PubMed Media Kesehatan

PTSD - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed



PTSD - Gejala, penyebab dan mengobati

PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang bersifat traumatis atau sangat tidak menyenangkan.

PTSD merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian traumatis. Beberapa peristiwa traumatis yang dapat memicu PTSD adalah perang, kecelakaan, bencana alam, dan pelecehan seksual.

PubMed-PTSD

Meski demikian, tidak semua orang yang teringat pada kejadian traumatis berarti terserang PTSD. Ada kriteria khusus yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang mengalami PTSD.

Penyebab PTSD

PTSD bisa muncul setelah mengalami atau menyaksikan peristiwa yang menakutkan atau mengancam nyawa. Belum diketahui secara pasti mengapa peristiwa tersebut menyebabkan PTSD pada sebagian orang. Namun, ada dugaan bahwa penyebabnya adalah kombinasi dari sejumlah kondisi berikut:

  • Pengalaman yang tidak menyenangkan
  • Riwayat gangguan mental pada keluarga
  • Kepribadian bawaan yang temperamen

Peristiwa yang diketahui paling sering memicu PTSD meliputi:

  • Perang
  • Kecelakaan
  • Bencana alam
  • Perundungan (bullying)
  • Kekerasan fisik
  • Pelecehan seksual
  • Prosedur medis tertentu, seperti operasi
  • Penyakit yang mengancam nyawa, misalnya serangan jantung

Faktor risiko PTSD

Setiap orang bisa terserang PTSD setelah menyaksikan atau mengalami kejadian tragis. Akan tetapi, PTSD lebih berisiko terjadi pada orang yang memiliki sejumlah faktor risiko berikut:

  • Kurang mendapat dukungan dari keluarga dan teman
  • Menderita kecanduan alkohol atau penyalahgunaan NAPZA
  • Menderita gangguan mental lain, misalnya gangguan kecemasan
  • Memiliki keluarga dengan riwayat gangguan mental, seperti depresi
  • Mendapat pengalaman traumatis sebelumnya, misalnya dirundung (bullying) pada masa kecil
  • Memiliki profesi tertentu, misalnya tentara atau relawan medis di daerah perang

Gejala PTSD

Gejala PTSD hampir mirip dengan Stockholm syndromeyang muncul setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis. Tingkat keparahan dan lamanya gejala juga berbeda-beda pada tiap penderita.

Beberapa gejala yang menunjukkan seseorang mengalami PTSD adalah:

1. Ingatan pada peristiwa traumatis

Penderita PTSD sering kali teringat pada peristiwa yang membuatnya trauma. Bahkan, penderita merasa seakan mengulang kembali kejadian tersebut. Ingatan terhadap peristiwa traumatis juga sering kali hadir dalam mimpi buruk sehingga penderita tertekan secara emosional.

2. Kecenderungan untuk mengelak

Penderita PTSD enggan memikirkan atau membicarakan peristiwa yang membuatnya trauma. Oleh sebab itu, penderita akan menghindari tempat, aktivitas, dan seseorang yang terkait dengan kejadian traumatis tersebut.

3. Pemikiran dan perasaan negatif

Penderita PTSD cenderung menyalahkan dirinya atau orang lain. Selain itu, penderita juga kehilangan minat pada aktivitas yang dulu disukainya dan merasa putus asa. Penderita juga lebih menyendiri dan sulit menjalin hubungan dengan orang lain.

4. Perubahan perilaku dan emosi

Penderita PTSD sering kali mudah takut atau marah meskipun tidak dipicu oleh ingatan pada peristiwa traumatis. Perubahan perilaku ini kerap membahayakan dirinya atau orang lain. Penderita juga sulit tidur dan berkonsentrasi.

PTSD dapat terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Namun, pada anak-anak, terdapat gejala khusus, di antaranya:

  • Sering melakukan reka ulang peristiwa traumatis melalui permainan
  • Tidak berani berpisah dengan orang tua atau saudaranya, walaupun hanya sebentar
  • Sering mengompol walaupun sebelumnya sudah dapat buang air kecil di toilet

Kapan harus ke dokter

Konsultasikan dengan dokter bila muncul ingatan terhadap peristiwa traumatis yang sampai mengganggu aktivitas, terutama bila berlangsung selama 1 bulan atau lebih.

Segera periksakan ke dokter apabila ingatan tentang kejadian traumatis sampai memicu Anda untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, atau jika menimbulkan keinginan untuk melakukan percobaan bunuh diri.

Diagnosis PTSD

Untuk mendiagnosis PTSD, dokter akan menanyakan gejala dan riwayat kesehatan pasien. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tahu apakah gejala yang dialami disebabkan oleh penyakit fisik. Jika tidak terdapat penyakit fisik, dokter akan melakukan pemeriksaan mental pasien.

Seseorang baru dapat dikatakan menderita PTSD bila pernah mengalami kondisi atau peristiwa berikut sebelum gejala muncul:

  • Mengalami peristiwa traumatis secara langsung
  • Menyaksikan peristiwa traumatis yang menimpa orang lain
  • Mendengar bahwa orang terdekat mengalami peristiwa traumatis
  • Berulang kali terbayang pada kejadian traumatis secara tidak sengaja

Untuk dikategorikan sebagai PTSD, gejala yang dialami pascaperistiwa traumatis harus berlangsung selama 1 bulan atau lebih. Seseorang juga dapat dinyatakan mengalami PTSD apabila gejala telah mengganggu aktivitas sehari-hari, terutama dalam hubungan sosial dan pekerjaan.

Pengobatan PTSD

Pengobatan PTSD bertujuan untuk meredakan respons emosi pasien dan mengajarkan pasien cara mengendalikan diri dengan baik ketika teringat pada kejadian traumatis. Metode pengobatan yang dapat dilakukan meliputi:

Psikoterapi

Psikoterapi merupakan pilihan pertama dalam mengatasi PTSD. Jika gejala yang dialami pasien tergolong parah, dokter akan menggabungkan psikoterapi dan obat-obatan.

