukan kanker yang menyebar dari bagian tubuh lain.

Kanker Mata Melanoma - PubMed

Kanker mata melanoma sering kali menyerang jaringan uvea yang terdiri dari iris (selaput pelangi), badan siliar, dan koroid. Kanker mata melanoma yang terjadi di uvea disebut juga dengan melanoma intraokular.

Kanker mata melanoma sulit terdeteksi karena jarang menimbulkan gejala spesifik pada stadium awal. Namun, pada tahap lanjut, pertumbuhan sel kanker bisa menyebabkan gangguan penglihatan, munculnya floaters, bahkan kebutaan.

Penyebab Kanker Mata Melanoma

Kanker mata melanoma disebabkan oleh mutasi atau perubahan genetik pada sel melanosit. Mutasi tersebut menyebabkan sel-sel melanosit tumbuh tidak terkendali dan merusak sel serta jaringan di sekitarnya.

Menurut ukurannya, kanker mata melanoma dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu:

  • Kecil, jika jaringan melanoma memiliki lebar 5–16 mm dan ketebalan sampai dengan 1–3 mm
  • Sedang, jika lebar jaringan melanoma memiliki lebar tidak lebih dari 16 mm dengan ketebalan sekitar 3–8 mm
  • Besar, jika lebar jaringan melanoma lebih dari 16 mm atau ketebalannya lebih dari 8 mm

Penyebab terjadinya mutasi gen ini belum diketahui secara pasti. Namun, ada faktor dan kondisi yang bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker mata melanoma, antara lain:

  • Berkulit putih
  • Berusia lanjut
  • Memiliki keluarga dengan riwayat kanker mata melanoma
  • Memiliki warna mata yang terang, seperti biru, hijau, atau abu-abu
  • Sering terpapar sinar matahari atau sinar ultraviolet, misalnya karena sering menggunakan lampu ultraviolet (sunbed) untuk menggelapkan kulit (tanning)
  • Menderita kondisi kulit tertentu, seperti dysplastic nevus syndrome, yaitu kondisi saat tahi lalat tumbuh dalam jumlah banyak dan menyebar di berbagai bagian tubuh
  • Menderita nevus of Ota atau oculodermal melanocytosis, yaitu kondisi ketika terdapat kelebihan melanosit pada jaringan sehingga terjadi hiperpigmentasi (lebih gelap atau muncul bercak coklat) di mata, termasuk bagian uvea

Selain beberapa kondisi yang telah disebutkan sebelumnya, terlalu sering main HP dan jenis pekerjaan tertentu juga bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker mata melanoma. Contohnya adalah tukang las. Namun, hubungan dan kaitan keduanya masih perlu diteliti lebih lanjut.

Gejala Kanker Mata Melanoma

Kanker mata melanoma dapat menyerang bagian mata mana pun, termasuk lapisan terluar mata (konjungtiva). Namun, kanker ini paling sering menyerang bagian uvea mata yang terdiri dari jaringan iris, badan siliaris, dan jaringan koroid.

Sebagian besar kanker mata melanoma yang tumbuh di bagian uvea cenderung tidak terlihat sehingga sulit untuk terdeteksi. Biasanya, kanker mata melanoma baru akan menimbulkan gejala jika sudah berkembang ke tahap lanjut.

Gejala kanker mata melanoma bisa bervariasi. Hal ini tergantung pada lokasi dan ukuran kanker, serta apakah pertumbuhan sel kanker sudah memengaruhi retina. Secara umum, beberapa gejala yang menandakan kanker mata melanoma adalah:

  • Pandangan kabur, buram, atau tidak bisa melihat
  • Hilangnya penglihatan tepi
  • Muncul bintik hitam di iris yang terlihat makin membesar
  • Muncul sensasi seperti kilatan cahaya atau debu kecil (floaters)
  • Terasa ada bintik-bintik atau garis yang menghalangi pandangan
  • Tumbuh benjolan di kelopak mata yang bertambah besar
  • Satu mata terlihat lebih menonjol
  • Perubahan pada bentuk pupil

Pada tahap lanjut, kanker mata melanoma bahkan bisa menimbulkan nyeri di sekitar mata. Akan tetapi, kondisi ini terjadi jika kanker telah menyebar ke organ lain.

