PubMed Media Kesehatan

Pentingnya Kebersihan Rumah untuk Menjaga Kesehatan Keluarga - PubMed



Pentingnya Kebersihan Rumah untuk Menjaga Kesehatan Keluarga

Mewujudkan keluarga yang sehat harus dimulai dari menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal. Dengan tempat tinggal yang bersih, Anda dan anggota keluarga dapat terhindar dari berbagai penyakit. Oleh karena itu, kebersihan rumah perlu dijaga, dan ini merupakan tanggung jawab setiap anggota keluarga.

Memiliki rumah yang bersih dan sehat merupakan impian setiap orang. Namun kenyataannya, masih banyak orang yang tinggal dalam rumah yang kotor dan tidak memenuhi standar kesehatan. Padahal, kondisi rumah seperti ini dapat menjadi tempat bagi virus, kuman, dan hama penyakit, seperti kecoa dan tikus,  untuk berkembang biak, sehingga penghuninya dapat dengan mudah terkena berbagai penyakit, seperti diare, tifus, dan demam berdarah dengue (DBD).

Berbagai Tempat di Rumah yang Perlu Dibersihkan

Meskipun rumah sudah dibersihkan secara rutin, namun kadang masih ada beberapa tempat yang luput dari perhatian, sehingga terlewat untuk dibersihkan. Padahal, ruangan-ruangan ini dapat menyimpan berbagai jenis kuman penyebab penyakit yang bisa membahayakan kesehatan keluarga.

Berikut ini adalah tempat-tempat yang perlu lebih Anda perhatikan ketika sedang membersihkan rumah:

  • Kamar tidur
    Siapa yang menyangka bila kamar tidur tempat Anda dan keluarga beristirahat bisa menjadi sarang kuman. Kamar tidur yang tidak dibersihkan secara rutin dapat menimbun debu dan memungkinkan kuman, tungau, serta jamur untuk tumbuh. Berbagai sumber penyakit tersebut dapat hidup dan berkembang biak di mainan anak, karpet, bantal, atau tempat tidur.
    Akibatnya, Anda dan keluarga akan lebih mudah terkena berbagai penyakit, seperti flu, batuk, dan alergi. Untuk mencegah hal itu terjadi, rutinlah mengganti sarung bantal dan sprei minimal dua minggu sekali, guna menghindari pertumbuhan kuman. Pastikan juga untuk membersihkan mainan anak, mengingat sistem imun tubuh anak-anak belum berkembang sempurna.
  • Kamar mandi
    Bukan rahasia lagi bila kamar mandi merupakan area paling kotor di antara bagian rumah yang lain. Suhu yang cenderung hangat dan lembap memungkinkan bakteri serta jamur tumbuh.
    Toilet/kloset, bak mandi, lantai kamar mandi, pegangan toilet, serta tirai shower merupakan bagian-bagian di kamar mandi yang perlu Anda bersihkan secara rutin. Sebab, area atau benda-benda ini mudah sekali menjadi tempat berkembangbiaknya kuman. Untuk membunuh dan mencegah pertumbuhan kuman, kamar mandi perlu dibersihkan dengan cairan pembasmi kuman.
  • Dapur
    Selain kamar mandi, dapur juga merupakan tempat yang sempurna bagi kuman untuk tumbuh subur. Sebuah penelitian bahkan menemukan bahwa alat-alat dapur yang digunakan untuk mengolah makanan memiliki bakteri Salmonella dan E. colilebih banyak, dibandingkan gagang keran di kamar mandi.
    Spons pencuci piring, serbet, dan talenan adalah benda-benda yang perlu Anda bersihkan setiap kali akan digunakan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kontaminasi bakteri dan kuman ke makanan maupun ke peralatan masak lainnya. Jika perlu, gunakan cairan pembersih khusus untuk membasmi kuman di dapur.

Selain membersihkan ruangan-ruangan tersebut, Anda juga harus menempatkan sistem ventilasi di setiap ruangan. Ventilasi memungkinkan adanya sirkulasi udara di dalam rumah, sehingga rumah tidak menjadi lembap. Dengan  begitu, kuman, bakteri, maupun jamur tidak mudah tumbuh. Jika kondisi rumah tidak memungkinkan untuk pemasangan ventilasi, Anda bisa menggunakan ventilasi mekanik, seperti kipas angin atau exhaust fan.

Pengaruh Kebersihan Rumah terhadap Kebersihan Diri dan Makanan

Tidak hanya kebersihan rumah, kebersihan diri setiap anggota keluarga dan kebersihan makanan yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan. Jika tidak, kuman penyebab penyakit tetap dapat menyerang masuk dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti mual, muntah, sakit perut, bahkan keracunan.

Terlebih lagi, bila kebersihan rumah tidak terjaga. Virus dan bakteri dari tempat-tempat yang kotor di dalam rumah dapat menyebar dan menempel pada permukaan tubuh, khususnya tangan. Selain itu, kuman juga dapat berpindah ke makanan, terutama bila kebersihan dapur tidak dijaga dengan baik.

Supaya hal tersebut tidak terjadi, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan, yaitu:

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air
    Tangan rentan terkontaminasi oleh kuman. Jadi, sangat penting untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan, juga sebelum mengolah dan menyiapkan makanan. Gunakan sabun dan air bersih yang mengalir untuk membersihkan seluruh permukaan tangan.
  • Membersihkan permukaan dapur dan talenan
    Pastikan Anda selalu membersihkan permukaan dapur dan talenan, baik sebelum maupun sesudah memasak. Anda bisa menggunakan sabun dan air hangat untuk membersihkan permukaan dapur dan talenan.
  • Mencuci buah dan sayuran
    Selalu cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi ataupun dimasak. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin masih menempel pada permukaan buah dan sayur. Anda juga bisa menggunakan cairan pembersih khusus untuk makanan yang dapat membunuh kuman dan bakteri.
  • Memisahkan makanan mentah dengan makanan matang
    Jangan pernah menaruh makanan yang sudah dimasak di piring yang sama untuk mengolah bahan makanan mentah. Ini bertujuan untuk menghindari kontaminasi kuman pada makanan. Selain itu, selalu gunakan talenan bersih yang berbeda untuk bahan makanan mentah dan untuk makanan yang sudah matang atau siap santap. Segera cuci talenan setelah selesai digunakan, hingga benar-benar bersih.
  • Melakukan disinfeksi ruangan secara rutin
    Anda juga dianjurkan untuk melakukan disinfeksi ruangan secara rutin. Ada berbagai jenis cairan pembersih yang bisa digunakan untuk membunuh kuman dan salah satunya adalah disinfektan. Anda dapat menggunakan disinfektan dalam bentuk botol untuk membersihkan ruangan dan permukaan perabot rumah. Bila memungkinkan, cobalah gunakan disinfektan yang memiliki kandungan alkohol setidaknya 60% agar lebih efektif dalam membunuh kuman. Pastikan pula untuk menggunakan sarung tangan ketika menggunakan disinfektan, ya.

Untuk menjaga kebersihan rumah dan perabot rumah tangga, termasuk alat-alat dapur, ada berbagai jenis cairan pembersih yang dapat Anda gunakan. Beberapa di antaranya bahkan memiliki kemampuan untuk membunuh kuman. Namun jangan lupa, selalu perhatikan cara penggunaannya agar hasilnya efektif.