Psikoterapi dapat dilakukan secara individual atau berkelompok dengan pasien PTSD lain. Ada beberapa jenis psikoterapi yang biasanya digunakan untuk mengatasi PTSD, yaitu:

  • Terapi perilaku kognitif, untuk mengenali dan mengubah pola pikir pasien yang negatif menjadi positif
  • Terapi eksposur, untuk membantu pasien menghadapi keadaan dan ingatan yang memicu trauma secara efektif
  • Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR), untuk mengarahkan fokus pasien ke suara atau gerakan benda tertentu saat mengingat kejadian traumatis

Obat-obatan

Obat-obatan yang diberikan untuk mengatasi gejala PTSD tergantung pada gejala yang dialami pasien, seperti:

  • Antidepresan, seperti sertraline dan paroxetine, untuk mengatasi depresi
  • Anticemas, untuk mengatasi kecemasan
  • Prazosin, untuk mencegah mimpi buruk

Dokter akan meningkatkan dosis bila obat tidak efektif dalam mengatasi gejala. Sebaliknya, jika terbukti efektif, obat akan terus diberikan setidaknya sampai 1 tahun, kemudian dihentikan secara bertahap.

Komplikasi PTSD

PTSD bisa mengganggu kehidupan penderitanya, baik di lingkup keluarga, orang terdekat, atau pekerjaan. Jika tidak ditangani dengan tepat, penderita PTSD juga berisiko menderita gangguan mental lain, seperti:

Penderita PTSD juga dapat memiliki keinginan untuk melukai diri sendiri, bahkan bunuh diri.

Pencegahan PTSD

PTSD tidak bisa dicegah, tetapi ada beberapa cara yang dapat dilakukan bila Anda mengalami kejadian traumatis, misalnya:

  • Bicarakan kepada keluarga, teman, atau terapis mengenai kejadian traumatis yang Anda alami.
  • Konsultasikan ke dokter jika Anda tidak dapat mengatasi perasaan yang timbul setelah mengalami kejadian tidak menyenangkan.

Pentingnya Kebersihan Rumah untuk Menjaga Kesehatan Keluarga - PubMed



Pentingnya Kebersihan Rumah untuk Menjaga Kesehatan Keluarga

Mewujudkan keluarga yang sehat harus dimulai dari menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal. Dengan tempat tinggal yang bersih, Anda dan anggota keluarga dapat terhindar dari berbagai penyakit. Oleh karena itu, kebersihan rumah perlu dijaga, dan ini merupakan tanggung jawab setiap anggota keluarga.

Memiliki rumah yang bersih dan sehat merupakan impian setiap orang. Namun kenyataannya, masih banyak orang yang tinggal dalam rumah yang kotor dan tidak memenuhi standar kesehatan. Padahal, kondisi rumah seperti ini dapat menjadi tempat bagi virus, kuman, dan hama penyakit, seperti kecoa dan tikus,  untuk berkembang biak, sehingga penghuninya dapat dengan mudah terkena berbagai penyakit, seperti diare, tifus, dan demam berdarah dengue (DBD).

Berbagai Tempat di Rumah yang Perlu Dibersihkan

Meskipun rumah sudah dibersihkan secara rutin, namun kadang masih ada beberapa tempat yang luput dari perhatian, sehingga terlewat untuk dibersihkan. Padahal, ruangan-ruangan ini dapat menyimpan berbagai jenis kuman penyebab penyakit yang bisa membahayakan kesehatan keluarga.

Berikut ini adalah tempat-tempat yang perlu lebih Anda perhatikan ketika sedang membersihkan rumah:

  • Kamar tidur
    Siapa yang menyangka bila kamar tidur tempat Anda dan keluarga beristirahat bisa menjadi sarang kuman. Kamar tidur yang tidak dibersihkan secara rutin dapat menimbun debu dan memungkinkan kuman, tungau, serta jamur untuk tumbuh. Berbagai sumber penyakit tersebut dapat hidup dan berkembang biak di mainan anak, karpet, bantal, atau tempat tidur.
    Akibatnya, Anda dan keluarga akan lebih mudah terkena berbagai penyakit, seperti flu, batuk, dan alergi. Untuk mencegah hal itu terjadi, rutinlah mengganti sarung bantal dan sprei minimal dua minggu sekali, guna menghindari pertumbuhan kuman. Pastikan juga untuk membersihkan mainan anak, mengingat sistem imun tubuh anak-anak belum berkembang sempurna.
  • Kamar mandi
    Bukan rahasia lagi bila kamar mandi merupakan area paling kotor di antara bagian rumah yang lain. Suhu yang cenderung hangat dan lembap memungkinkan bakteri serta jamur tumbuh.
    Toilet/kloset, bak mandi, lantai kamar mandi, pegangan toilet, serta tirai shower merupakan bagian-bagian di kamar mandi yang perlu Anda bersihkan secara rutin. Sebab, area atau benda-benda ini mudah sekali menjadi tempat berkembangbiaknya kuman. Untuk membunuh dan mencegah pertumbuhan kuman, kamar mandi perlu dibersihkan dengan cairan pembasmi kuman.
  • Dapur
    Selain kamar mandi, dapur juga merupakan tempat yang sempurna bagi kuman untuk tumbuh subur. Sebuah penelitian bahkan menemukan bahwa alat-alat dapur yang digunakan untuk mengolah makanan memiliki bakteri Salmonella dan E. colilebih banyak, dibandingkan gagang keran di kamar mandi.
    Spons pencuci piring, serbet, dan talenan adalah benda-benda yang perlu Anda bersihkan setiap kali akan digunakan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kontaminasi bakteri dan kuman ke makanan maupun ke peralatan masak lainnya. Jika perlu, gunakan cairan pembersih khusus untuk membasmi kuman di dapur.

Selain membersihkan ruangan-ruangan tersebut, Anda juga harus menempatkan sistem ventilasi di setiap ruangan. Ventilasi memungkinkan adanya sirkulasi udara di dalam rumah, sehingga rumah tidak menjadi lembap. Dengan  begitu, kuman, bakteri, maupun jamur tidak mudah tumbuh. Jika kondisi rumah tidak memungkinkan untuk pemasangan ventilasi, Anda bisa menggunakan ventilasi mekanik, seperti kipas angin atau exhaust fan.

Pengaruh Kebersihan Rumah terhadap Kebersihan Diri dan Makanan

Tidak hanya kebersihan rumah, kebersihan diri setiap anggota keluarga dan kebersihan makanan yang dikonsumsi juga perlu diperhatikan. Jika tidak, kuman penyebab penyakit tetap dapat menyerang masuk dan menimbulkan berbagai masalah kesehatan, seperti mual, muntah, sakit perut, bahkan keracunan.