Kapan harus ke dokter

Kanker mata melanoma sering kali tidak menunjukkan gejala apa pun pada awal perkembangannya. Kondisi ini biasanya diketahui saat penderita memeriksa mata untuk keluhan atau penyakit yang lain.

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika muncul gejala di atas. Gejala kanker mata melanoma dapat menyerupai keluhan dari kondisi medis lain. Pemeriksaan sejak dini dapat memastikan penyebab keluhan yang Anda alami.

Segera ke dokter jika Anda tidak bisa melihat secara mendadak. Hal tersebut dapat menandakan adanya kondisi yang berbahaya.

Diagnosis Kanker Mata Melanoma

Untuk menentukan penyebab keluhan yang dialami, dokter akan melakukan tanya jawab seputar keluhan yang dialami, riwayat kesehatan, dan riwayat pekerjaan.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi mata pasien. Pada pemeriksaan mata, dokter mungkin akan meneteskan obat pada mata untuk memperbesar pupil. Hal ini bertujuan agar dokter bisa melihat seluruh bagian mata.

Setelah itu, pemeriksaan mata akan dilakukan dengan bantuan beberapa alat, seperti:

  • Oftalmoskopi, untuk melihat bagian dalam mata, termasuk retina dan saraf optik
  • Slit-lamp biomicroscopy , untuk memeriksa retina, saraf optik, dan bagian lain di mata menggunakan pancaran sinar dan mikroskop yang khusus digunakan untuk mata
  • Gonioskopi, untuk melihat pertumbuhan kanker pada area yang sulit dilihat, sekaligus untuk melihat ada tidaknya penyumbatan di tempat keluarnya cairan mata

Jika dibutuhkan, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang berikut untuk memastikan kondisi mata dan penyebaran kanker:

  • Pemindaian dengan USG mata, CT scan, PET scan, dan MRI, untuk melihat kondisi bagian dalam mata dan untuk melihat penyebaran kanker mata
  • Angiografi mata, untuk memetakan kondisi pembuluh darah mata, termasuk mengetahui keberadaan tumor
  • Biopsi mata, untuk mendeteksi sel kanker dengan mengambil sampel jaringan mata
  • Ocular coherence tomography (OCT), untuk mengetahui kondisi mata dengan menggunakan gelombang cahaya

Kanker mata melanoma dapat dikelompokkan sebagai kanker stadium lanjut jika sudah menyebar ke jaringan lain di sekitar mata dan saraf optik. Selain di sekitar mata, kanker mata juga bisa menyebar ke bagian tubuh lain, seperti kelenjar getah bening dan hati.

Pengobatan Kanker Mata Melanoma

Metode pengobatan kanker mata melanoma tergantung pada lokasi, ukuran, stadium, serta usia dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Jika melanoma masih berukuran sangat kecil dan tidak menyebar, dokter akan melakukan pengamatan dengan meminta pasien untuk kontrol rutin.

Apabila melanoma tumbuh dengan cepat, dokter akan memberikan pengobatan. Metode pengobatan yang dapat dilakukan antara lain:

Operasi

Operasi bertujuan untuk mengangkat jaringan melanoma di mata. Jenis operasi yang dilakukan tergantung pada ukuran dan gejala kanker. Jika kanker berukuran kecil, operasi dilakukan dengan mengangkat jaringan kanker dan sedikit jaringan sehat di sekeliling kanker.

Beberapa metode operasi yang dapat dilakukan antara lain:

  • Iridektomi atau pengangkatan sebagian iris
  • Iridosiklektomi, yaitu pengangkatan iris dan badan siliaris
  • Sclerouvectomy atau endoreseksi, yaitu pengangkatan tumor dengan mengangkat sesedikit mungkin bagian lain di mata

Khusus untuk kanker yang berukuran besar, operasi dilakukan untuk mengangkat seluruh bola mata (enukleasi). Operasi ini dapat disertai pemasangan bola mata palsu (prostetik) untuk memperbaiki tampilan pada mata.

Radioterapi

Radioterapi dilakukan dengan menembakkan sinar radiasi berenergi tinggi ke jaringan kanker. Radioterapi biasanya dilakukan untuk mengatasi kanker mata berukuran sedang.

Jenis radioterapi yang umum digunakan untuk menangani kanker mata melanoma adalah brachytherapy dan stereotactic radiotherapy.

