PubMed Media Kesehatan

Stroke - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed



Stroke - Gejala, penyebab dan mengobati

Stroke adalah kondisi ketika pasokan darah ke otak terganggu karena penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Kondisi ini menyebabkan area tertentu pada otak tidak mendapat suplai oksigen dan nutrisi sehingga terjadi kematian sel-sel otak.

Stroke merupakan keadaan darurat medis, karena tanpa suplai oksigen dan nutrisi, sel-sel pada bagian otak yang terdampak bisa mati hanya dalam hitungan menit. Akibatnya, bagian tubuh yang dikendalikan oleh area otak tersebut tidak bisa berfungsi dengan baik.

stroke-alodokter

Berdasarkan temuan sejumlah penelitian, diduga bahwa penyakit COVID-19 berpotensi menyebabkan stroke iskemik. Oleh karena itu, bila Anda memerlukan pemeriksaan COVID-19, klik tautan di bawah ini agar Anda dapat diarahkan ke fasilitas kesehatan terdekat:

Gejala dan Penyebab Stroke

Gejala stroke umumnya terjadi di bagian tubuh yang dikendalikan oleh area otak yang rusak. Gejala yang dialami penderita stroke bisa meliputi:

  • Kelemahan pada salah satu sisi tubuh (hemiparesis)
  • Lemah pada otot-otot wajah yang membuat satu sisi wajah turun
  • Kesulitan mengangkat kedua lengan akibat lemas atau mati rasa
  • Kesulitan berbicara
  • Disartria
  • Kesemutan
  • Kesulitan mengenal wajah (prosopagnosia)

Penyebab stroke secara umum terbagi menjadi dua, yaitu adanya gumpalan darah pada pembuluh darah di otak dan pecahnya pembuluh darah di otak.

Penyempitan atau pecahnya pembuluh darah tersebut dapat terjadi akibat beberapa faktor, seperti tekanan darah tinggi, penggunaan obat pengencer darah, aneurisma otak, dan trauma otak.

Pengobatan dan Pencegahan Stroke

Penanganan stroke tergantung pada jenis stroke yang dialami pasien. Tindakan yang dapat dilakukan bisa berupa pemberian obat-obatan atau operasi. Selain itu, untuk mendukung proses pemulihan, penderita akan disarankan untuk menjalani fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi psikologis.

Pada umumnya, pencegahan stroke hampir sama dengan cara mencegah penyakit jantung, yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti:

  • Menjaga tekanan darah agar tetap normal
  • Tidak merokok dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol
  • Menjaga berat badan ideal
  • Berolahraga secara rutin
  • Menjalani pemeriksaan rutin untuk kondisi medis yang diderita, misalnya diabetes dan hipertensi

Obat Pencahar - Manfaat, dosis dan efek samping - PubMed



Obat Pencahar - Manfaat, dosis dan efek samping

Obat pencahar atau laksatif adalah kelompok obat untuk mengatasi susah buang air besar (BAB ) atau konstipasi. Selain itu, obat ini juga digunakan untuk membersihkan usus sebelum tindakan medis tertentu, seperti operasi usus atau kolonoskopi.

Obat pencahar idealnya tidak boleh digunakan tiap hari dan dalam jangka panjang. Golongan obat ini sebaiknya digunakan sesuai dengan resep dan saran dokter.

obat pencahar - alodokter

Selain dengan menggunakan obat pencahar, untuk mengatasi konstipasi, Anda juga disarankan untuk mengonsumsi makanan tinggi serat, minum air putih dalam jumlah yang cukup, dan rutin berolahraga.

Jenis Obat Pencahar

Berdasarkan cara kerjanya, obat pencahar dapat dibagi menjadi:

  • Obat pencahar pembentuk massal (bulk forming laxative)
    Obat pencahar ini bekerja dengan membantu penyerapan air di usus sehingga mampu membentuk masa tinja, membuatnya lebih lembut atau lunak, dan lebih mudah dikeluarkan.
  • Obat pencahar osmotik (osmotic laxatives)
    Obat pencahar ini akan memicu pergerakan air menuju usus sehingga tinja bisa lebih lunak dan lebih mudah dikeluarkan.
  • Obat pencahar emolien (emollient laxatives)
    Obat pencahar ini akan membuat tinja lebih lembut dan lebih basah, sehingga lebih mudah dikeluarkan.
  • Obat pencahar stimulan (stimulant laxatives)
    Obat ini bekerja dengan meningkatkan kontraksi atau pergerakan usus sehingga mempercepat tinja mencapai usus besar dan kolon.
  • Obat pencahar saline (saline laxative)
    Obat ini bekerja dengan meningkatkan aktivitas peristaltik di usus besar dan meningkatkan retensi cairan di usus.

Peringatan Sebelum Menggunakan Obat Pencahar

Ikuti saran dokter dan baca petunjuk pada kemasan saat menjalani pengobatan dengan obat pencahar. Sebelum menggunakan obat pencahar, perhatikan beberapa hal berikut:

  • Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki. Obat pencahar tidak boleh diberikan kepada pasien yang alergi obat ini.
  • Beri tahu dokter jika Anda mengalami susah BAB yang disertai perdarahan rektum atau tanda dan gejala penyakit usus buntu, radang usus, atau sumbatan usus.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah atau menderita penyakit liver, penyakit ginjal, intoleransi laktosa, diabetes, hipotiroid, atau sulit menelan.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah menjalani operasi pada usus, seperti prosedur ileostomi atau kolostomi.
  • Konsultasikan dengan dokter sebelum menggunakan obat pencahar jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Beberapa jenis obat pencahar mungkin mengandung phenyalanine, beri tahu dokter jika Anda menderita fenilketonuria.
  • Jangan memberikan obat pencahar kepada anak berusia <6 tahun atau lansia, tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang menggunakan suplemen, produk herbal tertentu, atau obat, seperti obat golongan opioid.
  • Obat pencahar sebaiknya tidak digunakan setiap hari atau dalam durasi atau dalam panjang. Jika Anda masih mengalami susah BAB setelah 7 hari menggunakan obat pencahar, lakukan pemeriksaan kembali ke dokter untuk mendapatkan terapi lanjutan.
  • Segera temui dokter jika terjadi reaksi alergi obat, overdosis, atau efek samping serius setelah menggunakan obat pencahar.

Efek Samping dan Bahaya Obat pencahar

Efek samping yang dapat ditimbulkan obat pencahar bisa bervariasi, tergantung pada jenis obat pencahar yang digunakan. Namun, beberapa efek samping berikut bisa terjadi setelah menggunakan obat pencahar, yaitu:

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika efek samping yang telah disebutkan di atas tidak kunjung membaik atau semakin memburuk. Segera ke dokter jika konstipasi tidak kunjung membaik, diare terjadi terus-menerus dan tidak kunjung membaik, atau perdarahan dari rektum.