Terlebih lagi, bila kebersihan rumah tidak terjaga. Virus dan bakteri dari tempat-tempat yang kotor di dalam rumah dapat menyebar dan menempel pada permukaan tubuh, khususnya tangan. Selain itu, kuman juga dapat berpindah ke makanan, terutama bila kebersihan dapur tidak dijaga dengan baik.

Supaya hal tersebut tidak terjadi, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan, yaitu:

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air
    Tangan rentan terkontaminasi oleh kuman. Jadi, sangat penting untuk mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan, juga sebelum mengolah dan menyiapkan makanan. Gunakan sabun dan air bersih yang mengalir untuk membersihkan seluruh permukaan tangan.
  • Membersihkan permukaan dapur dan talenan
    Pastikan Anda selalu membersihkan permukaan dapur dan talenan, baik sebelum maupun sesudah memasak. Anda bisa menggunakan sabun dan air hangat untuk membersihkan permukaan dapur dan talenan.
  • Mencuci buah dan sayuran
    Selalu cuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi ataupun dimasak. Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang mungkin masih menempel pada permukaan buah dan sayur. Anda juga bisa menggunakan cairan pembersih khusus untuk makanan yang dapat membunuh kuman dan bakteri.
  • Memisahkan makanan mentah dengan makanan matang
    Jangan pernah menaruh makanan yang sudah dimasak di piring yang sama untuk mengolah bahan makanan mentah. Ini bertujuan untuk menghindari kontaminasi kuman pada makanan. Selain itu, selalu gunakan talenan bersih yang berbeda untuk bahan makanan mentah dan untuk makanan yang sudah matang atau siap santap. Segera cuci talenan setelah selesai digunakan, hingga benar-benar bersih.
  • Melakukan disinfeksi ruangan secara rutin
    Anda juga dianjurkan untuk melakukan disinfeksi ruangan secara rutin. Ada berbagai jenis cairan pembersih yang bisa digunakan untuk membunuh kuman dan salah satunya adalah disinfektan. Anda dapat menggunakan disinfektan dalam bentuk botol untuk membersihkan ruangan dan permukaan perabot rumah. Bila memungkinkan, cobalah gunakan disinfektan yang memiliki kandungan alkohol setidaknya 60% agar lebih efektif dalam membunuh kuman. Pastikan pula untuk menggunakan sarung tangan ketika menggunakan disinfektan, ya.

Untuk menjaga kebersihan rumah dan perabot rumah tangga, termasuk alat-alat dapur, ada berbagai jenis cairan pembersih yang dapat Anda gunakan. Beberapa di antaranya bahkan memiliki kemampuan untuk membunuh kuman. Namun jangan lupa, selalu perhatikan cara penggunaannya agar hasilnya efektif.

Mulai sekarang, biasakan untuk membersihkan rumah secara teratur dan menyeluruh, supaya Anda dan keluarga dapat terhindar dari berbagai penyakit. Jangan lupakan tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas, karena tempat-tempat tersebut rentan ditinggali oleh kuman.


Dokter Kandungan - Buat Janji Mudah dan Cepat | PubMed



Dokter Kandungan - Buat Janji Mudah dan Cepat

Apa itu Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi?

Kata obstetri dan ginekologi memiliki arti yang berbeda. Obstetri adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus mempelajari tentang kehamilan dan persalinan. Cabang ilmu kedokteran ini berfokus pada perawatan dan pemeliharaan kesehatan ibu hamil dan janin selama masa kehamilan hingga proses persalinan. Sedangkan ginekologi adalah cabang ilmu kedokteran yang khusus mempelajari masalah seputar sistem reproduksi wanita. Dengan kata lain, seorang dokter spesialis obstetri dan ginekologi adalah dokter yang menangani masalah seputar kesehatan wanita dan kehamilan.

Seorang Dokter Kandungan harus menyelesaikan pendidikan dokter umum terlebih dahulu, kemudian melanjutkan pendidikannya pada Program Pendidikan Dokter Spesialis di bidang obstetri dan ginekologi. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut dokter akan meraih gelar spesialis obstetri dan ginekologi (SpOG)

Setelah itu, Dokter SpOG bisa melanjutkan pendidikannya sebagai konsultan dan memilih di antara lima bidang subspesialisasi, meliputi Uroginekologi dan Bedah Rekonstruksi Panggul, Kedokteran Fetomaternal, Onkologi ginekologi, Obstetri-Ginekologi Sosial, serta Fertilitas-Endokrinologi Reproduksi.

Penyakit Apa Saja yang dapat Ditangani oleh Dokter Obgyn?

Beragam gangguan pada sistem reproduksi wanita, kehamilan, dan juga persalinan, meliputi:

  1. Masalah seputar kesehatan wanita
  • Mengatasi masalah seputar menstruasi.
  • Pengobatan penyakit menular seksual.
  • Gangguan terkait kesehatan seksual, seperti masalah pada libido, nyeri saat berhubungan seksual, dan vagina kering.
  • Memeriksa dan mengobati masalah kesuburan.
  • Menangani masalah seputar menopause.
  • Mengatasi dan mengobati kondisi medis terkait sistem reproduksi wanita, seperti PCOS, radang panggul, mioma rahim, kista ovarium, kanker rahim, kanker serviks, kanker ovarium, dan endometriosis.
  • Mendiagnosis dan mengobati gangguan hormonal yang memengaruhi reproduksi wanita.
  • Pemeriksaan dan pengobatan keputihan yang tidak normal.

2. Masalah seputar kehamilan, persalinan, dan post partum

  • Konsultasi kehamilan dan perawatan prenatal (sebelum melahirkan).
  • Mendeteksi dan menangani masalah dalam kehamilan, seperti diabetes gestasional, preeklamsia dan eklamsia, kehamilan ektopik, plasenta letak rendah, kelainan janin di dalam kandungan, atau keguguran.
  • Penanganan terkait pendarahan pasca persalinan.
  • Menangani kegawatdaruratan dalam persalinan, misalnya gawat janin, lilitan tali pusat, dan infeksi cairan ketuban.
  • Perawatan setelah melahirkan (postpartum).
  • Program bayi tabung.