Mulai sekarang, biasakan untuk membersihkan rumah secara teratur dan menyeluruh, supaya Anda dan keluarga dapat terhindar dari berbagai penyakit. Jangan lupakan tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas, karena tempat-tempat tersebut rentan ditinggali oleh kuman.


Dokter Kandungan - Buat Janji Mudah dan Cepat | PubMed



Dokter Kandungan - Buat Janji Mudah dan Cepat

Apa itu Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi?

Kata obstetri dan ginekologi memiliki arti yang berbeda. Obstetri adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus mempelajari tentang kehamilan dan persalinan. Cabang ilmu kedokteran ini berfokus pada perawatan dan pemeliharaan kesehatan ibu hamil dan janin selama masa kehamilan hingga proses persalinan. Sedangkan ginekologi adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus mempelajari masalah seputar sistem reproduksi wanita. Dengan kata lain, seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi adalah dokter yang menangani masalah seputar kesehatan wanita dan kehamilan.

Seorang Dokter Kandungan harus menyelesaikan pendidikan dokter umum terlebih dahulu, kemudian melanjutkan pendidikannya pada Program Pendidikan Dokter Spesialis di bidang obstetri dan ginekologi. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut dokter akan meraih gelar spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG)

Setelah itu, Dokter SpOG bisa melanjutkan pendidikannya sebagai konsultan dan memilih di antara lima bidang subspesialisasi, meliputi Uroginekologi dan Bedah Rekonstruksi Panggul, Kedokteran Fetomaternal, Onkologi ginekologi, Obstetri-Ginekologi Sosial, serta Fertilitas-Endokrinologi Reproduksi.

Penyakit Apa Saja yang dapat Ditangani oleh Dokter Obgyn?

Beragam gangguan pada sistem reproduksi wanita, kehamilan, dan juga persalinan, meliputi:

  1. Masalah seputar kesehatan wanita
  • Mengatasi masalah seputar menstruasi.
  • Pengobatan penyakit menular seksual.
  • Gangguan terkait kesehatan seksual, seperti masalah pada libido, nyeri saat berhubungan seksual, dan vagina kering.
  • Memeriksa dan mengobati masalah kesuburan.
  • Menangani masalah seputar menopause.
  • Mengatasi dan mengobati kondisi medis terkait sistem reproduksi wanita, seperti PCOS, radang panggul, mioma rahim, kista ovarium, kanker rahim, kanker serviks, kanker ovarium, dan endometriosis.
  • Mendiagnosis dan mengobati gangguan hormonal yang memengaruhi reproduksi wanita.
  • Pemeriksaan dan pengobatan keputihan yang tidak normal.

2. Masalah seputar kehamilan, persalinan, dan post partum

  • Konsultasi kehamilan dan perawatan prenatal (sebelum melahirkan).
  • Mendeteksi dan menangani masalah dalam kehamilan, seperti diabetes gestasional, preeklamsia dan eklamsia, kehamilan ektopik, plasenta letak rendah, kelainan janin di dalam kandungan, atau keguguran.
  • Penanganan terkait pendarahan pasca persalinan.
  • Menangani kegawatdaruratan dalam persalinan, misalnya gawat janin, lilitan tali pusat, dan infeksi cairan ketuban.
  • Perawatan setelah melahirkan (postpartum).
  • Program bayi tabung.

Berapa Biaya Konsultasi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi?

Biaya untuk melakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) atau dokter kandungan, sangat bervariasi, tergantung di rumah sakit mana dokter tersebut praktik. Bila Anda berniat untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan, Anda harus mempersiapkan biaya sekitar Rp. 150.000,- hingga Rp. 500.000,-. Akan tetapi, Anda dianjurkan untuk membawa dana lebih karena mungkin ada biaya tambahan lainnya yang dibutuhkan.

Apa Tindakan Medis yang dapat Dilakukan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi?

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi terlatih untuk melakukan berbagai tindakan medis untuk menolong persalinan, melakukan tindakan pembedahan, dan memberikan penanganan untuk mengatasi berbagai gangguan pada sistem reproduksi wanita. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan yaitu:

  • Pemeriksaan organ reproduksi wanita, termasuk pemeriksaan fisik seperti pemeriksaan panggul, dan pemeriksaan penunjang seperti USG rahim dan USG transvaginal.
  • Deteksi dini kanker pada organ reproduksi wanita, seperti kanker serviks dan kanker ovarium.
  • Biopsi rahim atau leher rahim, seperti pap smear.
  • Konsultasi terkait alat kontrasepsi dan vaksinasi HPV untuk mencegah kanker serviks.
  • Proses persalinan, baik normal maupun dengan operasi caesar, dan perawatan setelahnya.
  • Dilatasi dan kuretase (kuret).
  • Tindakan pembedahan, seperti histerektomi atau pengangkatan Rahim, dan miomektomi atau pengangkatan mioma uteri dalam rahim.
  • Ligasi tuba untuk sterilisasi pada wanita.
  • Dokter spesialis Obgyn konsultan fertilitas dapat melakukan tindakan inseminasi buatan atau bayi tabung untuk membantu mengupayakan terjadinya kehamilan.

Kapan Seharusnya Anda ke Dokter Obgyn?

Sebenarnya, Anda dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan rutin setiap satu hingga lima tahun sekali, terlebih jika Anda sudah aktif melakukan hubungan seksual. Namun, Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri jika mengalami beberapa hal berikut ini:

  • Perubahan pada siklus menstruasi.
  • Keluhan atau gangguan selama kehamilan.
  • Menopause dan gejala yang terkait.
  • Sulit hamil setelah beberapa tahun mencoba melakukan program hamil.
  • Terdapat perdarahan vagina di luar siklus menstruasi.

Beberapa gejala yang dapat terjadi terkait gangguan kesehatan organ kewanitaan yaitu perubahan volume atau frekuensi pada siklus menstruasi, kram perut yang tidak biasa, nyeri saat buang air kecil, dan nyeri ketika berhubungan seksual.

Apa yang Harus Dipersiapkan Sebelum ke Dokter Obgyn?

Dokter Obgyn perlu mengetahui dengan jelas keluhan apa yang Anda alami. Oleh karena itu, dokter akan menanyakan beberapa hal secara rinci untuk mendapatkan data kesehatan Anda.

Jangan malu dan ragu untuk menceritakan semua yang Anda alami, terkait masalah kesehatan reproduksi, kehamilan, persalinan, menstruasi, bahkan kegiatan seksual Anda. Sebelum menemui dokter, catat berbagai masalah atau keluhan yang Anda alami.

Dalam memilih Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, ada baiknya Anda bertanya dan mendapatkan rekomendasi dari orang terpercaya, cari tahu bagaimana pengalaman dan penilaian dari beberapa pasien yang pernah ditangani oleh dokter yang Anda pilih, apakah dokter tersebut memiliki kepribadian yang baik dan membuat Anda merasa nyaman, serta berapa biayanya. 


