PubMed Media Kesehatan

Tumor Askin - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed



Tumor Askin - Gejala, penyebab dan mengobati

Tumor Askin adalah jenis tumor ganas yang menyerang jaringan lunak pada rongga dada. Tumor ini umumnya dialami oleh anak-anak atau remaja yang berkulit putih.

Tumor Askin merupakan salah satu jenis kanker sarkoma Ewing dan peripheral primitive neuroectodermal tumor (PNET) yang sangat jarang terjadi. Gejala tumor Askin dapat menyerupai gejala tumor mediastinum, empiema, limfoma, dan TBC (tuberkulosis). Oleh sebab itu, diagnosis tumor Askin memerlukan pemeriksaan yang kompleks.

Tumor Askin - PubMed

Penyebab Tumor Askin

Penyebab pasti tumor Askin belum dapat diketahui dengan pasti. Namun, kondisi ini diduga terjadi akibat mutasi atau perubahan DNA. Tumor ini juga diketahui lebih banyak terjadi pada anak-anak dan remaja laki-laki yang berasal dari ras kaukasoid atau berkulit putih.

Gejala Tumor Askin

Gejala yang umumnya muncul pada penderita tumor Askin adalah:

  • Demam
  • Batuk dalam jangka panjang
  • Berat badan menurun
  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Tidak nafsu makan (anoreksia)

Pada beberapa kasus, tumor Askin juga dapat ditandai dengan gejala tertentu, seperti:

  • Pupil mengecil dan kelopak mata kendur, seperti yang sering terjadi pada sindrom Horner
  • Limfadenopati regional
  • Efusi pleura
  • Kerusakan pada tulang rusuk

Kapan harus ke dokter

Segera lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami gejala-gejala tumor Askin seperti yang telah disebutkan di atas. Pemeriksaan perlu dilakukan agar keberadaan tumor dapat terdeteksi. Dengan begitu, pengobatan bisa dilakukan secepatnya.

Diagnosis Tumor Askin

Sebagai langkah awal, dokter akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan pasien, serta riwayat penyakit dalam keluarga pasien.

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis tumor Askin. Beberapa pemeriksaan penunjang yang akan dilakukan antara lain:

  • Pemindaian dengan Rontgen dada, CT scan, dan MRI, untuk memeriksa benjolan atau tumor di rongga dada
  • Biopsi, untuk mendeteksi ketidaknormalan pada jaringan tubuh dengan mengambil dan memeriksa sampel dari bagian tubuh tertentu

Pengobatan Tumor Askin

Pengobatan tumor Askin bertujuan untuk menghilangkan tumor dan mencegah penyebarannya. Ada beberapa pilihan pengobatan yang dapat diberikan untuk menangani tumor Askin, yaitu:

Kemoterapi

Kemoterapi adalah pemberian obat-obatan untuk membunuh sel kanker. Kemoterapi dapat dilakukan setelah operasi pengangkatan tumor (kemoterapi adjuvant) atau sebelumnya (kemoterapi neoadjuvant).

Beberapa kombinasi obat kemoterapi yang dapat diberikan untuk mengatasi tumor Askin meliputi doxorubicin, dactinomycin, cyclophosphamide, ifosfamide, vincristine, etoposide, busulfan, melphalan, dan carboplatin.

Perlu diketahui bahwa salah satu efek samping dari prosedur kemoterapi adalah kerusakan pada sumsum tulang. Oleh karena itu, dokter akan menyarankan pasien untuk menjalani transplantasi sel induk setelah kemoterapi untuk menggantikan sel-sel yang rusak.

Operasi pengangkatan tumor

Operasi pengangkatan jaringan tumor dilakukan jika tumor tidak dapat ditangani dengan kemoterapi. Namun, apabila tumor Askin sudah menyebar, dokter akan melakukan kemoterapi sebelum operasi. Tujuannya adalah untuk menyusutkan ukuran tumor sehingga tumor bisa lebih mudah diangkat.

Radioterapi

Radioterapi dapat dilakukan sebelum operasi pengangkatan tumor. Radioterapi sebelum operasi bertujuan untuk mengecilkan tumor sehingga fungsi organ yang akan diangkat dapat dijaga seoptimal mungkin.

Radioterapi juga dapat diterapkan kepada pasien yang sudah menjalani operasi pengangkatan tumor. Tujuannya adalah untuk merusak jaringan tumor yang tidak terangkat dan untuk mengurangi kemungkinan kambuhnya tumor.

Setelah menjalani pengobatan, pasien harus melakukan kontrol rutin selama beberapa bulan hingga beberapa tahun guna memastikan bahwa tumor tidak muncul kembali.

Tumor Askin termasuk tumor yang ganas dan cukup sulit untuk dideteksi pada awal kemunculannya. Kondisi ini menyebabkan peluang kesembuhannya rendah.

Komplikasi Tumor Askin

Pada sebagian kecil kasus tumor Askin, sel-sel tumor dapat mengalami penyebaran (metastasis). Tumor Askin dapat menyebar ke beberapa bagian tubuh, seperti paru-paru, hati, otak, kelenjar adrenal, serta kelenjar getah bening di rongga tengah dada dan rongga perut.

Pencegahan Tumor Askin

Karena penyebab pasti tumor Askin belum diketahui, kondisi ini cukup sulit untuk dihindari. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemeriksaan sedini mungkin ketika muncul gejala yang dicurigai sebagai tumor Askin sehingga tumor bisa segera ditangani.


Ulkus Kornea - Gejala, Penyebab, dan Pengobatan - PubMed



Ulkus Kornea - Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Ulkus kornea adalah luka terbuka pada kornea mata. Kondisi ini paling sering disebabkan oleh infeksi, misalnya infeksi virus atau bakteri. Ulkus kornea tergolong kondisi darurat medis pada mata karena dapat mengakibatkan kebutaan jika tidak segera ditangani.

Kornea mata adalah selaput bening yang menutupi bagian berwarna pada bola mata. Organ ini memiliki banyak fungsi, salah satunya membiaskan atau membelokkan cahaya yang masuk ke mata. Dengan kata lain, kornea menentukan kemampuan seseorang untuk melihat dengan jelas.

eye exam

Ulkus kornea bisa mengganggu proses masuknya cahaya ke mata sehingga penglihatan menjadi terganggu. Selain itu, kornea juga berfungsi untuk melindungi mata dari kotoran atau kuman. Bila kornea rusak, mata akan lebih berisiko terkena infeksi yang dapat merusak mata bagian dalam.

Penyebab Ulkus Kornea

Ulkus kornea paling sering disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, jamur, atau parasit. Berikut ini adalah penjelasannya:

1. Infeksi virus

Ulkus kornea dapat disebabkan oleh infeksi virus herpes simplex (HSV) pada mata. Infeksi akibat virus yang juga dikenal sebagai herpes mata ini bisa kambuh dari waktu ke waktu. Kekambuhan dapat dipicu oleh stres, daya tahan tubuh yang lemah, atau paparan sinar matahari ke mata yang terlalu lama.