Berapa Biaya Konsultasi Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi?

Biaya untuk melakukan konsultasi dengan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) atau dokter kandungan, sangat bervariasi, tergantung di rumah sakit mana dokter tersebut praktik. Bila Anda berniat untuk berkonsultasi dengan dokter kandungan, Anda harus mempersiapkan biaya sekitar Rp. 150.000,- hingga Rp. 500.000,-. Akan tetapi, Anda dianjurkan untuk membawa dana lebih karena mungkin ada biaya tambahan lainnya yang dibutuhkan.

Apa Tindakan Medis yang dapat Dilakukan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi?

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi terlatih untuk melakukan berbagai tindakan medis untuk menolong persalinan, melakukan tindakan pembedahan, dan memberikan penanganan untuk mengatasi berbagai gangguan pada sistem reproduksi wanita. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan yaitu:

  • Pemeriksaan organ reproduksi wanita, termasuk pemeriksaan fisik seperti pemeriksaan panggul, dan pemeriksaan penunjang seperti USG rahim dan USG transvaginal.
  • Deteksi dini kanker pada organ reproduksi wanita, seperti kanker serviks dan kanker ovarium.
  • Biopsi rahim atau leher rahim, seperti pap smear.
  • Konsultasi terkait alat kontrasepsi dan vaksinasi HPV untuk mencegah kanker serviks.
  • Proses persalinan, baik normal maupun dengan operasi caesar, dan perawatan setelahnya.
  • Dilatasi dan kuretase (kuret).
  • Tindakan pembedahan, seperti histerektomi atau pengangkatan Rahim, dan miomektomi atau pengangkatan mioma uteri dalam rahim.
  • Ligasi tuba untuk sterilisasi pada wanita.
  • Dokter spesialis Obgyn konsultan fertilitas dapat melakukan tindakan inseminasi buatan atau bayi tabung untuk membantu mengupayakan terjadinya kehamilan.

Kapan Seharusnya Anda ke Dokter Obgyn?

Sebenarnya, Anda dianjurkan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan rutin setiap satu hingga lima tahun sekali, terlebih jika Anda sudah aktif melakukan hubungan seksual. Namun, Anda disarankan untuk segera memeriksakan diri jika mengalami beberapa hal berikut ini:

  • Perubahan pada siklus menstruasi.
  • Keluhan atau gangguan selama kehamilan.
  • Menopause dan gejala yang terkait.
  • Sulit hamil setelah beberapa tahun mencoba melakukan program hamil.
  • Terdapat perdarahan vagina di luar siklus menstruasi.

Beberapa gejala yang dapat terjadi terkait gangguan kesehatan organ kewanitaan yaitu perubahan volume atau frekuensi pada siklus menstruasi, kram perut yang tidak biasa, nyeri saat buang air kecil, dan nyeri ketika berhubungan seksual.

Apa yang Harus Dipersiapkan Sebelum ke Dokter Obgyn?

Dokter Obgyn perlu mengetahui dengan jelas keluhan apa yang Anda alami. Oleh karena itu, dokter akan menanyakan beberapa hal secara rinci untuk mendapatkan data kesehatan Anda.

Jangan malu dan ragu untuk menceritakan semua yang Anda alami, terkait masalah kesehatan reproduksi, kehamilan, persalinan, menstruasi, bahkan kegiatan seksual Anda. Sebelum menemui dokter, catat berbagai masalah atau keluhan yang Anda alami.

Dalam memilih Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, ada baiknya Anda bertanya dan mendapatkan rekomendasi dari orang terpercaya, cari tahu bagaimana pengalaman dan penilaian dari beberapa pasien yang pernah ditangani oleh dokter yang Anda pilih, apakah dokter tersebut memiliki kepribadian yang baik dan membuat Anda merasa nyaman, serta berapa biayanya. 


Dismenore (Nyeri Haid) - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed



Dismenore (Nyeri Haid) - Gejala, penyebab dan mengobati

Dismenore atau nyeri haid adalah nyeri atau kram di perut bagian bawah yang muncul sebelum atau s aat menstruasi. Dismenore dapat bersifat ringan, tetapi juga bisa parah sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dismenore terbagi dalam dua jenis, yaitu primer dan sekunder. Dismenore primer merupakan kram yang muncul sebelum atau selama menstruasi, kemudian hilang seiring periode menstruasi berakhir.

Nyeri Haid-PubMed

Sementara dismenore sekunder adalah dismenore akibat gangguan pada organ reproduksi. Penderita dismenore sekunder akan merasakan kram lebih lama dari dismenore primer.

Kram pada dismenore sekunder terasa lebih parah seiring berjalannya menstruasi. Pada beberapa kasus, kram tetap dirasakan meski menstruasi sudah berakhir.

Gejala dan Komplikasi Dismenore

Gejala utama dismenore adalah kram di perut bagian bawah. Gejala ini merupakan hal yang normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Seiring bertambahnya usia, dismenore akan menghilang secara bertahap.

Meski jarang menimbulkan komplikasi, gejala dismenore dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Khusus pada dismenore yang disebabkan oleh penyakit tertentu, dapat muncul komplikasi berupa:

Pengobatan dan Pencegahan Dismenore

Dismenore dapat diatasi secara mandiri dengan memberikan kompres hangat di perut, mandi air hangat, atau mengonsumsi obat pereda nyeri. Namun, jika dismenore terasa parah, pengobatan perlu dilakukan oleh dokter.

Kram saat menstruasi merupakan hal yang normal. Namun, perburukan kram saat haid dapat dicegah dengan melakukan upaya berikut:

  • Berolahraga secara rutin, minimal 30 menit setiap hari
  • Beristirahat dan tidur yang cukup
  • Mengonsumsi makanan bergizi lengkap dan seimbang
  • Membatasi konsumsi kafein, terutama saat dekat waktu haid
  • Tidak merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol
  • Mengelola stres, antara lain dengan melakukan teknik relaksasi

Medical Check Up, Ini yang Harus Anda Ketahui - PubMed



Medical Check Up, Ini yang Harus Anda Ketahui

Medical check up adalah pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh. Melalui pemeriksaan ini, diharapkan gangguan kesehatan tertentu bisa terdeteksi sejak dini. Medical check up juga bisa dimanfaatkan oleh dokter untuk merencanakan metode pengobatan yang tepat sesuai kondisi pasien.