Dismenore (Nyeri Haid) - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed



Dismenore (Nyeri Haid) - Gejala, penyebab dan mengobati

Dismenore atau nyeri haid adalah nyeri atau kram di perut bagian bawah yang muncul sebelum atau s aat menstruasi. Dismenore dapat bersifat ringan, tetapi juga bisa parah sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dismenore terbagi dalam dua jenis, yaitu primer dan sekunder. Dismenore primer merupakan kram yang muncul sebelum atau selama menstruasi, kemudian hilang seiring periode menstruasi berakhir.

Nyeri Haid-PubMed

Sementara dismenore sekunder adalah dismenore akibat gangguan pada organ reproduksi. Penderita dismenore sekunder akan merasakan kram lebih lama dari dismenore primer.

Kram pada dismenore sekunder terasa lebih parah seiring berjalannya menstruasi. Pada beberapa kasus, kram tetap dirasakan meski menstruasi sudah berakhir.

Gejala dan Komplikasi Dismenore

Gejala utama dismenore adalah kram di perut bagian bawah. Gejala ini merupakan hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Seiring bertambahnya usia, dismenore akan menghilang secara bertahap.

Meski jarang menimbulkan komplikasi, gejala dismenore dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Khusus pada dismenore yang disebabkan oleh penyakit tertentu, dapat muncul komplikasi berupa:

Pengobatan dan Pencegahan Dismenore

Dismenore dapat diatasi secara mandiri dengan memberikan kompres hangat di perut, mandi air hangat, atau mengonsumsi obat pereda nyeri. Namun, jika dismenore terasa parah, pengobatan perlu dilakukan oleh dokter.

Kram saat menstruasi merupakan hal yang normal. Namun, perburukan kram saat haid dapat dicegah dengan melakukan upaya berikut:

  • Berolahraga secara rutin, minimal 30 menit setiap hari
  • Beristirahat dan tidur yang cukup
  • Mengonsumsi makanan bergizi lengkap dan seimbang
  • Membatasi konsumsi kafein, terutama saat dekat waktu haid
  • Tidak merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol
  • Mengelola stres, antara lain dengan melakukan teknik relaksasi

Medical Check Up, Ini yang Harus Anda Ketahui - PubMed



Medical Check Up, Ini yang Harus Anda Ketahui

Medical check up adalah pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Melalui pemeriksaan ini, diharapkan gangguan kesehatan tertentu bisa terdeteksi sejak dini. Medical check up juga bisa dimanfaatkan oleh dokter untuk merencanakan metode pengobatan yang tepat sesuai kondisi pasien.

M edical check up diawali dengan tanya jawab, yang meliputi keluhan, riwayat penyakit, dan gaya hidup pasien. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan pada tanda-tanda vital tubuh, seperti suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung, dilanjutkan dengan pemeriksaan kondisi fisik secara umum.

Tujuan dan Indikasi Medical Check Up

Medical check up dapat membantu dokter untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Berikut ini adalah tujuan dilakukannya medical check up:

  • Mengetahui gangguan kesehatan yang mungkin diderita pasien agar dapat tertangani lebih awal
  • Mendeteksi penyakit yang tidak disertai gejala
  • Menilai risiko penyakit yang mungkin bisa muncul di kemudian hari
  • Mendorong pasien untuk beralih ke gaya hidup sehat
  • Memastikan kondisi kesehatan pasien sebelum menjalani pengobatan tertentu

Walau tidak diwajibkan, medical check up dianjurkan untuk dilakukan secara rutin, terutama jika pasien memiliki faktor risiko terhadap penyakit tertentu. Melalui pemeriksaan ini, pasien juga dapat berkonsultasi kepada dokter mengenai kondisi kesehatannya tanpa harus menunggu timbulnya gejala penyakit.

Medical check up disarankan untuk dilakukan setiap 1 tahun sekali, terutama bagi orang yang berusia di atas 50 tahun. Sementara untuk pasien yang sedang menjalani pengobatan, medical check up bisa dilakukan sesuai jadwal yang ditentukan oleh dokter.

Peringatan dan Larangan Medical Check Up

Sebelum menjalani medical check up, penting untuk menginformasikan kepada dokter mengenai hal-hal berikut ini:

  • Keluhan atau gejala yang dialami
  • Obat-obatan yang sedang digunakan, termasuk suplemen dan produk herbal
  • Riwayat kesehatan pasien dan keluarga, riwayat operasi, hasil tes, dan perawatan dokter yang pernah dijalani
  • Diet yang sedang dilakukan
  • Peralatan medis yang ditanam di dalam tubuh, seperti alat pacu jantung

Jika Anda memiliki perangkat yang ditanam di dalam tubuh, bawa salinan bagian depan dan belakang kartu perangkat Anda sebagai bukti. Anda juga sebaiknya membuat daftar pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada dokter agar tidak ada yang terlewat.

Sebelum Medical Check Up

Sebelum menjalani medical check up, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Pasien disarankan untuk membawa hasil pemeriksaan medis, misalnya foto Rontgen.

Pasien juga perlu menanyakan kepada dokter mengenai puasa yang perlu dilakukan, atau penggunaan obat-obatan yang harus dihentikan sementara.

Persiapan yang akan dilakukan oleh dokter adalah memberikan kuesioner yang berisi daftar pertanyaan yang mengacu pada kondisi kesehatan pasien. Setelah mengisi kuesioner, pasien perlu memberi tahu dokter mengenai daftar obat, suplemen, atau produk herbal yang sedang digunakan.

Pasien disarankan untuk mengenakan pakaian yang nyaman dan tidak menggunakan perhiasan, riasan, atau aksesoris lain, yang dapat menghambat pemeriksaan. Pasien juga dianjurkan untuk meminta ditemani keluarga atau kerabat dekat ketika menjalani medical check up.

Prosedur Medical Check Up

Bentuk-bentuk tes dalam medical check up sangat bervariasi. Tes yang dilakukan akan disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan pasien. Berikut adalah beberapa tes atau pemeriksaan yang dapat dilakukan dalam medical check up:

1. Pemeriksaan riwayat kesehatan

Pada tahap awal medical check up, dokter akan melakukan tanya jawab seputar keluhan yang dialami, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya.

Dokter juga akan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai gaya hidup, seperti pola makan, intensitas olahraga, serta kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.

2. Pemeriksaan tanda vital

Tanda-tanda vital yang diperiksa dalam medical check up di antaranya:

  • Frekuensi denyut jantung
    Denyut jantung normal adalah 60–100 kali per menit.
  • Frekuensi pernapasan
    Pernapasan normal berkisar antara 12–20 kali per menit.
  • Suhu tubuh
    Suhu tubuh normal rata-rata berkisar antara 36–37 derajat Celcius.
  • Tekanan darah
    Tekanan darah yang tergolong normal adalah 90/60–120/80 mmHg.

3. Pemeriksaan fisik

Pada saat pemeriksaan fisik, pasien akan diminta untuk berdiri, duduk, atau berbaring, tergantung pada bagian tubuh yang akan diperiksa.

Pemeriksaan fisik biasanya dimulai dengan mengukur berat dan tinggi badan pasien, untuk mengetahui apakah pasien kekurangan atau kelebihan berat badan. Setelah itu, dokter akan memeriksa seluruh tubuh, mulai dari kepala hingga kaki.