Selain herpes simplex, ulkus kornea juga dapat disebabkan oleh infeksi virus Varicella. Infeksi virus dapat terjadi melalui kontak langsung dengan seseorang yang terinfeksi virus Varicella atau HSV. Namun, umumnya virus menyerang bagian tubuh yang lain terlebih dahulu sebelum mata.

2. Infeksi bakteri

Ulkus kornea yang disebabkan oleh infeksi bakteri biasanya terjadi akibat pemakaian lensa kontak dalam waktu yang lama sehingga kornea tidak mendapatkan cukup oksigen dan rentan terinfeksi.

Bakteri bisa tumbuh pada lensa kontak yang tergores atau tidak disimpan dengan baik. Selain itu, bakteri juga bisa tumbuh di cairan pembersih lensa kontak. Bakteri tersebut kemudian berkembang biak dan menginfeksi mata lalu memicu terjadinya ulkus, terutama bila lensa kontak yang terkontaminasi dipakai dalam waktu lama.

3. Infeksi jamur

Ulkus kornea yang disebabkan oleh infeksi jamur tergolong jarang ditemukan. Infeksi jamur pada kornea umumnya terjadi ketika mata terkena tanah, air, atau benda lain yang mengandung spora jamur, seperti tanaman.

Selain itu, ulkus kornea akibat infeksi jamur dapat disebabkan oleh penggunaan tetes mata steroid yang berlebihan atau dalam jangka panjang. Imunitas tubuh yang lemah juga bisa menyebabkan seseorang lebih rentan terkena ulkus kornea akibat jamur.

4. Infeksi parasit

Ulkus kornea akibat infeksi parasit paling sering disebabkan oleh Acanthamoeba, yaitu jenis ameba yang hidup di air dan tanah. Infeksi dapat terjadi jika seseorang memakai lensa kontak yang kotor dan terkontaminasi parasit ini.

Selain itu, melakukan aktivitas di air yang kemungkinan besar terkontaminasi, seperti danau atau sungai, juga dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi Acanthamoeba.

Selain infeksi, ulkus kornea juga dapat disebabkan oleh sejumlah kondisi berikut:

  • Sindrom mata kering
  • Bulu mata yang tumbuh ke dalam (entropion)
  • Kelopak mata terlipat keluar
  • Peradangan pada kelopak mata (blefaritis)
  • Paparan bahan kimia pada mata
  • Kekurangan vitamin A
  • Cedera pada kornea mata akibat terkena sesuatu, seperti pasir, pecahan kaca, alat rias, atau potongan kuku saat menggunting kuku
  • Gangguan yang memengaruhi fungsi kelopak mata, seperti Bell’s palsy yang menyebabkan kelopak mata tidak bisa menutup dan membuat kornea kering sehingga memicu terbentuknya ulkus.

Gejala Ulkus Kornea

Beberapa gejala yang dapat terjadi akibat ulkus kornea adalah:

  • Mata berair
  • Mata sensitif terhadap cahaya (fotofobia)
  • Mata merah
  • Gatal atau nyeri di mata
  • Bintik putih pada kornea
  • Pandangan kabur
  • Rasa mengganjal di mata
  • Kelopak mata membengkak
  • Mata mengeluarkan nanah

Kapan harus ke dokter

Segera ke dokter bila muncul keluhan di atas, terutama jika menggunakan lensa kontak atau baru saja mengalami cedera pada mata. Semua gejala ulkus kornea harus segera ditangani dokter. Bila dibiarkan, ulkus kornea dapat menyebabkan kerusakan permanen pada mata hingga kebutaan.

Diagnosis Ulkus Kornea

Untuk mendiagnosis ulkus kornea, dokter akan melakukan tanya jawab terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien, diikuti dengan pemeriksaan fisik pada mata menggunakan mikroskop khusus atau slit lamp.

Agar ulkus lebih mudah terlihat, dokter akan memberi obat tetes mata khusus (fluoresens) ke mata pasien. Obat mata ini dapat membuat bagian kornea yang rusak terlihat berpendar atau bercahaya.

Bila dokter menduga ulkus kornea pada pasien disebabkan oleh infeksi, dokter akan mengambil sampel kornea untuk dikultur dan diteliti di laboratorium. Dengan mengetahui jenis mikroorganisme penyebab infeksi, dokter dapat memberikan metode pengobatan yang tepat kepada pasien.

Pengobatan Ulkus Kornea

Penanganan ulkus kornea tergantung pada penyebabnya dan kondisi pasien. Tindakan yang dapat dilakukan oleh dokter antara lain:

Obat-obatan

Dokter akan meresepkan obat antivirus, antibiotik, atau antijamur, tergantung pada penyebab ulkus kornea. Obat yang diberikan bisa dalam bentuk tetes, salep, atau suntik di sekitar mata.

Sementara itu, pada ulkus kornea yang tidak diketahui penyebabnya, dokter akan memberikan obat tetes mata antibiotik yang bisa membunuh banyak jenis bakteri, seperti ofloxacin.

Obat-obatan lain yang bisa diberikan oleh dokter adalah obat tetes mata khusus guna melebarkan pupil. Selain obat pelebar pupil, dokter juga dapat meresepkan obat minum untuk meredakan nyeri.

Kortikosteroid tetes mata dapat diberikan setelah pengobatan untuk infeksi selesai. Tujuannya adalah untuk meredakan pembengkakan dan peradangan. Namun, penggunaan obat ini harus diawasi secara ketat oleh dokter, karena bisa menyebabkan efek samping yang berbahaya jika berlebihan.

Operasi

Pada kasus ulkus kornea yang sudah sangat parah, dokter akan menyarankan tindakan keratoplasti atau transplantasi kornea. Keratoplasti dilakukan dengan mengganti kornea pasien yang rusak dengan kornea sehat dari pendonor.

Penanganan mandiri

Untuk membantu pengobatan, dokter akan menyarankan pasien untuk melakukan beberapa hal berikut:

  • Memberikan kompres dingin ke mata, tetapi jangan sampai mata terkena air
  • Mengonsumsi obat pereda nyeri, seperti paracetamol atau ibuprofen
  • Mencegah penyebaran infeksi dengan rutin mencuci tangan dan mengeringkannya dengan handuk yang bersih
  • Tidak menyentuh atau mengusap mata
  • Tidak memakai lensa kontak dan riasan mata untuk sementara waktu

Pencegahan Ulkus Kornea

Ulkus kornea dapat dicegah dengan segera mencari pertolongan medis bila muncul gejala infeksi mata atau terjadi cedera pada mata. Selain itu, lakukan beberapa upaya pencegahan berikut:

  • Memakai kacamata pelindung saat melakukan kegiatan yang berisiko mencederai mata atau menyebabkan kelilipan
  • Menggunakan air mata buatan untuk menjaga permukaan bola mata tetap basah jika Anda menderita sindrom mata kering atau kelopak mata Anda tidak menutup dengan sempurna