M edical check up diawali dengan tanya jawab, yang meliputi keluhan, riwayat penyakit, dan gaya hidup pasien. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan pada tanda-tanda vital tubuh, seperti suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung, dilanjutkan dengan pemeriksaan kondisi fisik secara umum.

Tujuan dan Indikasi Medical Check Up

Medical check up dapat membantu dokter untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien secara menyeluruh. Berikut ini adalah tujuan dilakukannya medical check up:

  • Mengetahui gangguan kesehatan yang mungkin diderita pasien agar dapat tertangani lebih awal
  • Mendeteksi penyakit yang tidak disertai gejala
  • Menilai risiko penyakit yang mungkin bisa muncul di kemudian hari
  • Mendorong pasien untuk beralih ke gaya hidup sehat
  • Memastikan kondisi kesehatan pasien sebelum menjalani pengobatan tertentu

Walau tidak diwajibkan, medical check up dianjurkan untuk dilakukan secara rutin, terutama jika pasien memiliki faktor risiko terhadap penyakit tertentu. Melalui pemeriksaan ini, pasien juga dapat berkonsultasi kepada dokter mengenai kondisi kesehatannya tanpa harus menunggu timbulnya gejala penyakit.

Medical check up disarankan untuk dilakukan setiap 1 tahun sekali, terutama bagi orang yang berusia di atas 50 tahun. Sementara untuk pasien yang sedang menjalani pengobatan, medical check up bisa dilakukan sesuai jadwal yang ditentukan oleh dokter.

Peringatan dan Larangan Medical Check Up

Sebelum menjalani medical check up, penting untuk menginformasikan kepada dokter mengenai hal-hal berikut ini:

  • Keluhan atau gejala yang dialami
  • Obat-obatan yang sedang digunakan, termasuk suplemen dan produk herbal
  • Riwayat kesehatan pasien dan keluarga, riwayat operasi, hasil tes, dan perawatan dokter yang pernah dijalani
  • Diet yang sedang dilakukan
  • Peralatan medis yang ditanam di dalam tubuh, seperti alat pacu jantung

Jika Anda memiliki perangkat yang ditanam di dalam tubuh, bawa salinan bagian depan dan belakang kartu perangkat Anda sebagai bukti. Anda juga sebaiknya membuat daftar pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada dokter agar tidak ada yang terlewat.

Sebelum Medical Check Up

Sebelum menjalani medical check up, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Pasien disarankan untuk membawa hasil pemeriksaan medis, misalnya foto Rontgen.

Pasien juga perlu menanyakan kepada dokter mengenai puasa yang perlu dilakukan, atau penggunaan obat-obatan yang harus dihentikan sementara.

Persiapan yang akan dilakukan oleh dokter adalah memberikan kuesioner yang berisi daftar pertanyaan yang mengacu pada kondisi kesehatan pasien. Setelah mengisi kuesioner, pasien perlu memberi tahu dokter mengenai daftar obat, suplemen, atau produk herbal yang sedang digunakan.

Pasien disarankan untuk mengenakan pakaian yang nyaman dan tidak menggunakan perhiasan, riasan, atau aksesoris lain, yang dapat menghambat pemeriksaan. Pasien juga dianjurkan untuk meminta ditemani keluarga atau kerabat dekat ketika menjalani medical check up.

Prosedur Medical Check Up

Bentuk-bentuk tes dalam medical check up sangat bervariasi. Tes yang dilakukan akan disesuaikan dengan usia, jenis kelamin, dan kondisi kesehatan pasien. Berikut adalah beberapa tes atau pemeriksaan yang dapat dilakukan dalam medical check up:

1. Pemeriksaan riwayat kesehatan

Pada tahap awal medical check up, dokter akan melakukan tanya jawab seputar keluhan yang dialami, serta riwayat kesehatan pasien dan keluarganya.

Dokter juga akan mengajukan beberapa pertanyaan mengenai gaya hidup, seperti pola makan, intensitas olahraga, serta kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.

2. Pemeriksaan tanda vital

Tanda-tanda vital yang diperiksa dalam medical check up di antaranya:

  • Frekuensi denyut jantung
    Denyut jantung normal adalah 60–100 kali per menit.
  • Frekuensi pernapasan
    Pernapasan normal berkisar antara 12–20 kali per menit.
  • Suhu tubuh
    Suhu tubuh normal rata-rata berkisar antara 36–37 derajat Celcius.
  • Tekanan darah
    Tekanan darah yang tergolong normal adalah 90/60–120/80 mmHg.

3. Pemeriksaan fisik

Pada saat pemeriksaan fisik, pasien akan diminta untuk berdiri, duduk, atau berbaring, tergantung pada bagian tubuh yang akan diperiksa.

Pemeriksaan fisik biasanya dimulai dengan mengukur berat dan tinggi badan pasien, untuk mengetahui apakah pasien kekurangan atau kelebihan berat badan. Setelah itu, dokter akan memeriksa seluruh tubuh, mulai dari kepala hingga kaki.

Dalam pemeriksaan menyeluruh, dokter mungkin akan mengawalinya dengan melihat apakah ada kelainan di kulit, rambut, atau kuku, serta menekan atau mengetuk bagian tubuh tertentu. Bila muncul nyeri saat bagian tubuh tertentu ditekan atau diketuk, beri tahu hal tersebut kepada dokter.

Selanjutnya, dokter akan memeriksa mata, hidung, telinga, hingga organ. Dokter akan menggunakan alat bantu yang disebut otoskop untuk memeriksa kondisi telinga dan stetoskop guna mendengar bunyi jantung, paru-paru, dan saluran pencernaan.

Pada pemeriksaan kekuatan otot, diperlukan kerja sama dari pasien untuk melakukan gerakan tertentu sesuai arahan dokter. Bila kurang mengerti dengan arahan yang diberikan, jangan ragu untuk bertanya.

Kondisi kelamin juga akan diperiksa dalam pemeriksaan fisik. Pada laki-laki, penis dan testis akan diperiksa untuk mendeteksi infeksi, peradangan, atau perubahan ukuran. Sementara untuk memeriksa prostat, dokter akan melakukan pemeriksaan colok dubur guna mendeteksi ada tidaknya pembesaran ukuran kelenjar prostat.