Krioterapi

Krioterapi dilakukan dengan cara membekukan jaringan kanker di mata sehingga rusak dan mati.

Terapi penyinaran

Terapi ini menggunakan sinar dengan frekuensi tertentu. Salah satu contohnya adalah termoterapi yang menggunakan sinar inframerah.

Terapi penyinaran dapat dikombinasikan juga dengan terapi lain, terutama radioterapi.

Komplikasi Kanker Mata Melanoma

Jika tidak ditangani dengan baik, kanker mata melanoma dapat menimbulkan komplikasi berbahaya, seperti:

Pencegahan Kanker Mata Melanoma

Penyebab kanker mata melanoma masih belum diketahui secara pasti. Namun, Anda bisa menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, misalnya dengan:

  • Menghindari paparan sinar ultraviolet yang berlebihan, misalnya dengan mengenakan kacamata pelindung saat melakukan terapi dengan lampu ultraviolet (sunbed), atau mengenakan kacamata hitam saat beraktivitas di bawah terik matahari
  • Mengenakan alat pelindung mata saat melakukan aktivitas yang berisiko mencederai atau membahayakan mata



Kenali 5 Cara Mencegah Penyakit Menular Seksual

Penyakit menular seksual merupakan sekelompok penyakit infeksi yang dapat menular lewat hubungan seks. Meski mudah menular melalui hubungan intim, penyakit menular seksual dapat dicegah dengan berbagai cara, mulai dari menerapkan perilaku seks yang aman hingga menjalani gaya hidup sehat.

Penyakit menular seksual umumnya ditularkan melalui hubungan seksual, baik vaginal, anal, maupun oral. Namun, tidak menutup kemungkinan penyakit menular ini ditularkan melalui benda yang telah terkontaminasi, seperti handuk, pakaian basah, atau dudukan toilet.

Ada beberapa penyebab penyakit menular seksual, mulai dari virus, bakteri, hingga parasit. HIV/AIDS, kanker serviks, kutil kelamin, dan hepatitis B adalah contoh penyakit yang disebabkan oleh virus.

Sementara itu, penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri meliputi gonore, sifilis, dan klamidia, sedangkan trikomoniasis disebabkan oleh parasit.

Cara Mencegah Penyakit Menular Seksual

Meski penularannya sangat mudah terjadi, ada beberapa langkah pencegahan yang dapat Anda lakukan untuk melindungi diri dari penyakit menular seksual, yaitu:

1. Hindari berganti-ganti pasangan

Kebiasaan berganti-ganti pasangan seksual dapat meningkatkan risiko terkena penyakit menular seksual. Selain itu, hindari pula berhubungan seksual dengan orang yang suka berganti pasangan atau justru tidak diketahui riwayat seksualnya.

Untuk beberapa kondisi, tidak berhubungan seksual sama sekali atau abstinensia bisa dianggap sebagai cara paling efektif dalam mencegah penyakit menular seksual. Langkah ini bisa diterapkan, terutama saat pasangan Anda sedang menderita penyakit menular seksual.

2. Gunakan kondom

Pastikan Anda menggunakan kondom setiap kali berhubungan seks, baik vaginal, anal, atau oral. Penggunaan kondom yang tepat dapat mencegah Anda tertular penyakit menular seksual.

Anda dapat memilih kondom lateks yang relatif lebih aman dari kebocoran air mani dibandingkan dengan kondom sintetis. Namun, jika Anda memiliki alergi, kondom sintetis adalah pilihan yang tepat. 

3. Lakukan vaksinasi

Beberapa penyakit menular seksual dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi, seperti vaksin hepatitis B dan vaksin HPV untuk kutil kelamin serta kanker serviks. Vaksinasi HPV direkomendasikan bagi anak perempuan mulai dari 9 usia tahun hingga wanita dewasa yang berusia 26 tahun.

Sementara itu, vaksin hepatitis B direkomendasikan agar diberikan sesegera mungkin setelah bayi lahir dalam kurun waktu 24 jam. Selanjutnya, dosis kedua dan ketiga vaksin hepatitis B diberikan dengan jarak minimal 4 minggu. Perlindungan vaksin ini diketahui dapat bertahan sekitar 20 tahun atau bahkan seumur hidup.