Dalam pemeriksaan menyeluruh, dokter mungkin akan mengawalinya dengan melihat apakah ada kelainan di kulit, rambut, atau kuku, serta menekan atau mengetuk bagian tubuh tertentu. Bila muncul nyeri saat bagian tubuh tertentu ditekan atau diketuk, beri tahu hal tersebut kepada dokter.

Selanjutnya, dokter akan memeriksa mata, hidung, telinga, hingga organ. Dokter akan menggunakan alat bantu yang disebut otoskop untuk memeriksa kondisi telinga dan stetoskop guna mendengar bunyi jantung, paru-paru, dan saluran pencernaan.

Pada pemeriksaan kekuatan otot, diperlukan kerja sama dari pasien untuk melakukan gerakan tertentu sesuai arahan dokter. Bila kurang mengerti dengan arahan yang diberikan, jangan ragu untuk bertanya.

Kondisi kelamin juga akan diperiksa dalam pemeriksaan fisik. Pada laki-laki, penis dan testis akan diperiksa untuk mendeteksi infeksi, peradangan, atau perubahan ukuran. Sementara untuk memeriksa prostat, dokter akan melakukan pemeriksaan colok dubur guna mendeteksi ada tidaknya pembesaran ukuran kelenjar prostat.

Pada wanita, organ panggul yang meliputi vagina, vulva, serviks, ovarium, dan rahim, akan diperiksa untuk mendeteksi infeksi menular seksual atau gangguan kesehatan lain.

Sementara itu, untuk mendeteksi tumor atau kanker payudara, dokter akan melihat dan menekan area payudara. Dokter juga bisa memeriksa kondisi kelenjar getah bening dengan meraba area lipatan, seperti ketiak atau lipat paha, untuk mengetahui tanda-tanda benjolan pada area tersebut.

4. Pemeriksaan penunjang

Selain pemeriksaan di atas, beberapa pemeriksaan penunjang di bawah ini juga dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosis:

  • Pemeriksaan laboratorium
    Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dengan mengambil sampel darah, urine, atau tinja, untuk melihat jumlah sel darah, kadar kolesterol, gula darah, atau zat kimia yang menjadi penanda fungsi organ. Pengambilan sampel tersebut juga dapat digunakan untuk mendeteksi kelainan pada urine dan tinja.
  • Pemindaian
    Pemindaian, seperti USG dan foto Rontgen, digunakan untuk melihat kondisi organ dalam agar lebih jelas. Organ yang dapat diperiksa antara lain paru-paru, hati, pankreas, ginjal, limpa, kandung kemih, prostat, dan rahim. Pada wanita, mammografi atau USG payudara dilakukan untuk mendeteksi tumor payudara.
  • Pemeriksaan rekam jantung
    Rekam jantung atau elektrokardiografi (EKG) bertujuan untuk merekam aktivitas listrik jantung dengan menempelkan elektroda di kulit dada, lengan, dan tungkai. Pemeriksaan EKG dapat dilakukan dalam posisi berbaring atau saat melakukan aktivitas, seperti berlari di atas mesin treadmill.
  • Pap smear
    Bagi wanita usia 21 tahun ke atas dan sudah pernah berhubungan seksual, pap smear disarankan untuk dilakukan setiap 3 tahun guna mendeteksi kanker serviks sejak dini. Setelah usia 30 tahun, pap smear cukup dilakukan setiap 5 tahun, lalu setelah usia 65 tahun, pap smear tidak perlu dilakukan bila tidak menimbulkan keluhan.

Setelah Medical Check Up

Setelah menjalani medical check up, pasien biasanya diperbolehkan untuk pulang dan beraktivitas seperti biasa. Dokter akan menghubungi pasien kembali setelah seluruh hasil tes diperoleh dan menjelaskan secara rinci mengenai hasil tersebut.

Bila ditemukan kelainan pada hasil medical check up, pasien akan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut atau menjalani pengobatan. Dokter juga akan menyarankan pasien untuk menerapkan pola hidup sehat, baik bila ditemukan kelainan maupun tidak, seperti:

  • Mengonsumsi makanan sehat
    Perbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan, serta batasi konsumsi makanan berlemak.
  • Berolahraga secara rutin
    Sediakan waktu untuk berolahraga setidaknya 30 menit per hari, misalnya dengan berjalan kaki atau berlari santai, untuk menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
  • Tidak merokok
    Tidak merokok atau menghentikan kebiasaan merokok dapat menurunkan risiko terjadinya berbagai penyakit, seperti stroke, penyakit jantung, penyakit paru-paru, dan pengeroposan tulang.

Efek Samping Medical Check Up

Setiap pemeriksaan dalam medical check up memiliki manfaat, tetapi juga berisiko menimbulkan efek samping walaupun jarang. Sebagai contoh, foto Rontgen dapat membuat tubuh terpapar radiasi meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.

Selain itu, pengambilan sampel darah dapat menimbulkan nyeri dan rasa tidak nyaman. Oleh karena itu, dokter akan menilai keuntungan dan kerugian dari tiap pemeriksaan.


Lymphedema - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed



Lymphedema - Gejala, penyebab dan mengobati

L imfedema atau l ymphedema adalah pembengkakan tungkai atau lengan yang disebabkan oleh penyumbatan di pembuluh getah bening . Pembengkakan ini bisa menyebabkan penderitanya sulit bergerak .

Cairan getah bening merupakan salah satu bagian dari sistem limfatik yaitu sistem pertahanan tubuh yang berperan membasmi infeksi. Dalam menjalankan fungsinya, cairan getah bening (cairan limfe) akan beredar di dalam pembuluh getah bening.

Limfedema - alodokter

Ketika terjadi kerusakan pembuluh getah bening, aliran cairan getah bening akan tersumbat dan mengakibatkan pembengkakan di bagian tubuh tertentu.

Penyebab Lymphedema

Limfedema paling sering terjadi pada penderita kanker. Pertumbuhan sel kanker di sekitar pembuluh atau kelenjar getah bening dapat membuat saluran getah bening tersumbat sehingga menghambat aliran cairan getah bening.

Tidak hanya penyakitnya, pengobatan kanker itu sendiri, seperti radioterapi atau operasi pengangkatan tumor, juga dapat merusak saluran getah bening.

Di samping itu, limfedema juga bisa dialami oleh penderita kaki gajah akibat infeksi cacing filaria.

Beberapa penyakit genetik yang menyebabkan kelainan pada struktur pembuluh getah bening (pembuluh limfe) juga dapat menyebabkan limfedema. Kelainan tersebut dapat menyebabkan cairan limfe tersumbat dan mengalami penumpukan. Beberapa penyakit genetik juga dapat menyebabkan limfedema, di antaranya:

  • Penyakit Meige (Meige’s disease)
  • Penyakit Milroy (Milroy’s disease)
  • Limfedema tarda

Selain akibat faktor-faktor di atas, seseorang juga berisiko terkena limfedema bila mengalami obesitas, menderita psoriasis arthritis atau rheumatoid arthritis, serta berusia lanjut.