Karena ulkus kornea umumnya terjadi pada pengguna lensa kontak, gunakan dan rawat lensa kontak sesuai petunjuk pemakaian. Lakukan pula beberapa hal di bawah ini:

  • Mencuci tangan dan memastikan tangan kering sebelum menyentuh lensa
  • Tidak menggunakan air keran untuk membersihkan lensa kontak
  • Tidak menggunakan air liur untuk membersihkan lensa, karena air liur mengandung bakteri yang dapat melukai kornea
  • Melepas lensa kontak sebelum tidur
  • Melepas lensa kontak apabila terjadi iritasi mata dan tidak memakainya sebelum mata sembuh
  • Membersihkan lensa kontak sebelum dan setelah dipakai
  • Mengganti lensa kontak sesuai waktu yang dianjurkan dokter

9 Cara Berhenti Merokok yang Ampuh - PubMed



9 Cara Berhenti Merokok yang Ampuh

Bagi para perokok, terutama perokok berat, berhenti merokok bukanlah hal yang mudah. Namun, ada beberapa cara berhenti merokok yang dapat dilakukan agar terlepas dari kebiasaan buruk ini. Dengan begitu, tubuh bisa kembali sehat dan risiko munculnya beragam penyakit pun akan menurun. 

Berhenti merokok merupakan tantangan tersendiri bagi para perokok. Pasalnya, beberapa kandungan dalam rokok dapat menimbulkan efek kecanduan sehingga dapat memicu munculnya gejala putus nikotin saat seseorang berusaha berhenti merokok.

Namun, bukan berarti Anda tidak dapat berhenti merokok. Dengan kesabaran dan tekad yang kuat, Anda bisa terbebas dari belenggu rokok dan bahaya yang menyertainya.

Berbagai Cara Berhenti Merokok

Bila Anda seorang perokok aktif dan berniat untuk menghentikan kebiasaan buruk ini, ada beberapa cara berhenti merokok yang dapat Anda lakukan, yakni:

1. Mengelola stres

Stres bisa menjadi salah satu alasan seseorang memilih untuk merokok karena kandungan nikotin di dalamnya dapat memberikan efek relaksasi dengan cepat. Meski demikian, beberapa penelitian membuktikan bahwa kebiasaan merokok justru dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami stres.

Untuk meredakan stres, ubah kebiasaan merokok secara perlahan dengan melakukan beberapa aktivitas yang disenangi, seperti berolahraga, mendapatkan terapi pijat, atau meditasi. Selain itu, sebisa mungkin hindari pula situasi yang bisa mendatangkan stres.

2. Menghindari pemicu kebiasaan merokok

Saat sedang berusaha berhenti merokok, sebisa mungkin hindari faktor atau kebiasaan yang dapat membuat Anda kembali merokok, seperti minum kopi atau alkohol, maupun berkumpul dengan sesama perokok.

Jika terbiasa merokok setelah makan, Anda bisa mencari cara lain sebagai pengganti, misalnya dengan mengunyah permen karet atau menggosok gigi.

3. Mengonsumsi makanan sehat

Sebagian perokok aktif sering merasa kurang berselera untuk makan. Hal ini karena nikotin di dalam rokok dapat mengurangi sensitivitas indra perasa dan penciuman.

Penelitian menunjukkan bahwa makanan sehat, seperti sayur dan buah-buahan, dapat mengurangi hasrat untuk kembali merokok. Tak hanya itu, makanan sehat juga dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh sekaligus mengembalikan selera makan yang berkurang akibat merokok.

4. Berolahraga secara rutin

Tak hanya membuat tubuh lebih sehat dan bugar, olahraga juga dapat mengurangi kecanduan akan nikotin. Saat keinginan untuk merokok datang, Anda dapat mengalihkan keinginan ini dengan melakukan olahraga, seperti jalan santai, berenang, atau bersepeda.

5. Membersihkan rumah secara berkala

Kebersihan rumah juga dapat menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung Anda berhenti merokok. Anda bisa mencuci pakaian, sprei, karpet, atau tirai yang mengandung aroma rokok.

Anda juga bisa menggunakan pengharum ruangan untuk menghilangkan bau asap rokok dan mengalihkan pikiran dari berbagai hal yang bisa mengingatkan Anda pada rokok, termasuk baunya.

6. Melibatkan keluarga dan teman terdekat

Beri tahu keluarga dan kerabat dekat bahwa Anda sedang dalam proses berhenti merokok. Dengan demikian, mereka dapat membantu dan memberikan dukungan agar Anda selalu ingat akan tujuan berhenti merokok yang ingin dicapai.

7. Mencoba terapi pengganti nikotin (nicotine-replacement therapy)

Terapi pengganti nikotin umumnya bertujuan untuk mengatasi rasa frustrasi dan meredakan gejala putus obat yang sering dirasakan saat berusaha berhenti merokok. Media terapi pengganti rokok ada beragam, seperti permen karet, tablet hisap, dan koyo nikotin.

Meski dianggap aman dan dapat mengurangi kecanduan akan rokok, Anda tetap disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum melakukan NRT.

8. Menjalani terapi perilaku

Konseling dengan psikolog atau konselor dapat membantu Anda mengidentifikasi faktor pemicu kebiasaan merokok dan menemukan strategi berhenti merokok yang sesuai dengan kondisi Anda.

Untuk memaksimalkan keberhasilannya, terapi perilaku dapat dipadukan dengan terapi pengganti nikotin dan pemberian obat-obatan oleh dokter.

9. Mencoba hipnoterapi

Cara berhenti merokok juga dapat berupa terapi alternatif berupa hipnoterapi. Efektivitas hipnoterapi untuk menghentikan kebiasaan merokok memang belum diketahui secara pasti. Namun, sebagian orang mengaku telah merasakan manfaatnya.

Beberapa jenis obat, seperti bupropion dan varenicline, juga dapat membantu Anda berhenti merokok. Namun, obat ini hanya boleh dikonsumsi sesuai anjuran dan di bawah pengawasan dokter.

Berhenti merokok memang bukan hal yang mudah dilakukan. Tidak sedikit pula orang yang gagal melakukannya. Namun, komitmen Anda sebagai upaya untuk berhenti merokok akan sangat membantu dalam menyingkirkan kebiasaan tersebut.

Saat merasa kesulitan berhenti merokok, coba ingat kembali alasan mengapa Anda ingin berhenti merokok, misalnya agar tubuh terbebas dari berbagai macam penyakit atau keluarga Anda terhindar dari bahaya menjadi perokok pasif.

Namun, jika Anda masih merasa kesulitan berhenti merokok meski telah melakukan berbagai cara berhenti merokok di atas, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Dengan begitu, dokter dapat menyarankan cara berhenti merokok yang efektif dan sesuai dengan kondisi Anda.