Pada wanita, organ panggul yang meliputi vagina, vulva, serviks, ovarium, dan rahim, akan diperiksa untuk mendeteksi infeksi menular seksual atau gangguan kesehatan lain.

Sementara itu, untuk mendeteksi tumor atau kanker payudara, dokter akan melihat dan menekan area payudara. Dokter juga bisa memeriksa kondisi kelenjar getah bening dengan meraba area lipatan, seperti ketiak atau lipat paha, untuk mengetahui tanda-tanda benjolan pada area tersebut.

4. Pemeriksaan penunjang

Selain pemeriksaan di atas, beberapa pemeriksaan penunjang di bawah ini juga dapat dilakukan untuk memperkuat diagnosis:

  • Pemeriksaan laboratorium
    Pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan dengan mengambil sampel darah, urine, atau tinja, untuk melihat jumlah sel darah, kadar kolesterol, gula darah, atau zat kimia yang menjadi penanda fungsi organ. Pengambilan sampel tersebut juga dapat digunakan untuk mendeteksi kelainan pada urine dan tinja.
  • Pemindaian
    Pemindaian, seperti USG dan foto Rontgen, digunakan untuk melihat kondisi organ dalam agar lebih jelas. Organ yang dapat diperiksa antara lain paru-paru, hati, pankreas, ginjal, limpa, kandung kemih, prostat, dan rahim. Pada wanita, mammografi atau USG payudara dilakukan untuk mendeteksi tumor payudara.
  • Pemeriksaan rekam jantung
    Rekam jantung atau elektrokardiografi (EKG) bertujuan untuk merekam aktivitas listrik jantung dengan menempelkan elektroda di kulit dada, lengan, dan tungkai. Pemeriksaan EKG dapat dilakukan dalam posisi berbaring atau saat melakukan aktivitas, seperti berlari di atas mesin treadmill.
  • Pap smear
    Bagi wanita usia 21 tahun ke atas dan sudah pernah berhubungan seksual, pap smear disarankan untuk dilakukan setiap 3 tahun guna mendeteksi kanker serviks sejak dini. Setelah usia 30 tahun, pap smear cukup dilakukan setiap 5 tahun, lalu setelah usia 65 tahun, pap smear tidak perlu dilakukan bila tidak menimbulkan keluhan.

Setelah Medical Check Up

Setelah menjalani medical check up, pasien biasanya diperbolehkan untuk pulang dan beraktivitas seperti biasa. Dokter akan menghubungi pasien kembali setelah seluruh hasil tes diperoleh dan menjelaskan secara rinci mengenai hasil tersebut.

Bila ditemukan kelainan pada hasil medical check up, pasien akan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut atau menjalani pengobatan. Dokter juga akan menyarankan pasien untuk menerapkan pola hidup sehat, baik bila ditemukan kelainan maupun tidak, seperti:

  • Mengonsumsi makanan sehat
    Perbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan, serta batasi konsumsi makanan berlemak.
  • Berolahraga secara rutin
    Sediakan waktu untuk berolahraga setidaknya 30 menit per hari, misalnya dengan berjalan kaki atau berlari santai, untuk menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
  • Tidak merokok
    Tidak merokok atau menghentikan kebiasaan merokok dapat menurunkan risiko terjadinya berbagai penyakit, seperti stroke, penyakit jantung, penyakit paru-paru, dan pengeroposan tulang.

Efek Samping Medical Check Up

Setiap pemeriksaan dalam medical check up memiliki manfaat, tetapi juga berisiko menimbulkan efek samping walaupun jarang. Sebagai contoh, foto Rontgen dapat membuat tubuh terpapar radiasi meskipun dalam jumlah yang sangat kecil.

Selain itu, pengambilan sampel darah dapat menimbulkan nyeri dan rasa tidak nyaman. Oleh karena itu, dokter akan menilai keuntungan dan kerugian dari tiap pemeriksaan.


Lymphedema - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed



Lymphedema - Gejala, penyebab dan mengobati

L imfedema atau l ymphedema adalah pembengkakan tungkai atau lengan yang disebabkan oleh penyumbatan di pembuluh getah bening . Pembengkakan ini bisa menyebabkan penderitanya sulit bergerak .

Cairan getah bening merupakan salah satu bagian dari sistem limfatik yaitu sistem pertahanan tubuh yang berperan membasmi infeksi. Dalam menjalankan fungsinya, cairan getah bening (cairan limfe) akan beredar di dalam pembuluh getah bening.

Limfedema - alodokter

Ketika terjadi kerusakan pembuluh getah bening, aliran cairan getah bening akan tersumbat dan mengakibatkan pembengkakan di bagian tubuh tertentu.

Penyebab Lymphedema

Limfedema paling sering terjadi pada penderita kanker. Pertumbuhan sel kanker di sekitar pembuluh atau kelenjar getah bening dapat membuat saluran getah bening tersumbat sehingga menghambat aliran cairan getah bening.

Tidak hanya penyakitnya, pengobatan kanker itu sendiri, seperti radioterapi atau operasi pengangkatan tumor, juga dapat merusak saluran getah bening.

Di samping itu, limfedema juga bisa dialami oleh penderita kaki gajah akibat infeksi cacing filaria.

Beberapa penyakit genetik yang menyebabkan kelainan pada struktur pembuluh getah bening (pembuluh limfe) juga dapat menyebabkan limfedema. Kelainan tersebut dapat menyebabkan cairan limfe tersumbat dan mengalami penumpukan. Beberapa penyakit genetik juga dapat menyebabkan limfedema, di antaranya:

  • Penyakit Meige (Meige’s disease)
  • Penyakit Milroy (Milroy’s disease)
  • Limfedema tarda

Selain akibat faktor-faktor di atas, seseorang juga berisiko terkena limfedema bila mengalami obesitas, menderita psoriasis arthritis atau rheumatoid arthritis, serta berusia lanjut.

Gejala Lymphedema

Gejala imfedema adalah pembengkakan di tungkai dan lengan. Pembengkakan ini bisa ringan dan tidak disadari oleh penderitanya. Namun, pada kasus yang berat, tungkai atau lengan yang membengkak bisa terasa nyeri, berat, atau kaku, hingga menyebabkan penderitanya sulit bergerak.