Gejala Lymphedema

Gejala imfedema adalah pembengkakan di tungkai dan lengan. Pembengkakan ini bisa ringan dan tidak disadari oleh penderitanya. Namun, pada kasus yang berat, tungkai atau lengan yang membengkak bisa terasa nyeri, berat, atau kaku, hingga menyebabkan penderitanya sulit bergerak.

Penyumbatan dan pembengkakan ini dapat menimbulkan masalah dan gejala lain, seperti:

Kapan harus ke dokter

Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami pembengkakan di tungkai atau lengan meski ukurannya masih kecil. Penanganan segera perlu dilakukan untuk mencegah lengan atau tungkai bertambah besar.

Penderita kanker berisiko terserang limfedema, baik karena kanker itu sendiri maupun akibat efek samping dari pengobatan kanker. Oleh sebab itu, penderita kanker harus rutin memeriksakan diri ke dokter selama menjalani pengobatan.

Penderita kanker juga perlu berdiskusi lebih lanjut dengan dokter onkologi terkait manfaat dan risiko dari pengobatan yang akan dijalani. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi efek samping pengobatan, seperti limfedema.

Pada orang yang telah didiagnosis menderita limfedema, waspadai dan segera periksakan diri ke dokter jika muncul gejala infeksi. Infeksi yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi dan kematian jaringan. Beberapa gejala infeksi yang harus diwaspadai adalah:

  • Demam
  • Kulit kemerahan, bengkak, dan terasa nyeri
  • Kulit terasa hangat ketika disentuh

Diagnosis Lymphedema

Untuk mendiagnosis limfedema, dokter akan terlebih dahulu menanyakan gejala yang dialami pasien, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter juga akan menanyakan riwayat kesehatan pasien, misalnya apakah pasien menderita kanker atau sedang menjalani pengobatan kanker.

Apabila penyebabnya belum jelas, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang guna melihat gambaran pembuluh getah bening secara lebih jelas. Pemeriksaan yang umumnya dilakukan adalah pemindaian, baik dengan USG, CT scan, maupun MRI.

Dokter juga dapat melakukan pemindaian dengan pemeriksaan nuklir atau disebut juga lymphoscintigraphy. Lymphoscintigraphy merupakan teknik pemindaian saluran getah bening dengan didahului penyuntikan cairan radioaktif.

Pengobatan Lymphedema

Pengobatan limfedema bertujuan untuk meredakan gejala yang diderita oleh pasien dan mengurangi pembengkakan. Tujuan lainnya adalah untuk mencegah infeksi dan mencegah pembengkakan makin parah. Metode yang dapat dilakukan oleh dokter meliputi:

Terapi mandiri

Beberapa terapi yang digunakan untuk mengatasi limfedema secara mandiri di rumah adalah:

  • Memosisikan tungkai atau lengan yang bermasalah lebih tinggi daripada jantung saat berbaring, untuk meredakan nyeri atau gejala
  • Berolahraga ringan untuk melenturkan otot yang bermasalah dan membantu mengurangi cairan getah bening yang menumpuk
  • Berhati-hati saat menggunakan benda tajam agar lengan atau tungkai tidak terluka
  • Menjaga kebersihan bagian tubuh yang bengkak serta tidak berjalan tanpa alas kaki

Terapi khusus

Sejumlah terapi khusus yang dapat dilakukan untuk mengatasi limfedema antara lain:

  • Pneumatic compression, yaitu alat yang dililitkan di lengan dan tungkai untuk memompa dan memberikan tekanan secara berkala sehingga cairan getah bening bisa mengalir lebih lancar
  • Compression garments, yaitu stoking khusus yang berfungsi menekan lengan atau kaki yang bermasalah agar cairan limfe dapat keluar
  • Manual lymph drainage, yaitu teknik pijat manual yang dilakukan oleh tenaga medis untuk melancarkan aliran cairan limfe
  • Complete d econgestive t herapy (CDT), yaitu kombinasi beberapa jenis terapi yang disertai penerapan pola hidup sehat

Obat-obatan

Jika terjadi infeksi di kulit atau jaringan lain yang mengalami gangguan akibat limfedema, dokter akan meresepkan antibiotik untuk meredakan gejala dan mencegah bakteri menyebar ke pembuluh darah.

Selain itu, obat lain seperti obat retinoid atau obat cacing diethylcarbamazine, juga dapat diberikan oleh dokter sesuai dengan penyebab limfedema.

Operasi

Pada kasus yang parah, operasi dapat dilakukan untuk mengeluarkan kelebihan cairan atau untuk mengangkat jaringan. Namun, perlu diketahui bahwa prosedur operasi hanya dapat meredakan gejala dan tidak memulihkan limfedema secara total.

Operasi lebih bertujuan untuk membuang jaringan yang mengalami pembengkakan akibat penumpukan jaringan, terutama di jaringan bawah kulit dan jaringan lemak di area yang bermasalah.

Jika diperlukan, pasien dapat menjalani pengangkatan kulit, terutama yang sudah mengalami infeksi dan pembusukan. Pasien akan menjalani operasi cangkok kulit untuk mengganti kulit yang hilang akibat operasi.

Saluran getah bening yang sudah rusak dan tersumbat sering kali tidak bisa kembali normal. Akan tetapi, dengan pengobatan di atas, gejala dapat berkurang dan risiko timbulnya komplikasi akan lebih kecil.

Komplikasi Lymphedema

Limfedema yang tidak ditangani dengan tepat dapat mengakibatkan komplikasi berupa:

  • Infeksi, misalnya selulitis (infeksi di kulit) dan limfangitis (infeksi di pembuluh limfe)
  • Lymphangiosarcoma, yaitu kanker jaringan lunak yang jarang terjadi, tetapi berisiko terjadi pada penderita limfedema
  • Deep vein thrombosis , yaitu penggumpalan darah di pembuluh darah vena dalam, khususnya di paha dan betis

Jika infeksi sudah menyebar dan menyebabkan kematian jaringan, bagian tubuh yang mengalami limfedema juga berisiko untuk diamputasi.

Pencegahan Lymphedema

Ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan oleh orang yang berisiko terkena limfedema, antara lain:

  • Menggerakkan kaki atau lengan dengan berolahraga ringan selama 4–6 minggu, jika baru menjalani operasi pengangkatan kelenjar getah bening
  • Menjaga berat badan ideal, untuk mengurangi risiko terjadinya limfedema
  • Mengenakan pakaian longgar, agar darah dan cairan limfe tetap mengalir lancar

Khusus penderita kanker yang akan menjalani radioterapi atau operasi, tanyakan terlebih dahulu kepada dokter onkologi terkait upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya limfedema.


Pentingnya Melakukan Skrining Awal Kesehatan Mental - PubMed



Pentingnya Melakukan Skrining Awal Kesehatan Mental

Skrining awal kesehatan mental secara berkala perlu dilakukan, apalagi bila memang ada risiko untuk mengalami gangguan mental. Hal ini tidak bisa dianggap remeh karena masalah kesehatan mental yang terlambat terdeteksi bisa menyebabkan buruknya kualitas hidup, bahkan bunuh diri.