Plummer's Disease - Gejala, Penyebab dan Mengobati - PubMed



Plummer's Disease - Gejala, Penyebab dan Mengobati

Plummer’s disease  adalah pembesaran dan pembentukan benjolan-benjolan pada kelenjar tiroid. Benjolan-benjolan tersebut menyebabkan kelenjar tiroid menjadi terlalu aktif sehingga hormon tiroid diproduksi secara berlebihan di dalam tubuh.

Plummer’s disease atau toxic multinodular goiter menyebabkan peningkatan kadar hormon tiroid (hipertiroidisme). Kondisi ini paling sering terjadi pada orang lanjut usia dan orang-orang yang kekurangan yodium.

Plummer's Disease - alodokter

Gejala hipertiroidisme pada Plummer’s disease muncul ketika benjolan (nodul) membesar hingga berukuran lebih dari 2,5 cm.

Penyebab Plummer’s Disease

Penyebab Plummer’s disease belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya Plummer’s disease, yaitu:

  • Merokok
  • Berusia lebih dari 55 tahun
  • Mengalami kekurangan yodium
  • Pernah menjalani radiasi di kepala dan leher
  • Memiliki keluarga dengan riwayat pembesaran nodul tiroid

Plummer’s disease biasanya diawali dengan pembesaran nodul kelenjar tiroid yang terjadi selama bertahun-tahun. Pertumbuhan nodul ini selanjutnya menyebabkan produksi hormon tiroid yang berlebihan (hipertiroidisme).

Gejala Plummer’s Disease

Gejala Plummer’s disease bisa mirip dengan gejala hipertiroidisme yang lain. Gejala tersebut meliputi:

  • Diare
  • Berat badan menurun
  • Nafsu makan meningkat
  • Jantung berdebar (palpitasi)
  • Keringat berlebihan
  • Gangguan tidur
  • Kram otot
  • Kelelahan
  • Cemas atau gelisah
  • Gemetar (tremor), umumnya di tangan
  • Peningkatan sensitivitas terhadap panas
  • Menstruasi tidak teratur (pada wanita)

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas. Jika Anda sudah terdiagnosis mengalami Plummer’s disease, kontrol rutin ke dokter juga perlu dilakukan.

Segera periksakan diri ke dokter jika terjadi pembengkakan di leher, terlebih bila disertai dengan gejala lain, seperti suara serak, leher terasa penuh atau seperti ada yang tersangkut di dalam tenggorokan, serta sulit bernapas, menelan, atau bicara.

Diagnosis Plummer’s Disease

Untuk mendiagnosis Plummer’s disease, dokter akan melakukan tanya jawab terkait gejala yang dialami, riwayat kesehatan dan pengobatan yang pernah dijalani pasien, serta riwayat penyakit dalam keluarga pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik.

Selanjutnya, untuk memastikan diagnosis, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang, seperti:

  • Tes hormon tiroid, untuk mengetahui kadar hormon tiroid triiodothyronine (T3), thyroxine (T4), dan TSH (thyroid stimulating hormone) dalam darah
  • Tes kadar iodium radioaktif, untuk mengukur kadar iodium radioaktif yang diserap oleh kelenjar tiroid dalam periode waktu tertentu
  • USG tiroid, untuk mendeteksi benjolan atau tumor pada kelenjar tiroid di dalam leher

Pengobatan Plummer’s Disease

Tujuan dari pengobatan Plummer’s disease adalah untuk menangani gejala yang timbul dan mencegah komplikasi akibat penyakit ini. Ada beberapa metode pengobatan yang dapat dilakukan untuk menangani Plummer’s disease, yaitu:

Terapi iodium radioaktif

Terapi iodium radioaktif diberikan dalam bentuk oral (minum) untuk memperkecil ukuran nodul tiroid. Iodium radioaktif akan terserap ke dalam jaringan tiroid dan merusak jaringan tiroid yang terlalu aktif.

Obat penghambat beta (beta-blockers)

Obat penghambat beta (beta-blockers), seperti propranolol, diberikan untuk membantu meredakan gejala hipertiroidisme. Obat ini dapat digunakan sampai kadar hormon tiroid di dalam tubuh kembali normal.

Obat antitiroid

Obat antitiroid bekerja dengan mengurangi produksi hormon tiroid. Obat ini dapat digunakan dalam jangka panjang untuk pasien yang tidak dapat menjalani metode pengobatan lain. Contoh obat antitiroid yang digunakan adalah methimazole dan PTU (propylthiouracil).

Tiroidektomi

Tiroidektomi atau operasi pengangkatan tiroid dilakukan jika ukuran kelenjar tiroid sudah terlalu besar dan menekan organ di sekitarnya.

Komplikasi Plummer’s Disease

Peningkatan kadar hormon tiroid pada Plummer’s disease dapat menyebabkan beberapa komplikasi, antara lain:

Pencegahan Plummer’s Disease

Karena penyebabnya belum diketahui dengan pasti, tidak ada upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah Plummer’s disease. Namun, jika keluarga Anda memiliki riwayat pembesaran nodul tiroid atau penyakit tiroid, cukupi kebutuhan yodium dan lakukan pemeriksaan berkala untuk mencegah timbulnya komplikasi.


Waspadai Jajanan Anak Sekolah yang Mengandung Zat Berbahaya - PubMed



Waspadai Jajanan Anak Sekolah yang Mengandung Zat Berbahaya

Jajanan anak sekolah sering kali diragukan kebersihan dan keamanannya. Bahan-bahan yang digunakan serta cara penyajian yang kurang higienis membuat orang tua khawatir terhadap kesehatan anak di sekolah. Lantas, apa saja zat berbahaya yang biasanya terkandung di jajanan sekolah?

Jajanan anak sekolah biasanya memiliki rasa yang manis, warna yang cerah, dan harganya pun relatif murah. Hal inilah yang membuat anak-anak tertarik untuk mengonsumsinya.

Namun, makanan dan minuman tersebut bisa saja mengandung pewarna buatan maupun bahan pengawet yang seharusya tidak boleh dikonsumsi oleh anak-anak dan bahkan orang dewasa.

Jika terus-menerus dikonsumsi dalam jangka panjang, kandungan zat berbahaya tersebut dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk selalu waspada terhadap bahaya jajanan anak sekolah yang dijual secara bebas.

Bahan Berbahaya dalam Jajanan Anak Sekolah

Ada beberapa kandungan bahan berbahaya dalam jajanan anak sekolah yang sering ditemukan, yaitu:

1. Boraks

Boraks (sodium tetraborat) merupakan bubuk putih yang menyerupai garam dan tidak memiliki rasa. Umumnya, boraks digunakan sebagai bahan untuk membuat detergen, pestisida, dan pupuk. Namun, bahan ini sering disalahgunakan sebagai pengawet makanan dan untuk melunakkan daging.

Bila dikonsumsi terus-menerus, jajanan anak sekolah yang mengandung boraks dapat menyebabkan gangguan otak, hati, dan ginjal. Bahkan, bila dikonsumsi secara berlebihan, anak bisa muntah, diare, hingga syok yang bisa mengancam nyawanya.