Penyumbatan dan pembengkakan ini dapat menimbulkan masalah dan gejala lain, seperti:

Kapan harus ke dokter

Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami pembengkakan di tungkai atau lengan meski ukurannya masih kecil. Penanganan segera perlu dilakukan untuk mencegah lengan atau tungkai bertambah besar.

Penderita kanker berisiko terserang limfedema, baik karena kanker itu sendiri maupun akibat efek samping dari pengobatan kanker. Oleh sebab itu, penderita kanker harus rutin memeriksakan diri ke dokter selama menjalani pengobatan.

Penderita kanker juga perlu berdiskusi lebih lanjut dengan dokter onkologi terkait manfaat dan risiko dari pengobatan yang akan dijalani. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi efek samping pengobatan, seperti limfedema.

Pada orang yang telah didiagnosis menderita limfedema, waspadai dan segera periksakan diri ke dokter jika muncul gejala infeksi. Infeksi yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi dan kematian jaringan. Beberapa gejala infeksi yang harus diwaspadai adalah:

  • Demam
  • Kulit kemerahan, bengkak, dan terasa nyeri
  • Kulit terasa hangat ketika disentuh

Diagnosis Lymphedema

Untuk mendiagnosis limfedema, dokter akan terlebih dahulu menanyakan gejala yang dialami pasien, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik. Dokter juga akan menanyakan riwayat kesehatan pasien, misalnya apakah pasien menderita kanker atau sedang menjalani pengobatan kanker.

Apabila penyebabnya belum jelas, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang guna melihat gambaran pembuluh getah bening secara lebih jelas. Pemeriksaan yang umumnya dilakukan adalah pemindaian, baik dengan USG, CT scan, maupun MRI.

Dokter juga dapat melakukan pemindaian dengan pemeriksaan nuklir atau disebut juga lymphoscintigraphy. Lymphoscintigraphy merupakan teknik pemindaian saluran getah bening dengan didahului penyuntikan cairan radioaktif.

Pengobatan Lymphedema

Pengobatan limfedema bertujuan untuk meredakan gejala yang diderita oleh pasien dan mengurangi pembengkakan. Tujuan lainnya adalah untuk mencegah infeksi dan mencegah pembengkakan makin parah. Metode yang dapat dilakukan oleh dokter meliputi:

Terapi mandiri

Beberapa terapi yang digunakan untuk mengatasi limfedema secara mandiri di rumah adalah:

  • Memosisikan tungkai atau lengan yang bermasalah lebih tinggi daripada jantung saat berbaring, untuk meredakan nyeri atau gejala
  • Berolahraga ringan untuk melenturkan otot yang bermasalah dan membantu mengurangi cairan getah bening yang menumpuk
  • Berhati-hati saat menggunakan benda tajam agar lengan atau tungkai tidak terluka
  • Menjaga kebersihan bagian tubuh yang bengkak serta tidak berjalan tanpa alas kaki

Terapi khusus

Sejumlah terapi khusus yang dapat dilakukan untuk mengatasi limfedema antara lain:

  • Pneumatic compression, yaitu alat yang dililitkan di lengan dan tungkai untuk memompa dan memberikan tekanan secara berkala sehingga cairan getah bening bisa mengalir lebih lancar
  • Compression garments, yaitu stoking khusus yang berfungsi menekan lengan atau kaki yang bermasalah agar cairan limfe dapat keluar
  • Manual lymph drainage, yaitu teknik pijat manual yang dilakukan oleh tenaga medis untuk melancarkan aliran cairan limfe
  • Complete d econgestive t herapy (CDT), yaitu kombinasi beberapa jenis terapi yang disertai penerapan pola hidup sehat

Obat-obatan

Jika terjadi infeksi di kulit atau jaringan lain yang mengalami gangguan akibat limfedema, dokter akan meresepkan antibiotik untuk meredakan gejala dan mencegah bakteri menyebar ke pembuluh darah.

Selain itu, obat lain seperti obat retinoid atau obat cacing diethylcarbamazine, juga dapat diberikan oleh dokter sesuai dengan penyebab limfedema.

Operasi

Pada kasus yang parah, operasi dapat dilakukan untuk mengeluarkan kelebihan cairan atau untuk mengangkat jaringan. Namun, perlu diketahui bahwa prosedur operasi hanya dapat meredakan gejala dan tidak memulihkan limfedema secara total.

Operasi lebih bertujuan untuk membuang jaringan yang mengalami pembengkakan akibat penumpukan jaringan, terutama di jaringan bawah kulit dan jaringan lemak di area yang bermasalah.

Jika diperlukan, pasien dapat menjalani pengangkatan kulit, terutama yang sudah mengalami infeksi dan pembusukan. Pasien akan menjalani operasi cangkok kulit untuk mengganti kulit yang hilang akibat operasi.

Saluran getah bening yang sudah rusak dan tersumbat sering kali tidak bisa kembali normal. Akan tetapi, dengan pengobatan di atas, gejala dapat berkurang dan risiko timbulnya komplikasi akan lebih kecil.

Komplikasi Lymphedema

Limfedema yang tidak ditangani dengan tepat dapat mengakibatkan komplikasi berupa:

  • Infeksi, misalnya selulitis (infeksi di kulit) dan limfangitis (infeksi di pembuluh limfe)
  • Lymphangiosarcoma, yaitu kanker jaringan lunak yang jarang terjadi, tetapi berisiko terjadi pada penderita limfedema
  • Deep vein thrombosis , yaitu penggumpalan darah di pembuluh darah vena dalam, khususnya di paha dan betis

Jika infeksi sudah menyebar dan menyebabkan kematian jaringan, bagian tubuh yang mengalami limfedema juga berisiko untuk diamputasi.

Pencegahan Lymphedema

Ada beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan oleh orang yang berisiko terkena limfedema, antara lain:

  • Menggerakkan kaki atau lengan dengan berolahraga ringan selama 4–6 minggu, jika baru menjalani operasi pengangkatan kelenjar getah bening
  • Menjaga berat badan ideal, untuk mengurangi risiko terjadinya limfedema
  • Mengenakan pakaian longgar, agar darah dan cairan limfe tetap mengalir lancar

Khusus penderita kanker yang akan menjalani radioterapi atau operasi, tanyakan terlebih dahulu kepada dokter onkologi terkait upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terjadinya limfedema.