Masih banyak orang menganggap skrining atau pemeriksaan awal kesehatan mental hanya perlu dilakukan pada orang yang sudah mengalami gejala gangguan kesehatan mental. Anggapan tersebut tentu salah, karena skrining ini bisa dilakukan siapa saja tanpa harus menunggu munculnya gejala.

Selain itu, pemeriksaan dini atau skrining kesehatan mental penting dilakukan sebagai salah satu bagian dari hidup sehat, tak hanya secara fisik tapi juga psikologis.

Terlebih di masa pandemi COVID-19, di mana banyak orang yang menjadi lebih berisiko terkena masalah kesehatan mental karena rasa cemas dan stres yang berlebihan. Oleh karena itu, penting untuk melakukan skrining awal ini sebagai langkah efektif dalam menjaga kesehatan mental saat pandemi.

Manfaat Skrining Awal Kesehatan Mental

Manfaat skrining awal kesehatan mental pada dasarnya adalah untuk mendeteksi lebih cepat atau menentukan risiko seseorang untuk mengalami gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan bipolar, gangguan makan, atau gangguan stress pascatrauma (PTSD).

Semakin cepat terdeteksi, semakin baik pula efektivitas penanganan masalah kesehatan mental yang bisa diberikan oleh psikolog dan psikiater. Dengan begitu, risiko terjadinya komplikasi atau masalah yang lebih besar akibat gangguan mental, seperti penggunaan narkoba atau ide bunuh diri bisa dicegah.

Maka dari itu, janganlah ragu untuk rutin melakukan skrining awal kesehatan mental, terutama bila Anda berisiko mengalami masalah kejiwaan, misalnya karena stres berat, sedang mengalami tekanan batin, atau memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mental.

Selain itu, pemeriksaan dini atau skrining awal kesehatan mental juga penting untuk dilakukan pada orang-orang yang mengalami gejala-gejala berikut:

  • Sering merasa cemas, khawatir, atau takut yang berlebihan
  • Suasana hati (mood) cepat berubah dan ekstrem
  • Cepat sedih dan mudah emosi
  • Kurang energi atau kelelahan
  • Merasa diri tidak berharga atau self-esteem rendah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Sulit mengatasi stres
  • Sering menghindari situasi sosial atau komunikasi dengan orang lain
  • Pernah atau berisiko menyakiti diri sendiri (self-harm)
  • Sempat berpikir atau bahkan sudah mencoba untuk bunuh diri

Selain itu, skrining kesehatan mental juga penting dilakukan pada orang yang memilki ketergantungan atau adiksi terhadap narkoba, rokok, minuman beralkohol, atau kebiasaan yang tidak sehat, misalnya berjudi.

Pelaksanaan Skrining Awal Kesehatan Mental

Tes atau skrining kesehatan mental terdiri dari banyak jenis dan metode. Tak hanya bisa dilakukan pada orang dewasa, skrining awal kesehatan mental juga penting dilakukan pada anak-anak dan remaja.

Skrining awal kesehatan mental juga bisa dilakukan secara mandiri dengan menjawab beberapa pertanyaan di situs kesehatan mental. Namun, agar lebih akurat, umumnya pemeriksaan ini dianjurkan untuk dilakukan oleh psikolog atau psikiater.

Dalam pelaksanaan skrining awal kesehatan mental, dokter atau psikolog biasanya akan memulai dengan sesi wawancara (interview) dengan pasien tentang riwayat kesehatannya secara umum, termasuk gejala kesehatan mental yang mungkin sedang dialami.

Selain itu, dokter atau psikolog juga mungkin akan menanyakan tentang riwayat penggunaan obat-obatan atau suplemen, kebiasaan pasien sehari-hari, dan hal apa saja yang membuat pasien merasa terganggu dalam hidupnya akhir-akhir ini.

Jika pasien dinilai memiliki gejala gangguan kejiwaan tertentu atau berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental, dokter atau psikolog bisa menyarankan pasien untuk melakukan pemeriksaan medis kejiwaan.

Setelah diagnosisnya dipastikan, pasien baru akan mendapatkan penanganan yang tepat, baik melalui psikoterapi, pemberian obat-obatan, atau keduanya.

Skrining Awal Kesehatan Mental secara Mandiri

Kemajuan teknologi masa kini memang memudahkan banyak orang untuk mengakses beragam informasi, termasuk cara melakukan tes skrining kesehatan mental mandiri secara daring dan gratis.

Biasanya skrining tersebut berupa beberapa pertanyaan yang bisa Anda jawab, lalu hasilnya akan muncul setelah Anda selesai menjawab semua pertanyaan.

Hal tersebut sebenarnya boleh-boleh saja dilakukan. Namun, Anda dianjurkan untuk tetap menunjukkan hasilnya kepada dokter atau psikolog. Hal ini penting agar Anda bisa mendapatkan penjelasan yang akurat dan lebih jelas mengenai kondisi kesehatan mental Anda.

Selain itu, penting untuk dipahami bahwa adanya tes skrining mandiri secara daring bukan berarti Anda bisa mengabaikan peran dokter atau psikolog. Ini karena hasil tes skrining kesehatan mental secara mandiri tidak bisa menjadi patokan untuk menentukan diagnosis atau kondisi mental Anda sepenuhnya.

Untuk mengevaluasi kondisi mental dan mendiagnosis gangguan kejiwaan, tetap diperlukan pemeriksaan oleh psikiater atau psikolog. Oleh karena itu, janganlah ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bila ingin melakukan tes skrining awal kesehatan mental.


Bahaya Merokok Saat Hamil yang Penting untuk Diketahui - PubMed



Bahaya Merokok Saat Hamil yang Penting untuk Diketahui

Bahaya merokok saat hamil sangat penting untuk disadari. Beragam zat berbahaya yang terkandung di dalam rokok dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah selama kehamilan, seperti kelahiran prematur dan cacat bawaan pada janin.

Perlu Bumil ketahui bahwa karbon monoksida di dalam asap rokok dapat menghambat aliran oksigen dan asupan nutrisi ke janin. Hal ini bisa membuat pernapasan janin terganggu dan membuat denyut jantung janin menjadi lebih cepat.

Tak hanya itu, kebiasaan merokok atau sering terpapar asap rokok saat hamil juga diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit bawaan lahir pada janin dan keguguran, yang menjadikan merokok sebagai salah satu pantangan bagi ibu hamil terutama di trimester awal.

Bahaya Merokok Saat Hamil bagi Ibu dan Janin

Kebiasaan merokok atau sering menghirup asap rokok (perokok pasif) bisa mendatangkan berbagai dampak bagi kesehatan janin, yaitu:

Merokok saat hamil tidak hanya membawa dampak buruk bagi janin di dalam rahim, tetapi juga ibu hamil. Berikut ini adalah beberapa kondisi yang lebih berisiko terjadi pada ibu hamil yang sering merokok:

  • Gangguan pada plasenta, misalnya plasenta previa dan solusio plasenta atau lepasnya plasenta dari dinding dalam rahim sebelum proses kelahiran bayi
  • Ketuban pecah dini
  • Keguguran

Selain perokok aktif, bahaya merokok saat hamil juga dapat dialami oleh ibu hamil dan janin yang terpapar asap rokok atau perokok pasif. Risiko terjadinya masalah kehamilan bahkan bisa meningkat bila paparan asap rokok terjadi secara berulang kali, misalnya ada anggota keluarga yang merokok di dalam rumah.