Selain itu, Anda juga harus segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi obat yang bisa ditandai dengan gejala tertentu, seperti bengkak pada bibir dan kelopak mata, muncul ruam yang bengkak atau gatal, atau sulit bernapas.

Jenis, Merek Dagang, serta Dosis Obat pencahar

Dosis obat pencahar yang digunakan tergantung pada merek dan jenis obat, usia dan kondisi pengguna, serta tujuan penggunaan. Berikut adalah dosis umum obat pencahar berdasarkan jenisnya:

1. Obat pencahar pembentuk massal (serat/fiber)

Polycarbophil

Merek dagang: -

Bentuk obat: Bubuk

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang obat ini, silakan buka laman obat polycarbophil.

Psyllium

Merek dagang: Algadiet, Lifiber, Maximus, Mixed Vegetable Powder Drink, Vegeta Scrubber

Bentuk obat: Serbuk, kapsul

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang obat ini, silakan buka laman obat psyllium.

Wheat dextrin

Merek dagang: Bio Fibrenize, Konilife Digestcare, Surbex Nutri-Fiber

Bentuk obat: Bubuk

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang obat ini, silakan buka laman obat wheat dextrin.

Methylcellulose

Merek dagang: Citrucel

Bentuk obat: Kaplet atau bubuk

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang obat ini, silakan buka laman obat methylcellulose.

2. Obat pencahar emolien

Docusate

Merek dagang: Bufiron, Laxatab, Neolaxa

Bentuk obat: Tablet atau kapsul

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat docusate.

3. Obat pencahar osmotik

Laktulosa

Merek dagang: Constipen, Constuloz, Dulcolactol, Duphalac, Dynalax, Extralac, Graphalac, Lacons, Lactofid, Lactulax, Lactulose, Lantulos, Pralax, Solac, Starlax

Bentuk obat: Sirop

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat laktulosa.

Magnesium hidroksida (magnesium hydroxide)

Merek dagang: Laxasium

Bentuk obat: Sirop

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat magnesium hidroksida.

Polyethylene glycol (macrogol)

Merek dagang: Daylax, Microlax, Niflec, Rectolax,

Bentuk obat: Enema atau serbuk

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat macrogol.

Glycerin (gliserol)

Merek dagang Glycerin: Kompolax, Laxadine, Triolax,

Bentuk obat: Sirop, enema, suppositoria

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat gliserol.

4. Obat pencahar stimulan

Bisacodyl

Merek dagang: Bisacodyl, Custodiol, Dulcolax, Neodulax, Oralax, Prolaxan, Stolax

Bentuk obat: Suppositoria, tablet

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat bisacodyl.

Senna (daun jati cina)

Merek dagang: Daun Senna Semesta, Herba Senna Aloe, GNC Herbal Plus Senna Leaf Extract, Senna

Bentuk obat: Kapsul, pil, teh, serbuk

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat senna.

Natrium picosulfat (sodium picosulfate)

Merek dagang: Laxoberon

Bentuk obat: Drops atau obat tetes minum

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat natrium picosulfat.

5. Obat pencahar saline

Natrium fosfat

Merek dagang: Fleet enema, Fleet Phospho-Soda

Bentuk obat: Enema dan larutan oral

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat natrium fosfat.

Magnesium sitrat

Merek dagang: -

Bentuk obat: Larutan oral

Untuk mengetahui dosis dan informasi lebih lanjut mengenai obat ini, silakan buka laman obat magnesium sitrat.


Psikoterapi Untuk Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental - PubMed



Psikoterapi Untuk Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental

Psikoterapi adalah salah satu metode yang umum dilakukan untuk menangani berbagai masalah kejiwaan, seperti stres berat, depresi, dan gangguan cemas. Psikoterapi biasanya dilakukan perorangan, tapi terkadang juga bisa dilakukan secara berkelompok.

Melalui psikoterapi, psikolog atau psikiater akan membimbing dan melatih pasien untuk belajar mengenali kondisi, perasaan, dan pikiran yang menyebabkan keluhan, serta membantu pasien untuk membentuk perilaku yang positif terhadap masalah yang sedang dihadapi.

Dengan demikian, pasien diharapkan akan lebih mampu mengendalikan diri dan merespons situasi yang sulit dengan lebih baik.

Kondisi yang Membutuhkan Psikoterapi

Banyak anggapan yang kurang tepat atau stigma bahwa orang yang menjalani psikoterapi ke psikolog atau psikiater menandakan bahwa orang tersebut mengalami gangguan jiwa atau gila. Padahal, kenyataannya bukan demikian.

Psikoterapi ditujukan bagi siapa saja yang menyadari bahwa dirinya memiliki masalah psikologis atau berisiko tinggi mengalami gangguan mental dan berniat mencari pertolongan untuk mengatasi masalah tersebut.

Berikut ini adalah beberapa keluhan atau masalah kejiwaan yang perlu ditangani dengan psikoterapi:

  • Memiliki obsesi atau kebiasaan yang sulit dihentikan, misalnya terlalu sering merapikan dan membersihkan rumah, mencuci tangan berkali-kali, hingga bolak balik ke dapur untuk memeriksa kompor gas berulang kali.
  • Putus asa atau sedih yang luar biasa selama beberapa bulan
  • Cemas, takut, atau khawatir yang berlebihan yang menyebabkan kesulitan dalam menjalani aktivitas atau pekerjaan sehari-hari
  • Perubahan mood yang ekstrim, misalnya tiba-tiba bersemangat atau sangat sedih tanpa alasan yang jelas
  • Berperilaku negatif, seperti mudah marah, penyalahgunaan zat atau narkoba, kecanduan minuman beralkohol, atau makan berlebihan
  • Berkeinginan untuk bunuh diri atau menyakiti orang lain
  • Halusinasi
  • Mengalami penyimpangan seksual, termasuk masokisme, hingga mengganngu hubungan dengan pasangan
  • Kesulitan mengungkapkan perasaan atau merasa tidak ada orang lain yang bisa memahami perasaan atau masalah yang sedang dihadapi

Keluhan-keluhan di atas bisa saja terjadi saat seseorang mengalami tekanan batin atau peristiwa traumatis, misalnya setelah perceraian, ada anggota keluarga atau teman dekat yang meninggal, baru saja kehilangan pekerjaan, atau baru saja menjadi korban bencana atau kekerasan.

Selain karena kejadian traumatis, beberapa gejala di atas juga kemungkinan bisa disebabkan oleh gangguan mental tertentu, seperti depresi, gangguan kepribadian, gangguan bipolar, PTSD, gangguan cemas, kepribadian ganda (dissociative identity disorder), dan skizofrenia.