2. Formalin

Formalin juga kerap ditemukan sebagai pengawet jajanan anak sekolah. Dalam jangka panjang, jajanan anak sekolah yang mengandung formalin, dapat merusak sistem pencernaan, meningkatkan risiko gagal ginjal, dan memicu kanker.

Formalin juga diyakini dapat menyebabkan gangguan organ reproduksi pada wanita. Sementara pada ibu hamil, formalin dapat menyebabkan cacat lahir hingga kematian janin.

3. Rhodamin B

Rhodamin B merupakan zat pewarna kimia yang biasa digunakan untuk kertas, tekstil, kayu, sabun, dan emas. Bila anak terus-menerus mengonsumsi jajanan anak sekolah dengan kandungan rhodamin B, maka dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan fungsi hati dan kanker hati.

4. Kuning metanil

Kuning metanil umumnya digunakan untuk pewarna tekstil, kertas, dan cat. Konsumsi makanan dengan kandungan kuning metanil dalam jangka panjang, dapat memicu penurunan tekanan darah dan kanker.

Tips Memilih Jajanan Sehat untuk Anak Sekolah

Anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, akan sering merasa lapar di antara waktu makan. Untuk mencegah bahaya dari berbagai bahan kimia dalam makanan, Anda dapat memberikan camilan sehat dengan kriteria berikut ini:

  • Makanan rendah gula, lemak, dan garam
  • Makanan kaya akan protein
  • Produk biji-bijian utuh
  • Buah-buahan atau jus buah yang dicampur yoghurt maupun susu
  • Susu, kacang-kacangan, dan kismis

Jika tidak sempat menyiapkan bekal sekolah anak, Anda bisa memberi tahu anak untuk menghindari jajanan sekolah dengan warna terlalu mencolok dan memiliki rasa yang terlalu manis atau gurih.

Selain itu, ingatkan anak agar tidak membeli jajanan yang diolah sampai gosong atau menggunakan minyak yang dipakai berulang kali. Pastikan juga anak-anak melihat label kemasan jajanan agar tidak mengonsumsi produk yang sudah kedaluwarsa.

Jika Anda masih memiliki pertanyaan seputar zat berbahaya yang terkandung di dalam jajanan anak sekolah dan pilihan menu atau camilan sehat untuk anak, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter gizi.


5 Cara Mencuci Buah dan Sayur yang Benar agar Terhindar dari Penyakit - PubMed



5 Cara Mencuci Buah dan Sayur yang Benar agar Terhindar dari Penyakit

Mencuci buah dan sayur harus dilakukan dengan benar untuk menghindari kontaminasi bakteri, parasit, atau pestisida yang bisa menyebabkan penyakit. Salah satu cara terbaik untuk mencuci buah dan sayur adalah dengan air mengalir.

Buah dan sayur memiliki kandungan vitamin, kalsium, dan serat yang baik untuk tubuh. Namun, sebelum dikonsumsi, Anda sebaiknya mencuci buah dan sayur terlebih dahulu karena keduanya rentan terkontaminasi berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus, atau parasit.

Pencemaran pada buah dan sayur dapat bersumber dari tanah, air yang digunakan untuk irigasi, penggunaan pupuk kompos atau pupuk kandang, dan proses pengemasan yang tidak higienis. Berbagai faktor ini bisa menjadi sumber penyakit dan mungkin menyebabkan keracunan makanan.

Ketahui Cara Mencuci Buah dan Sayur yang Benar

Berikut ini adalah cara mencuci buah dan sayur yang benar untuk menghilangkan bakteri dan pestisida pada permukaannya:

1. Cuci tangan

Sebelum menyiapkan buah dan sayur segar, Anda sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu dengan sabun kurang lebih selama 20 detik. Mencuci tangan diperlukan untuk meminimalkan kontaminasi bakteri yang mungkin terjadi ketika Anda berada di pasar, memegang tas belanja, atau memegang gagang pintu.

2. Potong bagian yang rusak

Sebelum mencuci buah dan sayur, Anda harus memperhatikan bagian permukaan buah atau sayur yang dibeli. Jika terdapat kerusakan atau tampak busuk, sebaiknya potong dan pisahkan bagian tersebut, karena bakteri penyebab penyakit bisa berkembang biak pada bagian tersebut.

3. Gunakan air mengalir

Mencuci buah dan sayur dengan menggunakan air yang mengalir dinilai cukup efektif untuk membersihkan kotoran pada permukaannya. Beberapa orang mungkin menggunakan cuka dan jus lemon untuk membersihkan sayur, tetapi penggunaan air mengalir diketahui lebih efektif karena tidak meninggalkan endapan.

4. Gosok dengan lembut

Saat mencuci buah dan sayur di bawah air mengalir, pastikan Anda menggosok bagian permukaannya secara perlahan. Jika diperlukan, gunakan sikat dengan bulu yang lembut agar tidak merusak permukaan sayur dan buah. Bila sampai rusak atau berlubang, ini dapat meningkatkan risiko kuman masuk ke dalam buah atau sayur.

5. Keringkan buah dan sayur

Setelah proses mencuci buah dan sayur selesai, Anda harus mengeringkannya dengan kain bersih atau tisu terlebih dahulu sebelum menyimpannya ke dalam kulkas. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan adanya bakteri yang masih tertinggal di permukaan.

Satu hal yang perlu diingat, hindari mencuci buah dan sayur menggunakan detergen atau sabun, karena dikhawatirkan terdapat kandungan berbahaya yang bisa menyerap ke dalam makanan dan menyebabkan masalah kesehatan.

Tips Menyimpan serta Mengolah Buah dan Sayur yang Aman

Tak hanya cara mencuci sayur dan buah yang harus diperhatikan, Anda juga harus teliti saat menyimpan dan mengolahnya sebelum disantap. Berikut ini adalah beberapa tips yang bisa dilakukan:

  • Pilih buah dan sayur yang tidak rusak.
  • Jauhkan buah dan sayur dari daging mentah atau makanan laut, baik saat di keranjang belanja atau di kulkas.
  • Gunakan pisau dan talenan yang terpisah dengan daging mentah.
  • Simpan buah dan sayur yang sudah dicuci dan dikeringkan di dalam lemari es.
  • Cuci telenan, pisau, dan perlengkapan dapur lainnya setelah digunakan.

Inilah beberapa tips yang dapat Anda lakukan saat memilih atau hendak menyimpan buah dan sayur agar terhindar dari kontaminasi bakteri atau pestisida.

Buah dan sayur memiliki banyak manfaat untuk tubuh. Namun, untuk memaksimalkan manfaatnya, Anda harus mencuci buah dan sayur dengan benar. Dengan demikian, Anda bisa meminimalkan kontaminasi bakteri dan terhindar dari penyakit.