4. Lakukan s unat 

Sunat pada laki-laki terbukti dapat mengurangi risiko terkena penyakit HIV dari hubungan seksual sebanyak 60 persen. Selain itu, sunat juga dapat mencegah penyakit menular seksual lainnya, seperti herpes genital dan infeksi HPV.

5. Hindari konsumsi minuman beralkohol dan narkoba

Saat berada di bawah pengaruh narkoba dan alkohol, perilaku seseorang akan sulit dikendalikan sehingga berisiko tinggi melakukan hubungan seksual yang tidak aman.

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman beralkohol dan perilaku seksual pada wanita muda dapat meningkatkan risiko terkena HIV dan penyakit menular seksual lainnya.

Meski dapat dihindari, penyakit menular seksual juga bisa terjadi tanpa Anda sadari. Oleh karena itu, penting untuk mengenali beberapa gejala penyakit menular seksual berikut ini:

  • Munculnya rasa terbakar atau nyeri saat buang air kecil
  • Keluarnya cairan yang tidak biasa dari penis
  • Keputihan atau perdarahan vagina yang tidak normal
  • Munculnya rasa gatal atau terbakar di area vagina
  • Nyeri atau sakit saat berhubungan seksual
  • Munculnya benjolan atau luka di dekat mulut atau alat kelamin

Namun, untuk beberapa kasus, seseorang bisa saja terkena penyakit menular seksual tanpa ditandai gejala-gejala seperti yang telah disebutkan di atas.

Guna mencegah penularan penyakit, pastikan Anda selalu menerapkan hubungan seks yang aman dan sehat. Selain itu, penyakit menular seksual juga dapat dicegah dengan rutin memeriksakan kesehatan Anda dan pasangan Anda ke dokter.




Inkontinensia Tinja - Gejala, penyebab dan mengobati

Inkontinensia tinja adalah kondisi ketika tubuh tidak mampu mengendalikan proses buang air besar. Akibatnya, tinja dapat keluar secara tiba-tiba atau tanpa disadari. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengganggu kualitas hidup penderitanya.

Normalnya, bagian ujung usus besar (rektum), anus (dubur), otot panggul, dan sistem saraf dapat mengontrol waktu yang tepat untuk buang air besar (BAB). Namun, ada beberapa kondisi yang membuat salah satu dari bagian tersebut terganggu sehingga menyebabkan seseorang mengalami inkontinensia tinja.

Inkontinensia Tinja - PubMed

Penyebab Inkontinensia Tinja

Ada beragam kondisi yang dapat menyebabkan inkontinensia tinja, yaitu:

1. Cedera pada sfingter anus

Kerusakan pada cincin otot yang terletak di ujung lubang dubur (sfingter anus) bisa menyebabkan seseorang menderita inkontinensia tinja. Kondisi ini biasanya terjadi pada wanita saat melahirkan, terutama yang menjalani tindakan episiotomi.

2. Kerusakan saraf pengontrol sfingter anus

Saraf yang mengendalikan sfingter anus bisa mengalami cedera sehingga terjadi inkontinensia tinja. Cedera tersebut dapat disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti multiple sclerosis dan diabetes.

3. Prosedur operasi

Prosedur operasi untuk menangani kondisi yang berkaitan dengan anus atau rektum, seperti hemoroid (wasir) atau penyakit Hirschprung, dapat menyebabkan inkontinensia tinja.

4. Prolaps rektum

Prolaps rektum atau rectal prolapse adalah kondisi ketika rektum turun ke anus. Kondisi ini bisa menyebabkan penderitanya mengalami inkontinensia tinja.

5. Rectocele

Rectocele juga menjadi salah satu penyebab inkontinensia tinja. Kondisi ini ditandai dengan rektum yang menonjol melalui vagina.

6. Fleksibiltas rektum berkurang

Pada kondisi normal, rektum dapat menampung tinja dengan baik. Namun, kondisi seperti penyakit radang usus, operasi, atau efek radioterapi, bisa membuat rektum terluka dan kaku. Kondisi ini membuat rektum tidak dapat menampung tinja secara maksimal sehingga terjadi inkontinensia tinja.

7. Sembelit kronis

Sembelit kronis, seperti pada penderita megakolon jangka panjang, menyebabkan kotoran mengeras. Akibatnya, tinja sulit bergerak melewati rektum dan dikeluarkan dari tubuh. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan saraf dan otot yang memicu inkontinensia tinja.