Jenis-jenis Psikoterapi

Metode dan teknik psikoterapi yang dilakukan oleh psikolog atau psikiater ada banyak. Jenis terapi yang akan digunakan umumnya disesuaikan dengan kondisi pasien dan respons pasien terhadap psikoterapi.

Beberapa jenis psikoterapi yang cukup sering dilakukan, yaitu:

1. Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif bertujuan untuk mengevaluasi pola pikir, emosi, dan perilaku yang menjadi sumber masalah dalam kehidupan pasien. Setelah itu, dokter atau psikolog akan melatih pasien untuk merespons sumber masalah tersebut dengan cara yang positif.

Misalnya, jika dulu pasien sering menggunakan obat-obatan atau minuman beralkohol untuk mengatasi stres, maka dengan psikoterapi ini, pasien akan dilatih untuk merespons stres dengan aktivitas yang lebih positif, misalnya membaca buku, berolahraga, atau meditasi.

2. Terapi psikoanalitik dan psikodinamik

Jenis psikoterapi ini akan menuntun pasien melihat lebih dalam ke alam bawah sadarnya. Pasien akan diajak untuk menggali berbagai kejadian atau masalah yang selama ini terpendam dan tidak disadari.

Dengan cara ini, pasien dapat memahami arti dari setiap kejadian yang dialaminya. Pemahaman baru inilah yang akan membantu pasien dalam mengambil keputusan dan menghadapi berbagai masalah.

3. Terapi interpersonal

Jenis psikoterapi ini akan menuntun pasien untuk mengevaluasi dan memahami bagaimana cara pasien menjalin hubungan dengan orang lain, seperti keluarga, pasangan, sahabat, atau rekan kerja. Terapi ini akan membantu pasien menjadi lebih peka saat berinteraksi atau menyelesaikan konflik dengan orang lain.

4. Terapi keluarga

Terapi ini dilakukan dengan melibatkan anggota keluarga pasien, khususnya jika pasien memiliki masalah psikologis yang berhubungan dengan keluarga. Tujuannya agar masalah yang dihadapi pasien dapat diatasi bersama dan memperbaiki hubungan yang sempat retak antara pasien dan keluarga.

5. Hipnoterapi

Hipnoterapi adalah teknik psikoterapi yang memanfaatkan hipnosis untuk membantu pasien agar bisa mengendalikan perilaku, emosi, atau pola pikirnya dengan lebih baik.

Metode psikoterapi ini cukup sering dilakukan untuk membuat pasien lebih rileks, mengurangi stres, meredakan nyeri, hingga membantu pasien berhenti melakukan kebiasaan buruknya, misalnya merokok atau makan berlebihan.

Jenis psikoterapi tertentu mungkin cocok untuk satu pasien, tetapi belum tentu efekfif jika diterapkan pada pasien yang lain. Oleh sebab itu, Anda dianjurkan berkonsultasi dengan dokter atau psikolog untuk menentukan terapi yang sesuai dengan kondisi Anda.


Sindrom Hemolitik Uremik - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed



Sindrom Hemolitik Uremik - Gejala, penyebab dan mengobati

Sindrom hemolitik uremik adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh pecah nya sel darah merah dan rusaknya bagian dalam dinding pembuluh darah . Kondisi ini paling sering disebabkan oleh infeksi Escherichia coli ( E. coli ) jenis tertentu dan merupakan salah satu penyebab gagal ginjal akut.

Sindrom hemolitik uremik (SHU) dapat dialami oleh siapa saja, termasuk orang dewasa dan anak-anak. Pada sebagian besar kasus, SHU terkait dengan infeksi di saluran pencernaan yang menyebabkan diare berdarah. Namun, tidak semua diare berdarah pasti akan menyebabkan SHU.

sindrom hemolitik uremik

Penyebab Sindrom Hemolitik Uremik

Sindrom hemolitik uremik paling sering disebabkan oleh bakteri E. coli. Kondisi ini umumnya akan diawali infeksi pada saluran pencernaan. Jenis bakteri E. coli yang bisa menyebabkan SHU adalah jenis O157:H7, atau STEC yang mengeluarkan shiga toxin.

Shiga toxin merupakan salah satu jenis racun yang diproduksi bakteri. Racun ini akan merusak pembuluh darah kapiler di organ tertentu, serta merusak sel darah, termasuk sel darah merah dan keping darah. Kondisi ini kemudian menimbulkan gejala SHU.

E.coli sering ditemukan pada makanan atau minuman. Ada beberapa kondisi dan faktor yang bisa meningkatkan risiko terinfeksi E. coli, yaitu:

  • Mengonsumsi daging atau produk makanan yang terkontaminasi bakteri E. coli
  • Berenang di kolam atau danau yang terkontaminasi tinja dengan kandungan bakteri E. coli
  • Tinggal serumah dengan orang yang terinfeksi bakteri E. coli
  • Memiliki daya tahan tubuh lemah, misalnya karena menderita HIV/AIDS

Perlu diingat bahwa tidak semua jenis E. coli akan menyebabkan sindrom hemolitik uremik. Sebagian jenis E. coli hidup di saluran pencernaan dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan tertentu.

Selain disebabkan oleh E. coli, SHU juga bisa disebabkan oleh bakteri lain, seperti Shigella dysenteriae dan Salmonella typhi. Walaupun jarang terjadi, penggunaan obat-obatan tertentu, seperti obat antikanker atau kina, juga bisa memicu sindrom hemolitik uremik.

Ge jala Sindrom Hemolitik Uremik

Sindrom hemolitik uremik bisa menimbulkan gejala yang beragam. Hal ini tergantung pada penyebab, tingkat keparahan, dan kerusakan jaringan yang terjadi. Sindrom hemolitik uremik yang disebabkan oleh infeksi bakteri E. coli akan diawali dengan munculnya gejala gastroenteritis, yang meliputi:

Jika infeksi berlanjut, akan terjadi kerusakan pada kapiler (pembuluh darah kecil), sel darah merah, dan keping darah. Akibatnya, akan muncul gejala berupa:

  • Lelah dan gelisah
  • Urine berdarah
  • Jumlah urine berkurang
  • Pembengkakan di kaki, tangan, dan wajah
  • Pucat
  • Mudah memar
  • Tekanan darah meningkat
  • Linglung
  • Perdarahan pada hidung dan mulut

Keluhan-keluhan di atas menandakan sudah terjadinya anemia, trombositopenia, dan kerusakan pada ginjal. Jika dibiarkan, SHU dapat menyebabkan gagal ginjal akut pada anak maupun orang dewasa.

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika muncul gejala yang telah disebutkan di atas, terutama jika mengalami infeksi saluran pencernaan dan diare berdarah. Tindakan pengobatan harus cepat dilakukan untuk mencegah komplikasi.