Pilihan Cara dan Tips Berhenti Merokok

Cara terbaik yang dapat Bumil lakukan untuk menghindari bahaya merokok saat hamil adalah dengan berhenti merokok. Bumil dapat mencoba terapi untuk menghentikan kebiasaan merokok yang disebut dengan Nicotine Replacement Therapy (NRT).

Terapi tersebut dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu:

  • Permen karet nikotin, yang digunakan dengan cara dikunyah perlahan selama 30 menit
  • Tablet isap, berupa tablet yang diletakkan di antara gusi dan bagian dalam pipi, kemudian diisap selama 30 menit
  • Tablet sublingual, yaitu tablet yang diletakkan di bawah lidah dan dibiarkan larut di dalam mulut
  • Inhaler, yaitu obat hirup yang harus digunakan secara rutin
  • Transdermal, berupa koyo yang ditempel di permukaan kulit
  • Obat semprot hidung dan mulut

Meski demikian, sebelum memutuskan untuk melakukan berbagai terapi di atas, Bumil disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan terlebih dahulu. Selalu perhatikan dosis nikotin yang diserap tubuh apa pun metode terapi yang dilakukan.

Menghentikan kebiasaan merokok secara tiba-tiba memang sulit, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dilakukan. Beberapa cara berikut ini bisa membantu Bumil untuk berhenti merokok dan terhindar dari asap rokok:

  • Hindari situasi yang bisa membuat Bumil ingin merokok, seperti stres atau berkumpul dengan sesama perokok.
  • Buatlah daftar alasan untuk berhenti merokok dan tentu fokus utamanya adalah kesehatan Bumil dan janin.
  • Jauhkan diri dari asap rokok di mana pun Bumil berada.
  • Alihkan keinginan merokok dengan melakukan aktivitas lain, seperti mengunyah permen karet, berolahraga, atau meditasi.

Selama masa adaptasi, tidak jarang ibu hamil yang sudah berhenti merokok akan tergoda untuk merokok kembali setelah melahirkan. Namun, hal ini tentunya memerlukan komitmen dari Bumil sendiri untuk benar-benar menghentikan kebiasaan tidak sehat tersebut.

Jika Bumil merasa sulit jauh dari rokok, cobalah untuk berkonsultasi ke dokter kandungan. Dokter bisa membantu Bumil untuk berhenti merokok, serta akan terus memantau kondisi kesehatan Bumil dan janin untuk mengantisipasi berbagai gangguan akibat bahaya merokok saat hamil.


Ergotamine - Manfaat, dosis dan efek samping - PubMed



Ergotamine - Manfaat, dosis dan efek samping

Ergotamine adalah obat untuk meredakan atau mencegah sakit kepala sebelah atau migrain . Ergotamine bisa ditemukan dalam produk obat yang dikombinasikan dengan kafein .

Ergotamine bekerja dengan cara memengaruhi reseptor serotonin dan menyebabkan efek vasokonstriksi pembuluh darah. Cara kerja ini akan membantu meredakan migrain. Obat ini memiliki efek yang serupa dengan nicergoline.

Ergotamine - alodokter

Merek dagang ergotamine: Ericaf, Ergotamine Caffeine

Apa Itu Ergotamine

Golongan Obat resep
Kategori Ergot alkaloids
Manfaat Mengobati sakit kepala sebelah (migrain)
Dikonsumsi oleh Dewasa
Ergotamine untuk ibu hamil dan menyusui Kategori X: Studi pada binatang percobaan dan manusia telah memperlihatkan adanya abnormalitas terhadap janin atau adanya risiko terhadap janin.Obat dalam kategori ini tidak boleh digunakan oleh wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan untuk hamil. kategori ini tidak boleh digunakan oleh wanita yang sedang atau memiliki kemungkinan untuk hamil.

Ergotamine dapat terserap ke dalam ASI. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter.

Bentuk obat Tablet

Peringatan Sebelum Mengonsumsi Ergotamine

Ergotamine hanya boleh digunakan sesuai resep dokter. Berikut adalah beberapa hal yang perlu Anda perhatikan sebelum mengonsumsi ergotamine:

  • Beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki. Ergotamine tidak boleh diberikan kepada pasien yang alergi terhadap obat ini.
  • Jangan mengonsumsi ergotamine jika Anda menderita penyakit arteri perifer, hipertensi, penyakit jantung koroner, penyakit liver, atau penyakit ginjal.
  • Beri tahu dokter jika Anda sudah menopause, menderita diabetes, anemia, kolesterol tinggi, obesitas, atau seorang perokok berat.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan. Ergotamine tidak boleh dikonsumsi oleh ibu hamil.
  • Jangan mengonsumsi grapefruit selama menjalani pengobatan dengan ergotamine.
  • Jangan mengemudikan kendaraan atau melakukan aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan setelah mengonsumsi ergotamine, karena obat ini bisa menyebabkan pusing.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang menggunakan obat-obatan lain, termasuk obat herbal dan suplemen.
  • Segera temui dokter jika terjadi reaksi alergi obat, efek samping yang serius, atau overdosis setelah mengonsumsi ergotamine.

Dosis dan Aturan Pakai Ergotamine

Secara umum, dosis ergotamine untuk mengobati migrain pada orang dewasa adalah 2 mg saat serangan migrain dimulai. Dosis dapat ditambah 2 mg setiap 30 menit jika diperlukan. Dosis maksimal adalah 6 mg per hari.

Cara Mengonsumsi Ergotamine dengan Benar

Konsumsi ergotamine sesuai anjuran dokter dan selalu baca petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan obat. Jangan mengurangi atau menambah dosis tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter.

Ergotamine lebih efektif digunakan saat awal serangan migrain. Obat ini hanya dikonsumsi saat dibutuhkan dan bukan untuk pengobatan jangka panjang.

Jika Anda berisiko mengalami penyakit jantung, Anda akan menjalani pemeriksaan jantung, seperti rekam jantung (EKG), sebelum pengobatan dimulai.

Dosis pertama umumnya akan diberikan di rumah sakit untuk memantau kondisi Anda, respons terapi, dan efek samping yang mungkin terjadi

Simpan ergotamine di dalam suhu ruangan dan letakkan di dalam wadah tertutup. Hindarkan obat ini dari paparan sinar matahari langsung dan jauhkan dari jangkauan anak-anak.