Akan tetapi, jika Anda mengalami mual, muntah, diare, sakit perut, dan demam, setelah mengonsumsi buah dan sayur meski telah dicuci, segeralah periksakan diri ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat.


Benarkah Memakai Sarung Tangan Saat Berbelanja Bisa Menangkal Virus Corona? - PubMed



Benarkah Memakai Sarung Tangan Saat Berbelanja Bisa Menangkal Virus Corona?

Demi menangkal virus Corona, sebagian orang merasa butuh untuk memakai sarung tangan, khususnya ketika pergi berbelanja. Alasannya adalah agar tidak terpapar virus yang mungkin menempel di keranjang atau barang belanjaan. Namun, apakah cara ini ampuh melindungi diri dari virus Corona?

Virus Corona menular melalui percikan ludah atau droplet penderita COVID-19. Bila kamu tidak sengaja memegang benda yang telah terpapar virus dan langsung menyentuh mata, hidung, atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, besar kemungkinannya kamu akan tertular virus ini.

Penggunaan Sarung Tangan Saat Berbelanja Tidak Dianjurkan

Pandemi COVID-19 banyak mengubah kebiasaan masyarakat, salah satunya adalah masyarakat makin menjaga kebersihan diri dan lingkungan agar tak mudah terpapar virus. Contohnya, kini masyarakat jadi sering mencuci tangan, baik sebelum makan maupun setelah memegang barang.

Namun selain mencuci tangan, tidak sedikit pula orang yang menggunakan sarung tangan di tempat umum guna mengurangi keresahan saat menyentuh barang-barang yang kemungkinan besar juga disentuh orang lain.

Anggapan bahwa menggunakan sarung tangan ketika berbelanja atau saat keluar rumah dapat menurunkan risiko tertular COVID-19 merupakan anggapan yang salah besar, lho.

Mungkin kamu mengira dengan menggunakan sarung tangan, tanganmu akan tetap bersih, sehingga kamu tidak perlu repot-repot menggunakan hand sanitizer atau mencuci tangan.

Padahal, baik sarung tangan berbahan dasar karet atau nonkaret, keduanya sama-sama tidak bisa melindungi dirimu dari intaian virus yang sudah menginfeksi jutaan orang di dunia ini.

Sarung tangan memang bisa menjadi penghalang antara kedua tanganmu dengan keranjang belanjaan atau benda apa pun yang akan kamu sentuh. Namun, sarung tangan tersebut mungkin sudah mengandung kuman dan bakteri, terlebih bila tidak dicuci (untuk sarung tangan kain atau nonkaret) atau digunakan berkali-kali (untuk sarung tangan karet sekali pakai).

Selain itu, cara menggunakan atau melepaskan sarung tangan yang tidak benar pun turut meningkatkan risiko kamu tertular virus Corona.

Katakanlah kamu memegang suatu benda yang mengandung virus Corona menggunakan sarung tangan. Saat itu, virus Corona memang tidak menempel ke tanganmu, tapi ke sarung tangan.

Jika kamu tetap menyentuh barang-barang pribadimu, misalnya dompet, handphone, atau pegangan tasmu dengan menggunakan sarung tangan yang sama, virus bisa berpindah ke sana dengan mudah. Kejadian ini dinamakan dengan kontaminasi silang.

Selain itu, jika setelah melepas sarung tangan kamu jadi lengah untuk mencuci tangan dan langsung menyentuh barang-barang pribadimu atau bahkan wajahmu, risiko untuk tertular virus Corona menjadi lebih tinggi, bukan? Ingat, virus Corona bisa bertahan setidaknya selama 24 jam pada benda-benda seperti kardus atau plastik.

Penggunaan Sarung Tangan Tetap Diperbolehkan untuk Tenaga Medis

Penggunaan sarung tangan pada tenaga medis bertindak sebagai penghalang fisik secara langsung antara pasien dan tenaga kesehatan. Ini merupakan perlindungan ekstra ketika mereka diharuskan memeriksa dan menyentuh pasien.

Dengan menggunakan sarung tangan, tidak hanya tenaga medis yang akan terlindungi, pasien pun bisa terhindar dari infeksi tertentu yang mungkin dibawa oleh tenaga medis.

Para tenaga medis diperbolehkan untuk menggunakan sarung tangan karena umumnya mereka telah mengetahui tata cara menggunakan dan melepaskan sarung tangan yang benar dan sesuai protokol.

Selain itu, sarung tangan yang dipakai tenaga medis merupakan sarung tangan karet sekali pakai yang diganti setiap berpindah pasien. Mereka juga wajib untuk tetap mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer setiap selesai melepas dan membuang sarung tangan.

Setelah mengetahui bahwa penggunaan sarung tangan saat berbelanja atau di tempat umum tidak dianjurkan, maka mulai sekarang kamu tidak perlu menggunakan sarung tangan lagi, ya.

Menggunakan sarung tangan ataupun tidak, kamu tetap bisa tertular virus Corona atau SARS-CoV-2, jika tidak disiplin mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer setelah menyentuh benda yang terpapar virus ini atau melakukan kontak fisik dengan pasien COVID-19.

Langkah terpenting dalam mencegah tertular virus Corona adalah mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir setidaknya 20 detik atau menggunakan hand sanitizer, menggunakan masker ketika berada di tempat umum, menerapkan physical distancing, serta meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan rutin berolahraga.

Jika kamu masih bingung, jangan sungkan untuk bertanya pada dokter, ya. Langsung saja chat dengan dokter di aplikasi ALODOKTER. Di aplikasi ini, kamu bisa menanyakan pertanyaan seputar virus Corona atau COVID-19 maupun masalah kesehatanmu.


9 Gejala Lupus yang Perlu Diwaspadai - PubMed



9 Gejala Lupus yang Perlu Diwaspadai

Gejala lupus yang paling sering muncul adalah ruam kemerahan pada wajah yang menyerupai sayap kupu-kupu. Selain itu, terdapat beberapa gejala lain yang juga perlu di ketahui agar lupus bisa ditangani lebih awal guna mencegah komplikasi.

Lupus adalah jenis penyakit autoimun yang bisa menyebabkan peradangan di berbagai organ tubuh. Hal inilah yang membuat gejala lupus dapat berbeda pada setiap penderitanya.

Lupus terjadi akibat sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi sel, jaringan, dan organ tubuh yang sehat, justru malah berbalik menyerangnya karena mengalami gangguan. Meski lebih sering dialami oleh wanita yang berada pada usia subur (15–44 tahun), penyakit autoimun yang satu ini juga bisa menyerang pria.

Beberapa Gejala Lupus yang Perlu Dikenali

Seperti yang telah disebutkan, gejala lupus pada setiap orang dapat bervariasi. Hal ini karena lupus bisa memengaruhi bagian tubuh yang berbeda pada setiap orang. Meski begitu, terdapat beberapa gejala yang biasanya muncul dan dialami oleh penderita lupus, antara lain:

1. Nyeri otot dan sendi

Nyeri otot dan sendi adalah gejala yang paling sering dirasakan oleh penderita lupus. Gejala ini muncul sebagai efek samping dari peradangan yang terjadi di dalam tubuh. Nyeri otot dan sendi akibat lupus akan membuat otot serta sendi penderitanya menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan.