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami diare berdarah, tidak bisa buang air kecil, linglung, serta bengkak (edema) pada kaki, tangan, dan wajah, atau pucat.

Jika Anda sudah didiagnosis mengalami SHU, lakukan kontrol ke dokter sesuai jadwal. Selain untuk memantau hasil terapi, pemeriksaan rutin ini juga bertujuan untuk menurunkan risiko terjadinya komplikasi.

Diagnosis Sindrom Hemolitik Uremik

Dokter akan menanyakan gejala yang dialami pasien dan riwayat kesehatannya. Dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk melihat apakah ada tanda-tanda dehidrasi, anemia, atau kerusakan pada ginjal.

Untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Tes tinja, untuk mendeteksi ada tidaknya darah dan jenis bakteri, seperti coli pada tinja
  • Tes darah, untuk melihat jumlah sel darah, kadar elektrolit, dan fungsi ginjal
  • Tes urine, untuk memeriksa kadar protein dan darah pada sampel urine
  • Biopsi ginjal, untuk melihat ada tidaknya sel-sel abnormal pada ginjal, dengan mengambil dan memeriksa sampel jaringan ginjal

Pengobatan Sindrom Hemolik Uremik

Penderita sindrom hemolitik uremik perlu menjalani perawatan di rumah sakit untuk meredakan gejala dan mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Beberapa metode penanganan yang akan dilakukan meliputi:

  • Cairan infus, untuk mencegah dehidrasi dan menjaga keseimbangan elektrolit, khususnya pada pasien yang mengalami diare
  • Obat-obatan, misalnya obat untuk menurunkan tekanan darah pada pasien yang mengalami gangguan ginjal
  • Transfusi darah, untuk mengatasi anemia atau trombositopenia yang disebabkan oleh SHU
  • Cuci darah, untuk mengatasi gangguan fungsi ginjal dan gagal ginjal akut yang dapat dialami oleh penderita SHU
  • Penggantian plasma, terutama untuk SHU yang tidak disebabkan oleh infeksi bakteri

Pada sebagian besar kasus, sindrom hemolitik uremik dapat sembuh dan tidak menyebabkan komplikasi.

Komplikasi Sindrom Hemolitik Uremik

Sindrom hemolitik uremik bisa meningkatkan risiko terjadinya beberapa kondisi atau penyakit berikut ini:

Pencegahan Sindrom Hemolitik Uremik

Sindrom hemolitik uremik tidak selalu dapat dicegah. Namun, risiko terjadinya infeksi E. coli bisa diturunkan dengan melakukan beberapa upaya berikut:

  • Cuci tangan sebelum makan, setelah ke kamar mandi, dan setelah mengganti popok.
  • Selalu cuci buah dan sayuran sampai bersih sebelum dikonsumsi.
  • Jaga kebersihan peralatan makan.
  • Hindari konsumsi jus atau sari buah yang tidak terjamin kebersihannya.
  • Jangan mengonsumsi susu yang tidak dipasteurisasi.
  • Pastikan memasak daging hingga matang sebelum dikonsumsi.

Gangguan Kecemasan Umum - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed



Gangguan Kecemasan Umum - Gejala, penyebab dan mengobati

Gangguan kecemasan umum adalah rasa cemas atau khawatir yang berlebihan dan tidak terkendali terhadap berbagai hal. Kondisi ini bisa disertai dengan gejala fisik, seperti banyak berkeringat, sulit bernapas, atau jantung berdebar.

Gangguan kecemasan umum dapat dialami oleh siapa saja, tetapi paling sering terjadi pada orang dewasa usia lebih dari 30 tahun. Saat kondisi ini terjadi, penderita umumnya tidak bisa menjelaskan mengapa ia merasa cemas atau khawatir secara berlebihan.

Gangguan Kecemasan Umum - PubMed

Jika terus dibiarkan, gangguan kecemasan umum dapat menyebabkan penderitanya selalu merasa cemas dan khawatir. Akibatnya, penderita berisiko mengalami gangguan dalam melakukan aktivitas sehari-hari, serta menarik diri dari kehidupan sosial.

Penyebab Gangguan Kecemasan Umum

Penyebab dari gangguan kecemasan umum belum diketahui secara pasti. Meski demikian, kondisi ini diduga terkait dengan sejumlah faktor, seperti:

  • Riwayat gangguan kecemasan umum pada keluarga
  • Riwayat trauma atau peristiwa yang menyebabkan stres, seperti bullying atau perundungan
  • Riwayat penyalahgunaan narkoba, kecanduan alkohol, atau gangguan pada sistem saraf
  • Penyakit yang membutuhkan pengobatan jangka panjang, seperti radang sendi (arthritis)
  • Kondisi tertentu, seperti sering latah atau mengalami hipokondriasis

Gejala Gangguan Kecemasan Umum

Rasa cemas atau anxiety adalah hal yang wajar, terutama jika dalam tekanan atau kondisi tertentu. Namun, jika rasa cemas dan khawatir menjadi tidak terkendali, terlalu waspada terhadap apa pun, hingga menutup diri yang akhirnya mengganggu aktivitas sehari-hari, maka hal ini bisa menjadi tanda gangguan kecemasan umum.

Ada beberapa gejala gangguan kecemasan umum yang bisa dikenali, antara lain:

  • Merasa cemas dan khawatir secara berlebihan terhadap berbagai kondisi
  • Berpikir secara berlebihan tentang rencana dan solusi untuk setiap kemungkinan terburuk yang belum tentu muncul
  • Mudah merasa tersinggung, gelisah, gugup, dan tersudut
  • Merasa ragu-ragu, takut, dan sulit untuk mengambil suatu keputusan
  • Sulit untuk berkonsentrasi

Selain itu, gangguan kecemasan umum juga dapat menimbulkan beberapa gejala fisik, seperti:

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami cemas dan khawatir yang berlebihan, tidak terkendali, serta mengganggu aktivitas sehari-hari, atau jika Anda mengalami keluhan yang disebutkan di atas.

Anda juga sebaiknya melakukan pemeriksaan ke dokter bila memiliki riwayat gangguan mental lain, seperti gangguan panik, obsessive compulsive disorder (OCD), atau depresi.

Jika Anda sudah didiagnosis menderita gangguan kecemasan umum, lakukan kontrol rutin ke dokter guna memantau perkembangan kondisi.

Diagnosis Gangguan Kecemasan Umum

Untuk mendiagnosis gangguan kecemasan umum, dokter akan melakukan tanya jawab seputar gejala, riwayat kesehatan, penggunaan obat-obatan, dan penyakit pada keluarga. Dokter juga akan bertanya seputar kehidupan sehari-hari, aktivitas, dan keadaan lingkungan sekitar.