8. Diare

Tinja yang encer saat diare akan sulit ditahan di dalam rektum. Kondisi ini dapat memperburuk inkontinensia tinja.

Faktor risiko inkontinensia tinja

Inkontinensia tinja dapat dialami oleh siapa saja. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini, yaitu:

  • Berusia di atas 65 tahun
  • Melahirkan melalui vagina
  • Menjalani terapi pengganti hormon menopause
  • Menderita penyakit Alzheimer dan demensia
  • Mengalami cedera yang menyebabkan cacat fisik sehingga sulit ke toilet tepat waktu

Gejala Inkontinensia Tinja

Gejala inkontinensia tinja dapat berbeda pada setiap penderita, tetapi umumnya meliputi:

  • Tidak dapat menunda buang air besar sebelum sampai di toilet (urge incontinence)
  • Tinja keluar tanpa disadari (inkontinensia pasif)
  • Tinja keluar saat penderita buang angin
  • Gatal di anus
  • Nyeri atau kram perut
  • Perut kembung
  • Sembelit
  • Diare

Kapan harus ke dokter

Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala inkontinensia tinja, terutama bila tidak sembuh dalam beberapa hari. Inkontinensia tinja yang tidak ditangani dengan tepat dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, bahkan bisa menyebabkan stres.

Diagnosis Inkontinensia Tinja

Diagnosis inkontinensia tinja dimulai dengan tanya jawab seputar gejala dan riwayat penyakit. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik yang diikuti dengan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Kultur tinja
    Tes ini dilakukan dengan mengambil sampel tinja untuk kemudian diteliti di laboratorium. Tujuannya adalah untuk mendeteksi keberadaan bakteri yang diduga menyebabkan inkontinensia tinja.
  • USG anorektal
    USG anorektal bertujuan untuk memeriksa fungsi rektum dan sfingter anus dalam mengatur proses keluarnya tinja.
  • MRI
    MRI bertujuan untuk memeriksa kondisi sfingter anus dan melihat apakah otot-otot yang berperan dalam proses pengeluaran tinja masih berfungsi dengan baik.
  • Barium enema
    Barium enema adalah pemeriksaan foto Rontgen untuk mendeteksi saluran pencernaan bagian bawah, termasuk usus besar dan rektum. Pada tes ini, dokter akan meminta pasien menelan cairan barium sebelum memulai tindakan foto Rontgen.
  • Proktografi
    Tes ini bertujuan untuk memeriksa banyaknya tinja yang dapat dikeluarkan tubuh. Pemeriksaan ini juga berfungsi mengukur kemampuan rektum dalam menahan kotoran agar tidak merembes.
  • Elektromiografi (EMG)
    EMG digunakan untuk memeriksa apakah kerusakan saraf menyebabkan sfingter anus tidak bekerja dengan baik. Tes ini juga bertujuan memeriksa koordinasi otot dan saraf di sekitar anus dan rektum.
  • Kolonoskopi
    Kolonoskopi bertujuan untuk memeriksa seluruh bagian anus, dengan memasukkan selang fleksibel berkamera melalui anus.

Pengobatan Inkontinensia Tinja

Melalui hasil diagnosis, dokter akan menentukan metode penanganan yang tepat dan sesuai dengan penyebab inkontinensia tinja pada pasien. Metode penanganan yang dapat dilakukan oleh dokter antara lain:

Pemberian obat-obatan

Pemberian obat-obatan dapat dilakukan untuk mengatasi inkontinensia tinja yang disebabkan oleh diare dan sembelit. Obat-obatan yang dapat diresepkan dokter meliputi:

  • Obat antidiare, seperti loperamide, diphenoxylate, dan atropine sulfate
  • Obat pencahar, seperti metilselulosa dan psyllium, bila inkontinensia tinja disebabkan oleh sembelit jangka panjang

Terapi fisik

Terapi fisik dilakukan untuk menangani inkontinensia tinja yang disebabkan oleh kerusakan otot di sekitar anus. Seiring otot pulih, kemampuan sfingter anus untuk mengontrol sensasi buang air besar pun akan membaik.