2. Demam secara tiba-tiba

Lupus juga dapat ditandai dengan munculnya demam secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini terjadi sebagai respon peradangan di dalam tubuh. Demam yang dialami penderita lupus umumnya adalah demam ringan. Oleh sebab itu, demam akibat lupus sering dianggap sebagai gejala dari kondisi medis lain.

3. Sakit kepala

Penderita lupus juga mungkin akan mengeluhkan sakit kepala. Gejala ini muncul karena sistem kekebalan tubuh menyerang sel saraf sehat yang berada di kepala. Saat hal itu terjadi, aliran darah di kepala jadi terganggu sehingga muncul sakit kepala.

Keparahan sakit kepala yang dialami oleh penderita lupus dapat berbeda-beda. Beberapa orang mungkin akan mengalami sakit kepala menyeluruh. Namun, beberapa orang lainnya hanya mengalami sakit kepala sebelah atau migrain.

4. Sensitif terhadap sinar matahari

Sebagian besar penderita lupus juga mengalami peningkatan sensitivitas terhadap paparan sinar matahari atau yang disebut dengan fotosensitivitas. Paparan sinar matahari bisa menyebabkan munculnya keluhan berupa ruam, demam, hingga nyeri sendi.

5. Ruam kemerahan pada kulit

Seperti yang telah disebutkan, ruam kemerahan pada kulit juga menjadi gejala lupus yang sering terjadi. Sampai saat ini, masih belum diketahui secara pasti bagaimana ruam lupus dapat muncul. Namun, kondisi ini diduga terjadi sebagai reaksi sistem kekebalan pada kulit saat terpapar sinar matahari secara berlebihan.

Ruam kemerahan akibat lupus biasanya muncul pada wajah, dimulai dari hidung dan menyebar hingga pipi dengan bentuk menyerupai sayap kupu-kupu. Selain itu, ruam kemerahan juga bisa muncul di bagian tubuh lain yang terpapar oleh sinar matahari, misalnya telinga, leher, lengan, dan tangan.

6. Rasa lelah berlebih

Penderita lupus akan lebih sering mengalami rasa lelah yang tidak kunjung hilang, bahkan ketika sudah cukup tidur atau beristirahat. Sama seperti beberapa gejala lupus lainnya, munculnya rasa lelah berlebih terjadi akibat respon peradangan saat sel-sel kekebalan tubuh menyerang sel yang sehat. Jika terjadi dalam waktu yang lama, gejala ini tentunya dapat mengganggu aktivitas.

7. Rambut rontok

Meski termasuk dalam kondisi yang umum terjadi, kerontokan rambut bisa menjadi salah satu gejala lupus. Pasalnya, penyakit autoimun dapat membuat sistem kekebalan tubuh menyerang folikel rambut atau tempat tumbuhnya rambut.

Jika rambut rontok tidak kunjung teratasi, hal ini bisa menyebabkan rambut menjadi tipis serta terjadinya kebotakan di beberapa bagian kepala.

8. Sesak napas

Penderita penyakit autoimun, termasuk lupus, bisa saja mengalami sesak napas ketika peradangan di dalam tubuh terjadi pada pleura atau lapisan tipis yang menyelimuti paru-paru. Pleura sendiri mengandung cairan yang berfungsi untuk mengurangi gesekan antara paru-paru dan rongga dada saat bernapas.

Ketika mengalami peradangan, pleura akan membengkak dan cairan pleura akan menjadi lengket dan berat. Kondisi tersebut tentunya akan memberi tekanan lebih pada paru-paru sehingga penderita lupus akan kesulitan untuk bernapas.

9. Penurunan daya ingat

Gejala selanjutnya yang sering dikeluhkan oleh penderita lupus adalah lupus fog. Istilah tersebut merujuk pada kondisi ketika penderita lupus menjadi cepat lupa dan kebingungan. Pada kasus yang parah, lupus fog bahkan bisa membuat penderitanya mengalami hilang ingatan.

Sebagian besar gejala lupus di atas mungkin bisa terjadi akibat penyakit lain yang lebih umum. Jadi, memang diperlukan pemeriksaan dokter untuk mengetahui penyebab pasti munculnya berbagai gejala di atas.

Gejala yang lupus yang terlambat atau tidak tertangani dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi. Beberapa komplikasi bahkan bisa menyebabkan gagal ginjal, katarak, serangan jantung, hingga stroke.

Meskipun sampai saat ini pengobatan penyakit lupus masih belum diketahui, penanganan tetap perlu dilakukan untuk meringankan gejala lupus serta mencegahnya kambuh kembali.

Oleh sebab itu, jika Anda mengalami gejala lupus seperti yang telah disebutkan di atas, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter guna mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan sedini mungkin agar komplikasi dapat dicegah.


Koma - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed



Koma - Gejala, penyebab dan mengobati

Koma adalah tingkatan paling dalam ketika seseorang tidak sadarkan diri. Orang yang mengalami koma tidak dapat merespons terhadap situasi di sekitarnya sama sekali.  

Penderita koma tidak akan melakukan gerakan, mengeluarkan suara, apalagi membuka mata, meskipun sudah dicubit. Berbeda dengan pingsan yang hanya terjadi sementara, hilang kesadaran pada penderita koma terjadi dalam waktu yang lama.

koma-alodokter

Koma terjadi akibat kerusakan di salah satu bagian otak, baik sementara maupun permanen. Penyebab kerusakan otak ini sangat beragam, seperti stroke, cedera berat di kepala, infeksi, atau tumor. Penyebab ini harus diketahui agar dokter bisa menentukan langkah pengobatannya.

Penyebab Koma

Koma terjadi akibat kerusakan di salah satu bagian otak yang mengatur kesadaran. Kerusakan tersebut dapat terjadi dalam jangka pendek atau jangka panjang.

Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan di otak dan memicu terjadinya koma, di antaranya:

Gejala Koma

Gejala utama koma adalah penurunan kesadaran yang ditandai dengan kehilangan kemampuan berpikir dan ketidakmampuan penderitanya dalam merespons situasi di sekitarnya.

Penderita koma tidak bisa bergerak, mengeluarkan suara, bahkan membuka mata, meski sudah diberi rangsangan, misalnya dicubit dengan keras. Kalaupun muncul respons, maka respons tersebut minimal, misalnya mengerang kecil ketika dicubit.

Seseorang yang mengalami koma terkadang masih dapat bernapas dan memiliki denyut jantung yang teratur. Namun, pada sebagian besar kasus, penderita koma sudah menggunakan alat bantu napas atau diberikan obat-obatan penopang denyut jantung.