Dokter akan menggunakan kriteria The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th edition (DSM-5) untuk mendiagnosis gangguan kecemasan umum. Beberapa kriteria tersebut adalah:

  • Rasa cemas dan khawatir terjadi secara berlebihan dan berlangsung sepanjang waktu selama minimal 6 bulan
  • Rasa khawatir yang dialami sulit untuk dikendalikan
  • Gejala yang dialami menyebabkan gangguan dalam beraktivitas
  • Keluhan tidak didasari oleh penyakit atau kondisi kesehatan khusus

Selain itu, rasa cemas dan takut tersebut diikuti dengan minimal tiga gejala berikut:

  • Merasa gelisah, tidak bersemangat, dan tersudut
  • Merasa lelah
  • Mudah tersinggung
  • Sulit berkonsentrasi
  • Meningkatnya ketegangan otot
  • Mengalami gangguan tidur (termasuk sulit tidur atau selalu ingin tidur)

Bila diduga ada kondisi atau penyakit lain yang mendasari keluhan, dokter akan meminta pasien untuk menjalani tes penunjang, seperti tes urine atau tes darah.

Pengobatan Gangguan Kecemasan Umum

Pengobatan untuk gangguan kecemasan umum meliputi terapi perilaku kognitif (CBT) dan obat-obatan. Kedua langkah ini biasanya akan dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan pasien. Berikut penjelasannya:

Terapi perilaku kognitif

Terapi perilaku kognitif (CBT) bertujuan agar pasien mengenali dan mengubah pola pemikiran dan perilaku yang membuatnya cemas. Terapi ini membantu pasien agar tidak berpikir negatif dan mampu berpikir secara lebih realistis.

Pasien perlu meluangkan 1 jam setiap minggu untuk menjalani 1 sesi terapi CBT selama 3–4 bulan. Pada saat sesi terapi CBT, psikiater atau psikolog juga akan mengajarkan teknik relaksasi agar pasien mampu lebih tenang saat menghadapi situasi yang bisa memicu munculnya rasa cemas.

Obat-obatan

Selain terapi perilaku kognitif, dokter akan memberikan beberapa jenis obat-obatan untuk mengurangi gejala. Ada beberapa jenis obat yang biasanya diberikan untuk menangani gangguan kecemasan umum, antara lain:

  • Antidepresan
    Obat antidepresan golongan selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) digunakan untuk meningkatkan serotonin di otak. Sedangkan serotonin and noradrenaline reuptake inhibitor (SNRI) digunakan untuk meningkatkan serotonin dan noradrenaline di otak.
  • Pregabalin
    Meskipun lebih dikenal sebagai obat untuk mengatasi kejang pada epilepsi dan nyeri neuropati, pregabalin juga bisa digunakan untuk menangani gangguan kecemasan.
  • Benzodiazepine
    Benzodiazepine merupakan golongan obat penenang yang diberikan kepada penderita gangguan kecemasan umum yang parah. Tujuan pemberian obat ini adalah meredakan gejala dan keluhan gangguan kecemasan umum dalam waktu singkat. Contoh obat benzodiazepine yang sering digunakan untuk mengatasi gangguan cemas adalah alprazolam atau bromazepam.

Perlu diingat bahwa pasien perlu secara rutin memeriksakan diri ke dokter selama menjalani pengobatan agar kondisinya selalu terpantau. Pemeriksaan rutin bisa dilakukan setiap 2–4 minggu sekali pada 3 bulan pertama sejak penggunaan obat-obatan.

Selain terapi perilaku kognitif dan obat-obatan, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan pasien guna meringankan gejala yang dialaminya, yaitu:

Komplikasi Gangguan Kecemasan Umum

Jika gangguan kecemasan umum tidak segera ditangani, rasa cemas dan khawatir yang berlebihan bisa membuat penderitanya tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari. Gangguan cemas umum juga bisa menyebabkan gangguan tidur, yang jika dibiarkan berlarut-larut akan mengganggu kesehatan.

Selain itu, gangguan kecemasan umum bisa membuat penderitanya depresi hingga lebih rentan menyalahgunakan obat-obatan atau kecanduan alkohol. Pada sebagian penderita, gangguan kecemasan umum juga dapat menimbulkan perilaku menimbun barang secara tidak normal (hoarding disorder).

Pencegahan Gangguan Kecemasan Umum

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan kecemasan umum, antara lain:

  • Berolahraga rutin
  • Beristirahat dan tidur yang cukup
  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang
  • Mengikuti latihan untuk mengelola stres, seperti meditasi, yoga, atau membuat jurnal harian
  • Menjauhi alkohol, narkoba, dan rokok
  • Mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung kafein, seperti cokelat, kopi, dan teh
  • Melakukan pemeriksaan ke dokter jika mengalami hal traumatis yang mengganggu pikiran dan aktivitas sehari-hari

5 Cara Mencuci Buah dan Sayur yang Benar agar Terhindar dari Penyakit - PubMed



5 Cara Mencuci Buah dan Sayur yang Benar agar Terhindar dari Penyakit

Mencuci buah dan sayur harus dilakukan dengan benar untuk menghindari kontaminasi bakteri, parasit, atau pestisida yang bisa menyebabkan penyakit. Salah satu cara terbaik untuk mencuci buah dan sayur adalah dengan air mengalir.

Buah dan sayur memiliki kandungan vitamin, kalsium, dan serat yang baik untuk tubuh. Namun, sebelum dikonsumsi, Anda sebaiknya mencuci buah dan sayur terlebih dahulu karena keduanya rentan terkontaminasi berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus, atau parasit.

Pencemaran pada buah dan sayur dapat bersumber dari tanah, air yang digunakan untuk irigasi, penggunaan pupuk kompos atau pupuk kandang, dan proses pengemasan yang tidak higienis. Berbagai faktor ini bisa menjadi sumber penyakit dan mungkin menyebabkan keracunan makanan.

Ketahui Cara Mencuci Buah dan Sayur yang Benar

Berikut ini adalah cara mencuci buah dan sayur yang benar untuk menghilangkan bakteri dan pestisida pada permukaannya:

1. Cuci tangan

Sebelum menyiapkan buah dan sayur segar, Anda sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu dengan sabun kurang lebih selama 20 detik. Mencuci tangan diperlukan untuk meminimalkan kontaminasi bakteri yang mungkin terjadi ketika Anda berada di pasar, memegang tas belanja, atau memegang gagang pintu.

2. Potong bagian yang rusak

Sebelum mencuci buah dan sayur, Anda harus memperhatikan bagian permukaan buah atau sayur yang dibeli. Jika terdapat kerusakan atau tampak busuk, sebaiknya potong dan pisahkan bagian tersebut, karena bakteri penyebab penyakit bisa berkembang biak pada bagian tersebut.