Pentingnya Melakukan Skrining Awal Kesehatan Mental - PubMed



Pentingnya Melakukan Skrining Awal Kesehatan Mental

Skrining awal kesehatan mental secara berkala perlu dilakukan, apalagi bila memang ada risiko untuk mengalami gangguan mental. Hal ini tidak bisa dianggap remeh karena masalah kesehatan mental yang terlambat terdeteksi bisa menyebabkan buruknya kualitas hidup, bahkan bunuh diri.

Masih banyak orang menganggap skrining atau pemeriksaan awal kesehatan mental hanya perlu dilakukan pada orang yang sudah mengalami gejala gangguan kesehatan mental. Anggapan tersebut tentu salah, karena skrining ini bisa dilakukan siapa saja tanpa harus menunggu munculnya gejala.

Selain itu, pemeriksaan dini atau skrining kesehatan mental penting dilakukan sebagai salah satu bagian dari hidup sehat, tak hanya secara fisik tapi juga psikologis.

Terlebih di masa pandemi COVID-19, di mana banyak orang yang menjadi lebih berisiko terkena masalah kesehatan mental karena rasa cemas dan stres yang berlebihan. Oleh karena itu, penting untuk melakukan skrining awal ini sebagai langkah efektif dalam menjaga kesehatan mental saat pandemi.

Manfaat Skrining Awal Kesehatan Mental

Manfaat skrining awal kesehatan mental pada dasarnya adalah untuk mendeteksi lebih cepat atau menentukan risiko seseorang untuk mengalami gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, gangguan bipolar, gangguan makan, atau gangguan stress pascatrauma (PTSD).

Semakin cepat terdeteksi, semakin baik pula efektivitas penanganan masalah kesehatan mental yang bisa diberikan oleh psikolog dan psikiater. Dengan begitu, risiko terjadinya komplikasi atau masalah yang lebih besar akibat gangguan mental, seperti penggunaan narkoba atau ide bunuh diri bisa dicegah.

Maka dari itu, janganlah ragu untuk rutin melakukan skrining awal kesehatan mental, terutama bila Anda berisiko mengalami masalah kejiwaan, misalnya karena stres berat, sedang mengalami tekanan batin, atau memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mental.

Selain itu, pemeriksaan dini atau skrining awal kesehatan mental juga penting untuk dilakukan pada orang-orang yang mengalami gejala-gejala berikut:

  • Sering merasa cemas, khawatir, atau takut yang berlebihan
  • Suasana hati (mood) cepat berubah dan ekstrem
  • Cepat sedih dan mudah emosi
  • Kurang energi atau kelelahan
  • Merasa diri tidak berharga atau self-esteem rendah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Sulit mengatasi stres
  • Sering menghindari situasi sosial atau komunikasi dengan orang lain
  • Pernah atau berisiko menyakiti diri sendiri (self-harm)
  • Sempat berpikir atau bahkan sudah mencoba untuk bunuh diri

Selain itu, skrining kesehatan mental juga penting dilakukan pada orang yang memilki ketergantungan atau adiksi terhadap narkoba, rokok, minuman beralkohol, atau kebiasaan yang tidak sehat, misalnya berjudi.

Pelaksanaan Skrining Awal Kesehatan Mental

Tes atau skrining kesehatan mental terdiri dari banyak jenis dan metode. Tak hanya bisa dilakukan pada orang dewasa, skrining awal kesehatan mental juga penting dilakukan pada anak-anak dan remaja.

Skrining awal kesehatan mental juga bisa dilakukan secara mandiri dengan menjawab beberapa pertanyaan di situs kesehatan mental. Namun, agar lebih akurat, umumnya pemeriksaan ini dianjurkan untuk dilakukan oleh psikolog atau psikiater.

Dalam pelaksanaan skrining awal kesehatan mental, dokter atau psikolog biasanya akan memulai dengan sesi wawancara (interview) dengan pasien tentang riwayat kesehatannya secara umum, termasuk gejala kesehatan mental yang mungkin sedang dialami.

Selain itu, dokter atau psikolog juga mungkin akan menanyakan tentang riwayat penggunaan obat-obatan atau suplemen, kebiasaan pasien sehari-hari, dan hal apa saja yang membuat pasien merasa terganggu dalam hidupnya akhir-akhir ini.

Jika pasien dinilai memiliki gejala gangguan kejiwaan tertentu atau berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan mental, dokter atau psikolog bisa menyarankan pasien untuk melakukan pemeriksaan medis kejiwaan.

Setelah diagnosisnya dipastikan, pasien baru akan mendapatkan penanganan yang tepat, baik melalui psikoterapi, pemberian obat-obatan, atau keduanya.

Skrining Awal Kesehatan Mental secara Mandiri

Kemajuan teknologi masa kini memang memudahkan banyak orang untuk mengakses beragam informasi, termasuk cara melakukan tes skrining kesehatan mental mandiri secara daring dan gratis.

Biasanya skrining tersebut berupa beberapa pertanyaan yang bisa Anda jawab, lalu hasilnya akan muncul setelah Anda selesai menjawab semua pertanyaan.

Hal tersebut sebenarnya boleh-boleh saja dilakukan. Namun, Anda dianjurkan untuk tetap menunjukkan hasilnya kepada dokter atau psikolog. Hal ini penting agar Anda bisa mendapatkan penjelasan yang akurat dan lebih jelas mengenai kondisi kesehatan mental Anda.

Selain itu, penting untuk dipahami bahwa adanya tes skrining mandiri secara daring bukan berarti Anda bisa mengabaikan peran dokter atau psikolog. Ini karena hasil tes skrining kesehatan mental secara mandiri tidak bisa menjadi patokan untuk menentukan diagnosis atau kondisi mental Anda sepenuhnya.

Untuk mengevaluasi kondisi mental dan mendiagnosis gangguan kejiwaan, tetap diperlukan pemeriksaan oleh psikiater atau psikolog. Oleh karena itu, janganlah ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater bila ingin melakukan tes skrining awal kesehatan mental.


PubMed Media Kesehatan

Search This Blog

Menu Halaman Statis

Featured Post

PTSD - Gejala, penyebab dan mengobati - PubMed

PTSD - Gejala, penyebab dan mengobati ...

Contact Form

Name Email * Message *

Category

Popular Posts