Kapan harus ke dokter

Koma merupakan kondisi gawat darurat yang perlu segera ditangani oleh dokter. Kondisi ini dapat terjadi dengan seketika atau bertahap. Oleh sebab itu, segera ke dokter jika Anda mengalami kecelakaan, terutama bila ada benturan di kepala.

Selain itu, periksakan diri secara rutin ke dokter jika Anda menderita penyakit yang berisiko menimbulkan koma, misalnya diabetes.

Jika Anda melihat orang yang kesadarannya menurun atau malah tidak sadar, segera cari bantuan sambil memberikan pertolongan pertama. Beberapa langkah pertolongan pertama yang dapat dilakukan sebelum bantuan medis tiba adalah:

  • Periksa pernapasan dan denyut nadi di leher orang tersebut dan lakukan resusitasi jantung paru jika ia tidak bernapas atau denyut nadinya tidak terasa
  • Longgarkan pakaiannya
  • Jika orang tersebut mengalami perdarahan parah, tutup dan tekan area yang mengalami perdarahan agar ia tidak kehilangan banyak

Diagnosis Koma

Pada pasien yang dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri, dokter akan melakukan tindakan untuk memastikan keadaannya stabil. Setelah itu, dokter akan menilai tingkat kesadaran pasien dengan melihat apakah pasien dapat membuka mata, mengeluarkan suara, atau melakukan gerakan

Pada saat pemeriksaan, dokter akan memberikan berbagai rangsangan, seperti menyorotkan cahaya ke mata, mengetuk dan menekan bagian tubuh tertentu untuk menilai respons, serta merangsang nyeri dengan mencubit pasien.

Selanjutnya, dokter akan menilai tingkat kesadaran pasien dengan Skala Koma Glasgow (GCS). Berdasarkan skala ini, koma adalah nilai terendah dari tingkat kesadaran.

Setelah itu, dokter akan mencari tahu penyebab dari koma dan kelainan lain yang dialami pasien. Faktor yang diperiksa oleh dokter antara lain:

  • Pola napas
  • Suhu tubuh
  • Denyut jantung
  • Tekanan darah
  • Tanda-tanda cedera di kepala
  • Kondisi kulit, seperti ada tidaknya ruam dan warna kulit yang kuning, pucat, atau kebiruan

Dokter juga akan meminta keterangan dari keluarga atau orang di sekitar pasien yang mengetahui kondisinya sebelum mengalami koma. Beberapa hal yang akan ditanyakan dokter adalah:

  • Riwayat kesehatan pasien, misalnya apakah pasien pernah menderita diabetes
  • Bagaimana pasien kehilangan kesadarannya, apakah secara perlahan atau tiba-tiba
  • Gejala sebelum pasien mengalami koma, misalnya sakit kepala, kejang, atau muntah-muntah
  • Obat-obatan yang digunakan sebelum pasien koma
  • Perilaku pasien sebelum mengalami koma

Untuk memastikan penyebab koma dan menentukan metode pengobatan yang tepat, dokter perlu melakukan pemeriksaan lebih detail, antara lain:

MRI dan CT scan

Melalui pemindaian, dokter dapat melihat dengan jelas gambaran otak pasien, termasuk batang otak. Pemeriksaan melalui MRI dan CT scan dilakukan untuk mengetahui penyebab koma pada pasien.

Tes darah

Tes darah bertujuan untuk memeriksa kadar hormon tiroid, gula darah, dan elektrolit. Tujuannya adalah untuk mengetahui pemicu koma, seperti overdosis alkohol atau obat-obatan, gangguan elektrolit, keracunan karbon monoksida, gangguan metabolik (seperti diabetes), dan gangguan pada organ hati.

Elektroensefalografi ( EEG )

EEG dilakukan dengan mengukur aktivitas listrik dalam otak. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah koma dipicu oleh gangguan listrik di otak.

Pungsi lumbal

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengambil sampel cairan saraf tulang belakang, dengan menusuk celah di antara ruas tulang belakang. Dari sampel cairan tersebut, dokter dapat mengetahui bila ada infeksi di saraf tulang belakang atau otak yang bisa menjadi penyebab koma.

Pengobatan Koma

Penderita koma akan dirawat di ruang ICU agar kondisinya dapat terpantau secara intensif. Selama dirawat di ruang ICU, pasien akan dipasangkan alat bantu napas untuk menjaga laju pernapasannya.

Pasien juga akan dipasangkan selang makan dan infus sebagai jalan untuk memasukkan nutrisi dan obat-obatan. Selain itu, dokter juga akan memasang monitor denyut jantung dan kateter urine.

Selain terapi yang sifatnya pendukung seperti di atas, dokter juga akan melakukan tindakan untuk mengatasi penyebabnya. Dokter akan memberikan antibiotik jika koma terjadi akibat infeksi di otak. Infus gula juga bisa diberikan untuk mengatasi hipoglikemia.

Guna mengurangi pembengkakan di otak, dokter akan melakukan prosedur operasi. Sedangkan jika terjadi kejang, dokter akan memberikan obat antikejang.

Peluang kesembuhan pasien tergantung pada keparahan penyebab dan respons pasien terhadap pengobatan. Dokter tidak dapat memprediksi kapan pasien sadar dari koma. Namun, makin lama koma berlangsung, peluang pasien untuk sadar umumnya juga makin kecil.

Pulih dari k oma

Pulihnya kesadaran orang yang mengalami koma biasanya terjadi secara bertahap. Ada sebagian penderita yang dapat sembuh total dari koma tanpa mengalami cacat sedikit pun. Sebagian lainnya tersadar, tetapi dengan penurunan pada fungsi otak atau bagian tubuh tertentu. Bahkan, ada juga pulih tetapi mengalami kelumpuhan.

Penderita yang mengalami cacat setelah koma harus mendapatkan penanganan lebih lanjut melalui beragam terapi, mencakup fisioterapi, psikoterapi, dan terapi okupasi.

Komplikasi Koma

Akibat berbaring terlalu lama, penderita koma dapat mengalami berbagai komplikasi, seperti:

Pencegahan Koma

Cara utama untuk mencegah koma adalah dengan mengatasi penyakit yang berisiko menyebabkan koma. Orang yang menderita penyakit dengan risiko koma, misalnya diabetes atau penyakit liver, perlu rutin memeriksakan diri ke dokter agar kondisinya selalu terpantau.

Untuk mencegah koma akibat cedera kepala, berhati-hatilah saat berjalan, bekerja, dan berkendara. Jika Anda melakukan aktivitas atau pekerjaan yang berisiko menyebabkan jatuh atau terbentur, gunakanlah alat pelindung diri sesuai anjuran keselamatan kerja.

Penting untuk diingat, gunakan sabuk pengaman atau helm dan patuhi aturan keselamatan saat berkendara. Jika mengalami benturan pada kepala, segera periksakan diri ke dokter untuk memastikan tidak terjadi gangguan pada otak.


Search This Blog

Menu Halaman Statis

Contact Form

Name Email * Message *

Category

Popular Posts