3. Gunakan air mengalir

Mencuci buah dan sayur dengan menggunakan air yang mengalir dinilai cukup efektif untuk membersihkan kotoran pada permukaannya. Beberapa orang mungkin menggunakan cuka dan jus lemon untuk membersihkan sayur, tetapi penggunaan air mengalir diketahui lebih efektif karena tidak meninggalkan endapan.

4. Gosok dengan lembut

Saat mencuci buah dan sayur di bawah air mengalir, pastikan Anda menggosok bagian permukaannya secara perlahan. Jika diperlukan, gunakan sikat dengan bulu yang lembut agar tidak merusak permukaan sayur dan buah. Bila sampai rusak atau berlubang, ini dapat meningkatkan risiko kuman masuk ke dalam buah atau sayur.

5. Keringkan buah dan sayur

Setelah proses mencuci buah dan sayur selesai, Anda harus mengeringkannya dengan kain bersih atau tisu terlebih dahulu sebelum menyimpannya ke dalam kulkas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan adanya bakteri yang masih tertinggal di permukaan.

Satu hal yang perlu diingat, hindari mencuci buah dan sayur menggunakan detergen atau sabun, karena dikhawatirkan terdapat kandungan berbahaya yang bisa menyerap ke dalam makanan dan menyebabkan masalah kesehatan.

Tips Menyimpan serta Mengolah Buah dan Sayur yang Aman

Tak hanya cara mencuci sayur dan buah yang harus diperhatikan, Anda juga harus teliti saat menyimpan dan mengolahnya sebelum disantap. Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa dilakukan:

  • Pilih buah dan sayur yang tidak rusak.
  • Jauhkan buah dan sayur dari daging mentah atau makanan laut, baik saat di keranjang belanja atau di kulkas.
  • Gunakan pisau dan talenan yang terpisah dengan daging mentah.
  • Simpan buah dan sayur yang sudah dicuci dan dikeringkan di dalam lemari es.
  • Cuci telenan, pisau, dan perlengkapan dapur lainnya setelah digunakan.

Inilah beberapa tips yang dapat Anda lakukan saat memilih atau hendak menyimpan buah dan sayur agar terhindar dari kontaminasi bakteri atau pestisida.

Buah dan sayur memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Namun, untuk memaksimalkan manfaatnya, Anda harus mencuci buah dan sayur dengan benar. Dengan demikian, Anda bisa meminimalkan kontaminasi bakteri dan terhindar dari penyakit.

Akan tetapi, jika Anda mengalami mual, muntah, diare, sakit perut, dan demam, setelah mengonsumsi buah dan sayur meski telah dicuci, segeralah periksakan diri ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.


Vaksin HPV - Manfaat, dosis dan efek samping - PubMed



Vaksin HPV - Manfaat, dosis dan efek samping

Vaksin HPV adalah vaksin yang digunakan untuk mencegah infeksi human papillomavirus (HPV). Di Indonesia, vaksin HPV dapat diberikan kepada perempuan usia 9–55 tahun dan laki-laki usia 19–26 tahun.

Terdapat dua jenis vaksin HPV, yaitu bivalen dan tetravalen. Vaksin HPV bivalen bisa memberikan perlindungan terhadap infeksi virus HPV tipe 16 dan 18, sehingga bisa mencegah kanker serviks.

Vaksin HPV - PubMed

Sedangkan vaksin HPV tetravalen bisa memberikan perlindungan terhadap infeksi HPV tipe 6, 11, 16, dan 18, sehingga bisa mencegah kanker serviks dan kutil kelamin.

Vaksin HPV mengandung protein yang dibuat menyerupai virus HPV. Setelah disuntikkan, protein dalam vaksin ini akan bekerja dengan membantu tubuh memproduksi antibodi untuk melawan virus HPV.

Merek dagang vaksin HPV: Gardasil

Apa Itu Vaksin HPV

Golongan Obat resep
Kategori Vaksin
Manfaat Mencegah infeksi virus HPV
Digunakan oleh Dewasa dan anak-anak
Vaksin HPV untuk ibu hamil dan menyusui Kategori B: Studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil.Belum diketahui apakah vaksin HPV dapat terserap ke dalam ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan vaksin HPV tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter.
Bentuk obat Suntik

Peringatan Sebelum Menerima Vaksin HPV

Vaksin HPV tidak boleh digunakan sembarangan. Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan sebelum menjalani vaksinasi dengan vaksin HPV, yaitu:

  • Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki. Vaksin HPV tidak boleh diberikan kepada orang yang alergi terhadap setiap kandungan dalam vaksin ini.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang mengalami demam atau mengalami gangguan pembekuan darah.
  • Beri tahu dokter jika Anda memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah akibat HIV, kanker, atau radioterapi.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang menggunakan obat, suplemen, atau produk herbal tertentu.
  • Segera temui dokter jika terjadi reaksi alergi setelah menggunakan vaksin HPV.

Dosis dan Jadwal Pemberian Vaksin HPV

Di Indonesia, vaksin HPV sudah mulai bisa diberikan kepada anak perempuan yang berusia 9 tahun hingga perempuan dewasa berusia 55 tahun. Waktu pemberian yang paling disarankan adalah saat usia 9–26 tahun atau yang belum aktif berhubungan seksual.

Untuk laki-laki, pemberian vaksin HPV disarankan mulai diberikan pada usia 19–26 tahun.

Dosis umum penggunaan vaksin HPV adalah 0,5 ml dengan suntikan ke otot (intramuskular/IM). Dengan jadwal pemberian sebagai berikut:

  • Vaksin bivalen: Diberikan dengan interval 0, 1, dan 6 bulan pada usia 9–25 tahun.
  • Vasin tetravalen: Diberikan dengan interval 0 dan 12 bulan pada anak usia 9–13 tahun dan interval 0, 2, dan 6 bulan, pada usia di atas 13–45 tahun.

Cara Pemberian Vaksin HPV

Vaksin HPV disuntikkan ke otot (intramuskular/IM). Penyuntikan vaksin ini akan dilakukan oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter di fasilitas kesehatan yang telah ditunjuk untuk pelayanan vaksinasi.

Jika vaksin disuntikan pada usia 9–13 tahun, maka membutuhkan 2 dosis vaksin HPV. Jika vaksin disuntikkan pada usia 16–18 atau usia dewasa, maka membutuhkan 3 dosis vaksin HPV.

Vaksin HPV sebaiknya diberikan sejak masih anak-anak, karena pada usia tersebut hubungan seksual belum dilakukan. Dengan begitu, lebih sedikit kemungkinan pasien sudah tepapar virus dan vaksin HPV dapat bekerja lebih efektif.