Interaksi Ergotamine dengan Obat Lain

Berikut ini adalah efek interaksi yang bisa terjadi jika ergotamine dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan tertentu:

  • Peningkatan risiko terjadinya sindrom serotonin jika dikonsumsi dengan fluvoxamine
  • Peningkatan risiko terjadinya tekanan darah tinggi atau penyempitan pembuluh darah jika dikonsumsi dengan obat golongan triptan, penghambat beta, seperti propranolol, atau atau antijamur golongan azole, seperti ketoconazole
  • Peningkatan kadar ergotamine jika dikonsumsi dengan antibiotik makrolid, obat antijamur, atau penghambat protease

Efek Samping dan Bahaya Ergotamine

Efek samping yang mungkin timbul setelah mengonsumsi ergotamine adalahj:

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika efek samping tersebut tidak kunjung reda atau semakin parah. Segera ke dokter jika Anda mengalami reaksi alergi obat atau efek samping yang lebih serius setelah mengonsumsi ergotamine, seperti:


Tardive Dyskinesia - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed



Tardive Dyskinesia - Gejala, penyebab dan mengobati

Tardive dyskinesia adalah gerakan tidak terkendali pada wajah dan bagian tubuh lain. Kondisi ini disebabkan oleh efek samping obat antipsikotik yang digunakan untuk mengatasi gangguan mental dan saraf.

Tardive dyskinesia dapat sangat mengganggu aktivitas penderitanya. Penanganan yang dilakukan bisa dengan menghentikan atau mengganti jenis obat yang menjadi pemicu gejala, dan pemberian obat untuk meredakan gejala.

Tardive Dyskinesia - PubMed

Penyebab Tardive Dyskinesia

Tardive dyskinesia disebabkan oleh efek samping penggunaan obat antipsikotik dalam jangka panjang. Pengobatan jangka panjang tersebut diduga mengubah zat kimia di dalam otak sehingga otak menjadi lebih sensitif terhadap dopamin.

Dopamin sendiri merupakan hormon yang mengatur saraf dan pergerakan. Peningkatan sensitivitas terhadap dopamin menyebabkan gerakan yang tidak terkendali pada salah satu bagian tubuh.

Obat antipsikotik yang bisa menyebabkan tardive dyskinesia adalah:

Selain antipsikotik, tardive dyskinesia juga bisa dipicu oleh penggunaan obat-obatan berikut ini:

Tardive dyskinesia merupakan salah satu bentuk gejala sindrom ekstrapiramidal.

Faktor risiko tardive dyskinesia

Tardive dyskinesia dapat terjadi pada siapa pun yang menggunakan obat antipsikotik dalam jangka panjang. Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan risiko terjadinya tardive dyskinesia adalah:

  • Berusia lebih dari 55 tahun
  • Berjenis kelamin wanita
  • Mengalami menopause
  • Mengalami kecanduan alkohol atau penyalahgunaan narkoba
  • Menderita diabetes
  • Mengalami cedera otak
  • Menderita HIV/AIDS
  • Menderita gangguan belajar

Gejala Tardive Dyskinesia

Gejala tardive dyskinesia umumnya berkembang secara bertahap. Keluhan yang paling sering dialami penderita adalah munculnya gerakan tidak terkendali di bagian mulut, mata, lidah dan bagian tubuh lain.

Beberapa gerakan tidak sadar dan tidak terkendali yang bisa muncul pada penderita tardive dyskinesia adalah:

  • Menjulurkan lidah
  • Mengedipkan mata
  • Mengecapkan bibir
  • Mengunyah atau mengisap
  • Menyeringai atau meringis
  • Mengetukkan jari tangan seperti gerakan bermain piano
  • Menggoyangkan bahu
  • Memutarkan leher
  • Menggerakkan panggul

Gejala di atas bisa menghilang saat penderita tidur dan memburuk bila mengalami stres. Pada tardive dyskinesia berat, penderita dapat mengalami kesulitan bicara, makan, dan menelan.

Kapan harus ke dokter

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika Anda mengalami gejala di atas setelah mengonsumsi obat antipsikotik. Dokter dapat menyarankan Anda untuk mengurangi dosis, menghentikan penggunaan obat, memberi obat pengganti, atau menjalani terapi untuk meredakan gejala.

Anda juga disarankan untuk kontrol secara rutin jika memiliki riwayat gangguan saraf atau gangguan mental yang mengharuskan Anda mengonsumsi obat neuroleptik atau antipsikotik dalam jangka panjang.

Penderita tardive dyskinesia juga disarankan untuk melakukan kontrol rutin untuk  memantau perkembangan terapi dan mencegah penyakit ini menjadi lebih berat.

Diagnosis Tardive Dyskinesia

Untuk mendiagnosis tardive dyskinesia, dokter akan melakukan tanya jawab mengenai gejala yang dialami dan obat apa saja yang sedang digunakan oleh pasien. Umumnya, pasien tardive dyskinesia memiliki riwayat konsumsi obat antipsikotik selama beberapa bulan hingga beberapa tahun.

Langkah selanjutnya yang dilakukan oleh dokter adalah melakukan pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan ini, dokter akan mengukur tingkat keparahan gejala yang dialami pasien berdasarkan penilaian abnormal involuntary movement scale (AIMS).

Gejala tardive dyskinesia mirip dengan gejala penyakit cerebral palsy, penyakit Huntington, dan sindrom Tourette. Untuk memastikan gejala pada pasien tidak disebabkan oleh penyakit lain, dokter akan melakukan pemeriksaan berikut:

  • Tes darah, untuk menghitung kadar kalsium serta memeriksa fungsi kelenjar tiroid dan organ hati
  • Pemindaian, seperti CT scan, PET scan, atau MRI, untuk memeriksa kondisi otak pasien

Pengobatan Tardive Dyskinesia

Sebagai langkah pertama, dokter akan meminta pasien untuk menghentikan penggunaan obat yang dicurigai menyebabkan tardive dyskinesia. Namun, jika pasien membutuhkan obat tersebut, dokter akan memberikan obat penggantinya.

Pada tardive dyskinesia ringan hingga sedang, dokter dapat meresepkan obat-obatan, seperti tetrabenazine, valbenazine, dan clonazepam. Dokter juga dapat menyuntikkan botox ke wajah untuk mengurangi gejala kedutan dan nyeri.

Sementara pada pasien tardive dyskinesia berat, dokter dapat melakukan deep brain stimulation (DBS). Terapi ini menggunakan alat yang disebut neurostimulator, untuk memberikan sinyal ke bagian otak yang mengatur pergerakan.

Komplikasi Tardive Dyskinesia

Tardive dyskinesia bisa menyebabkan penderitanya merasa kurang percaya diri akibat munculnya gerakan-gerakan yang tak terkendali. Kondisi ini juga dapat membuat penderitanya menarik diri dari lingkungan sosial. Akibatnya, penderita berisiko mengalami depresi atau gangguan kecemasan.

Meski jarang terjadi, tardive dyskinesia yang berat dapat menimbulkan komplikasi, seperti:

  • Gangguan pernapasan
  • Gangguan pada gigi dan mulut
  • Sulit menelan
  • Sulit berbicara
  • Perubahan struktur wajah, seperti kelopak mata terkulai (ptosis)

Pencegahan Tardive Dyskinesia

Cara utama untuk mencegah tardive dyskinesia adalah dengan berkonsultasi ke dokter sebelum mengonsumsi obat apa pun, terutama obat yang telah dijelaskan di atas. Dokter akan menyesuaikan jenis dan dosis obat untuk mencegah munculnya efek samping tardive dyskinesia.

Selain itu, berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat antimuntah juga dapat mencegah tardive dyskinesia.


Search This Blog

Menu Halaman Statis

Contact Form

Name Email * Message *

Category

Popular Posts