Beberapa terapi fisik yang dapat dilakukan antara lain:

  • Biofeedback
    Terapi biofeedback bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot dubur dan otot dasar panggul, serta kontraksi otot ketika sedang buang air. Terapi ini dilakukan dengan bantuan manometri anal atau balon rektal.
  • Balon vaginal
    Terapi menggunakan balon vaginal dilakukan dengan cara memasukkan alat yang menyerupai pompa ke dalam vagina. Alat ini berfungsi memberikan tekanan pada area rektum sehingga dapat mengurangi durasi inkontinensia tinja.
  • Latihan Kegel
    Latihan Kegel bertujuan untuk menguatkan otot dasar panggul yang terkait dengan saluran kemih, saluran cerna, dan otot pada rahim. Gerakan Kegel bermanfaat untuk melatih pasien mengatur kontraksi otot yang digunakan saat buang air besar.
  • Latihan usus
    Terapi ini bertujuan melatih pasien untuk meningkatkan kendali atas otot rektum dan anusnya, dengan beraktivitas secara rutin dan berulang. Sebagai contoh, pasien akan diminta untuk buang air besar secara teratur setelah makan.

Operasi

Metode operasi yang dapat dilakukan oleh dokter untuk menangani inkontinensia tinja antara lain:

  • Sphincteroplasty
    Prosedur operasi ini bertujuan untuk memperbaiki otot dubur yang melemah atau cedera saat melahirkan.
  • Bedah koreksi
    Bedah koreksi bertujuan untuk memperbaiki otot anus dan rektum pasien yang rusak. Tindakan ini dilakukan dengan mengatasi turunnya rektum, rectocele, dan wasir, yang menyebabkan inkontinensia tinja.
  • Kolostomi
    Kolostomi dilakukan dengan membuat lubang di dinding perut sebagai jalan untuk membuang kotoran (feses). Kotoran yang keluar dari lubang tersebut akan ditampung di sebuah kantong khusus.
  • Transplantasi otot gracilis
    Transplantasi otot gracilis dilakukan terhadap pasien yang kehilangan fungsi saraf di sfingter anus. Tindakan ini dilakukan dengan cara mengambil otot dari paha bagian atas untuk ditempatkan di sekitar otot sfingter anus guna memperkuat otot tersebut.
  • Stimulasi saraf
    Pada prosedur ini, dokter akan menanamkan alat atau implan khusus di dalam tubuh pasien, untuk merangsang fungsi saraf panggul agar dapat berfungsi kembali.

Komplikasi Inkontinensia Tinja

Inkontinensia tinja yang tidak ditangani dapat menimbulkan sejumlah komplikasi berupa:

  • Gangguan emosional
    Inkontinensia tinja dapat menimbulkan rasa malu, frustrasi, bahkan depresi. Akibatnya, penderita inkontinensia tinja cenderung menjauhkan diri dari lingkungan sosial.
  • Iritasi kulit
    Jika mengalami kontak berulang dengan tinja, kulit di sekitar anus yang sangat sensitif dapat mengalami iritasi yang disertai infeksi.

Pencegahan Inkontinensia Tinja

Pencegahan inkontinensia tinja tergantung pada penyebabnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menjaga kesehatan pencernaan, antara lain dengan:

  • Mengonsumsi makanan tinggi serat, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, untuk mencegah sembelit
  • Tidak mengejan terlalu kuat saat buang air besar
  • Mencukupi kebutuhan air putih setiap hari
  • Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
  • Menggunakan pakaian dalam berbahan katun
  • Berolahraga secara rutin

Inkontinensia tinja akibat kondisi medis dan penuaan tidak selalu dapat dicegah. Namun, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mempermudah aktivitas, yaitu:

  • Buang air besar sebelum melakukan perjalanan.
  • Gunakan pembalut atau popok dewasa saat menempuh perjalanan jarak jauh.
  • Persiapkan pakaian ganti dan alat pembersih sesuai kebutuhan.
  • Ketahui letak toilet di tempat yang sedang dikunjungi agar Anda mudah mencapainya dengan cepat bila muncul dorongan untuk BAB.
  • Gunakan pil penghilang bau (fecal deodorant) untuk mengurangi aroma tidak sedap dari kotoran atau buang angin.

Search This Blog

Menu Halaman Statis

Contact Form

Name Email * Message *

Category

Popular Posts