Pemberian vaksin HPV harus sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan agar vaksin dapat bekerja dengan baik. Anda harus mendapatkan seluruh dosis yang sudah ditentukan. Jika Anda melewatkan salah satu dosis, segera temui dokter untuk mendapatkan dosis yang terlewat.

Interaksi Vaksin HPV dengan Obat Lain

Penggunaan vaksin HPV bersama dengan antikoagulan dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan. Selain itu, penurunan respons imun dapat terjadi jika vaksin HPV digunakan bersama obat-obatan untuk kemoterapi, radioterapi, atau kortikosteroid dengan dosis tinggi.

Agar aman, selalu beri tahu dokter jika Anda ingin mengonsumsi obat-obatan lain bersamaan dengan vaksin HPV.

Efek Samping dan Bahaya Vaksin HPV

Berikut ini adalah beberapa efek samping yang mungkin timbul setelah menggunakan vaksin HPV:

  • Nyeri, bengkak, gatal, atau kemerahan di area bekas suntikan
  • Sakit kepala
  • Mual atau muntah
  • Nyeri otot atau sendi
  • Rasa lelah
  • Demam
  • Pusing atau pingsan

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika efek samping yang disebutkan di atas tidak kunjung mereda atau justru semakin parah. Selain itu, Anda juga harus segera ke dokter jika mengalami reaksi alergi setelah menerima vaksin HPV.


Bayi Butuh Imunisasi BCG Untuk Apa? - PubMed



Bayi Butuh Imunisasi BCG Untuk Apa?

Imunisasi BCG merupakan salah satu imunisasi yang wajib diberikan pada bayi. Imuniasisi ini memiliki fungsi penting untuk mencegah penyakit tuberkulosis atau TBC, yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan TB.

BCG merupakan kepanjangan dari Bacillus Calmette-GuĂ©rin. Vaksin BCG di Indonesia umumnya diberikan pada bayi yang baru lahir atau saat bayi berusia 1 bulan. Jika ditunda, pemberian vaksin BCG paling lambat diberikan saat bayi berusia 2−3 bulan.

Imunisasi BCG untuk Mencegah Penyakit Tuberkulosis

Imunisasi BCG terbuat dari bakteri Tuberkulosis yang telah dilemahkan sehingga tidak akan menyebabkan penerima vaksin menderita penyakit tuberkulosis atau TB. Bakteri yang digunakan untuk menghasilkan vaksin BCG biasanya adalah Mycobacterium bovis.

Pemberian vaksin BCG akan memicu sistem imun untuk menghasilkan sel-sel penghasil antibodi agar bisa melindungi tubuh dari bakteri tuberkulosis. Imunisasi BCG berperan penting dalam mencegah terjadinya tuberkulosis berat, termasuk meningitis TB pada anak.

Tuberkulosis tidak hanya berisiko menyebabkan infeksi paru-paru, tapi juga dapat menyerang bagian tubuh lain, seperti sendi, tulang, selaput otak (meningen), kulit, kelenjar getah bening, dan ginjal.

Tuberkulosis merupakan penyakit yang berbahaya dan mudah menular melalui cipratan air liur (droplet). Ketika pasien TB batuk atau bersin, kuman penyebab TB menyebar dan menular ke orang lain yang menghirup droplet tersebut.

Meski hampir serupa dengan cara penyebaran pilek atau flu, tuberkulosis umumnya memerlukan waktu kontak lebih lama sebelum seseorang dapat tertular.

Oleh karena itu, anggota keluarga yang tinggal serumah dengan penderita TB memiliki peluang lebih tinggi untuk tertular penyakit TB, terlebih jika pasien tidak mendapatkan pengobatan TB atau tidak berobat hingga tuntas.

Risiko E fek Samping Imunisasi BCG

Setelah bayi mendapatkan imunisasi BCG, tidak perlu panik apabila muncul luka melepuh di area suntikan. Tidak jarang, luka tersebut terasa sakit dan lebam selama beberapa hari.

Setelah 2–6 minggu, titik suntikan tersebut dapat membesar atau membentuk bisul hingga berukuran hampir 1 cm dan mengeras, lalu meninggalkan bekas luka yang kecil. Sebagian bayi mungkin akan mengalami bekas luka yang lebih berat, tapi umumnya akan sembuh setelah beberapa minggu. Bekas luka ini dinamakan skar BCG.

Walau sangat jarang terjadi, terkadang vaksin BCG bisa menyebabkan efek samping yang berbahaya, yaitu reaksi anafilaktik. Untuk mewaspadai dan mencegah efek samping vaksin yang berbahaya, proses vaksinasi harus dilakukan oleh dokter atau petugas medis yang telah terlatih.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Imunisasi BCG

Dosis imunisasi BCG adalah 0,05 ml untuk bayi di bawah usia satu tahun. Umumnya penyuntikan imunisasi BCG dilakukan pada lengan bagian atas. Lengan bagian tersebut tidak boleh diberikan imunisasi lain, minimal selama 3 bulan.

Meski tergolong imunisasi wajib, ada beberapa kondisi bayi yang membuat pemberian imunisasi BCG perlu ditunda, seperti:

  • Demam
  • Infeksi kulit
  • Memiliiki daya tahan tubuh yang lemah, misalnya karena infeksi HIV yang belum diobati atau efek samping obat-obatan, misalnya obat imunosupresan
  • Riwayat alergi atau reaksi anafilaktik terhadap imunisasi BCG.
  • Pernah terkena tuberkulosis atau tinggal serumah dengan penderita tuberkulosis yang tidak berobat

Imunisasi BCG merupakan tindakan yang penting untuk melindungi kesehatan anak dari penyakit tuberkulosis. Namun, pastikan bayi dalam keadaan sehat sebelum mendapatkan vaksin BCG, ya.

Bila ingin memastikan apakah Si Kecil bisa mendapakan vaksin BCG atau tidak, Bunda bisa berkonsultasi dengan dokter. Dokter juga bisa memberikan rekomendasi jadwal terbaik bagi Si Kecil untuk imunisasi BCG maupun menganjurkan pemeriksaan tes Mantoux jika dicurigai menderita TB atau memiliki kontak erat dengan penderita TB..


Periksa Payudara Sendiri (SADARI) Sebelum Terlambat - PubMed



Periksa Payudara Sendiri (SADARI) Sebelum Terlambat

Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan dengan meraba dan melihat payudara sendiri guna melihat kemungkinan ada nya perubahan fisik pada payudara. Proses ini dilakukan agar semua perubahan yang mengarah pada kondisi yang lebih serius dapat segera terdeteksi sejak dini.

Payudara umumnya akan terasa berbeda semasa menstruasi. Sebelum dan selama periode ini, kebanyakan wanita merasa payudaranya semakin mengencang dan padat. Memasuki masa menopause, payudara juga akan mengalami perubahan, yaitu menjadi lebih kendur dan lembut.

Perubahan bentuk dan kepadatan payudara pada masa tertentu normal untuk terjadi. Namun, mewaspadai segala bentuk perubahan yang ada penting karena ini bisa menjadi pertanda dari penyakit tertentu, seperti tumor atau kanker payudara.

Oleh karenanya, wanita perlu untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) setiap 1 bulan sekali, guna mengetahui ada tidaknya perubahan bentuk payudara dari waktu ke waktu.

Bagaimana Cara Memeriksa Payudara?

Waktu terbaik untuk melakukan SADARI adalah seminggu setelah periode menstruasi berakhir. Melakukan pemeriksaan pada masa menstruasi kurang disarankan karena kadar hormon sedang berfluktuasi sehingga menyebabkan perubahan pada tubuh, termasuk pada payudara yang menjadi lebih kencang.

Pemeriksaan SADARI dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu:

Di depan cermin

Anda bisa melakukan SADARI di depan cermin. Anda cukup berdiri di depan kaca, lalu buka pakaian dari pinggang ke atas. Pastikan terdapat cukup pencahayaan dalam ruangan, kemudian lakukan langkah berikut:

  • Perhatikan payudara Anda. Kebanyakan wanita memiliki payudara yang ukurannya tidak sama besar (payudara kanan lebih besar atau lebih kecil daripada yang kiri).
  • Berdirilah dengan posisi lengan dibiarkan lurus ke bawah. Perhatikan bentuk, ukuran, permukaan dan warna kulit, juga bentuk puting payudara. Lihatlah ada perubahan atau tidak
  • Letakkan tangan pada pinggang dan tekan kuat-kuat untuk mengencangkan otot dada. Perhatikan payudara sambil berkaca dari sisi kiri ke kanan dan sebaliknya.
  • Membungkuklah di depan kaca, sehingga payudara terjulur ke bawah. Perhatikan dan raba untuk memeriksa apakah ada perubahan tertentu pada payudara.
  • Tautkan kedua tangan di belakang kepala dan tekan ke dalam. Perhatikan kedua payudara Anda, termasuk di bagian bawah.
  • Periksa apakah terdapat cairan yang keluar dari puting Anda. Tempatkan jempol dan jari telunjuk Anda di sekitar puting, lalu tekan perlahan dan perhatikan apakah ada cairan yang keluar. Ulangi pada payudara yang lain.

Saat mandi

Anda juga dapat melakukan SADARI saat mandi yang dapat dimulai dengan mengangkat satu tangan ke belakang kepala. Kemudian, gunakan tangan lain yang telah dilumuri sabun untuk meraba payudara di sisi tangan yang terangkat. Gunakan jari untuk menekan-nekan bagian demi bagian dengan lembut.

Lakukan hal yang sama pada payudara satunya. Pemeriksaan SADARI saat sedang mandi terbilang cukup efektif karena busa sabun akan memudahkan pergerakan tangan untuk memeriksa benjolan atau perubahan pada payudara dan area ketiak.

Berbaring

Pemeriksaan SADARI juga dapat dilakukan dengan berbaring. Caranya mudah, yaitu cukup baringkan tubuh Anda di tempat tidur atau permukaan datar lain yang nyaman, lalu tempatkan gulungan handuk atau bantal kecil di bawah pundak.

Kemudian, tempatkan tangan kanan di bawah kepala. Lumuri tangan kiri dengan losion dan gunakan jari tangan untuk meraba payudara kanan.

Lakukan perabaan payudara mengikuti arah jarum jam dengan gerakan melingkar. Setelah mencapai satu lingkaran, geser jari dan mulailah kembali hingga seluruh permukaan payudara terjamah, termasuk putingnya.

Tidak perlu terburu-buru saat melakukan pemeriksaan. Pastikan semua permukaan payudara telah teraba dengan seksama. Pemeriksaan SADARI dengan cara berbaring ini membuat payudara melebar sehingga memudahkan untuk diperiksa.

Saat dan setelah melakukan pemeriksaan SADARI Anda harus tetap tenang jika mendapati adanya perubahan pada payudara. Meski harus tetap waspada, sebagian besar perubahan fisik tidak mengarah pada kanker payudara.

Ini yang Harus Dilakukan jika Terdapat Perubahan pada Payudara

Jika ditemui adanya benjolan atau perubahan pada payudara, jangan panik karena ini dapat disebabkan oleh banyak hal. Sebagian besar kasus pun tidak mengarah pada penyakit yang serius. Dari 10 kasus yang ada, hanya 1 kasus benjolan yang bersifat kanker.

Meski demikian, Anda tetap harus segera memeriksakan segala perubahan yang ada ke dokter. Pasalnya, jika disebabkan oleh kanker, Anda harus segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Beberapa tanda bahwa Anda perlu segera melakukan pemeriksaan ke dokter pasca melakukan SADARI adalah:

  • Adanya benjolan keras pada payudara atau ketiak
  • Terlihat adanya perubahan pada permukaan kulit payudara, seperti kulit menjadi berkerut atau terdapat cekungan
  • Terlihat adanya perubahan ukuran dan bentuk payudara, terutama ketika Anda mengangkat payudara atau menggerakkan lengan
  • Keluar cairan dari puting payudara, tapi bukan ASI
  • Keluar darah dari puting
  • Terdapat bagian puting yang memerah dan menjadi lembap, serta tidak kunjung berubah menjadi seperti semula
  • Puting berubah bentuk, misalnya menjadi masuk ke dalam
  • Adanya ruam di sekitar puting
  • Ada rasa sakit atau tidak nyaman yang berkelanjutan pada payudara

Pemeriksaan payudara secara klinis juga mungkin diperlukan untuk menentukan apakah benjolan dan penyebab perubahan pada payudara merupakan tanda dan gejala awal dari kanker payudara.

Pemeriksaan yang bisa dilakukan oleh dokter meliputi pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, seperti mammogram, magnetic resonance imaging (MRI), dan USG. Jika dari hasil pemeriksaan terdapat kecurigaan akan adanya kanker, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan biopsi.

Periksa payudara sendiri atau SADARI sebaiknya sudah dilakukan sejak usia 20 tahun dan diperlukan pemeriksaan yang lebih sering jika usia Anda telah mencapai 50 tahun ke atas atau jika terdapat riwayat kanker payudara dalam keluarga.

Pemeriksaan untuk mendeteksi potensi kanker juga perlu dilakukan secara teratur agar kelainan pada payudara dapat diketahui sejak dini.


Search This Blog

Menu Halaman Statis

Contact Form

Name Email * Message *

Category

Popular Posts